Berita Bekasi Nomor Satu

MinyaKita Ditinggalkan Konsumen di Pasar Baru Bekasi

MINYAK: Pedagang di Pasar Baru, Bekasi Timur menjajakan minyak goreng di lapaknya. SURYA BAGUS/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI –  Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita diusulkan naik. Namun, di pasar harga minyak goreng bersubsidi itu sudah lebih dulu mengalami kenaikan.

Kondisi tersebut membuat MinyaKita mulai ditinggalkan konsumen. Pasalnya, selisih harga antara MinyaKita dengan minyak goreng merek lain tipis.

Karyawan agen sembako di kawasan Pasar Baru Bekasi, Sarif, mengatakan harga MinyaKita sudah sejak sekitar sebulan terakhir naik dari Rp18.000 menjadi Rp21.000 per liter. Selain itu, pasokan MinyaKita juga disebut berkurang.

“Dengan merk yang lain cuma selisih Rp1.000 atau Rp2.000, makanya orang lebih banyak nyari yang merk lain dibanding MinyaKita sekarang,” katanya, Selasa (5/5).

Tak hanya MinyaKita, sejumlah merek minyak goreng lain juga ikut naik harga. Minyak goreng Riski kemasan botol 800 ml naik dari Rp17.000 menjadi Rp19.000. Bimoli satu liter naik dari Rp21.000 menjadi Rp22.000. Sementara Sanco kemasan dua liter naik dari Rp42.000 menjadi Rp45.000.

Kenaikan harga minyak goreng ini disebut telah mempengaruhi penjualan di toko sembako. Konsumen, terutama pedagang kecil seperti penjual gorengan, mengeluh kesulitan untuk menyesuaikan barang dagangan mereka.

“Lumayan juga, apalagi yang tukang gorengan atau pedagang lain yang biasanya Rp18 ribu sekarang jadi Rp21 ribu kan lumayan tuh, mau naikin harga juga bingung,” ucapnya.

Para pedagang berharap harga dan pasokan MinyaKita kembali normal. Pedagang sembako eceran lainnya, Tuti, kini lebih memilih menjual minyak goreng curah dibandingkan minyak kemasan karena harga yang terus naik. Biasanya ia membeli dua jeriken minyak curah, kini hanya satu jeriken.

“Ini (jeriken) isi 16 kg. Biasanya kan dua jeriken, sekarang satu aja nggak papa yang penting ada,” ungkapnya.

Sejauh ini, Tuti mengaku tidak kesulitan mencari persediaan minyak goreng di pasar. Saat ini, ia tidak menjual minyak goreng kemasan termasuk MinyaKita lantaran harganya naik. Belum lagi, ia mendengar pemerintah berencana menaikkan HET MinyaKita.

“Kemarin-kemarin beli semua merk, tapi sekarang beli yang murah-murah aja dari pada cuma nungguin etalase,” tambahnya.

Tidak hanya minyak goreng kata Tuti, hampir semua barang yang ia jual harganya naik.

Belakangan ini pemerintah membuka opsi penyesuaian HET MinyaKita. Wacana kenaikan harga MinyaKita dilatarbelakangi oleh meningkatnya harga minyak sawit (CPO) dan naiknya biaya produksi minyak goreng, HET MinyaKita disebut tidak pernah baik sejak tahun 2024.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bekasi mencatat deflasi sebesar 0,12 persen secara bulan ke bulan (m-tom) pada April 2026. Sementara itu, secara tahun kalender (y-to-d) inflasi tercatat sebesar 1,17 persen dan secara tahunan (y-to-y) inflasi sebesar 2,41 persen.

Secara bulanan atau Maret terhadap April 2026, andil terhadap inflasi salah satunya disumbang oleh minyak goreng. Andil inflasi tertinggi adalah jeruk sebesar 0,03 persen disusul minyak goreng, ikan lele, telepon seluler, dan tarif kereta api masing-masing sebesar 0,02 persen.

Disamping itu, emas menjadi penyumbang deflasi tertinggi sebesar 0,18 persen disusul oleh cabai rawit 0,06 persen, angkutan kota dan telur ayam ras masing-masing sebesar 0,04 persen, dan daging ayam ras sebesar 0,02 persen. (sur)