Berita Bekasi Nomor Satu

Penyandang Disabilitas Adu Strategi Turnamen Catur

CATUR TUNA NETRA : Penyandang disabilitas sensorik netra mengikuti turnamen catur di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi, Kota Bekasi, Kamis (7/5). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suara pelan bidak catur yang bergeser terdengar berulang dari salah satu ruangan di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi Timur, Kota Bekasi. Di ruangan itu, puluhan penyandang disabilitas sensorik netra duduk saling berhadapan sambil meraba papan catur di depan mereka. Namun di balik suasana tenang tersebut, strategi demi strategi sedang dimainkan dengan serius.

Jari-jari para pemain bergerak perlahan menyentuh setiap petak papan catur. Mereka memastikan posisi bidak, mengingat langkah lawan, lalu menyusun kemungkinan langkah berikutnya di dalam kepala.

Bagi para penyandang tuna netra di STPL Bekasi, catur bukan sekadar permainan pengisi waktu. Di atas papan itu, mereka belajar konsentrasi, kesabaran, keberanian mengambil keputusan hingga membangun rasa percaya diri.

Siang itu, STPL Bekasi menggelar turnamen catur tuna netra yang diikuti 22 peserta dari berbagai daerah di Jabodetabek hingga Bandung. Usia peserta pun beragam, mulai dari anak berusia 12 tahun hingga peserta lanjut usia berumur 70 tahun.

“Pesertanya memang dari Jabodetabek dan sekitarnya. Ada juga yang dari Bandung untuk ikut partisipasi,” ujar pelatih catur STPL Bekasi, Toni Budi Santoso

Turnamen tersebut dibuka untuk umum tanpa pembatasan usia. Semua peserta duduk sejajar di depan papan catur khusus tuna netra yang telah dimodifikasi agar mudah dikenali melalui sentuhan tangan.

Papan catur yang digunakan memang berbeda dari biasanya. Setiap bidak memiliki kaki kecil yang ditancapkan ke lubang pada papan agar tidak mudah jatuh saat tersentuh pemain. Sementara itu, petak hitam dibuat timbul dan bidak hitam diberi penanda khusus untuk membedakan warna.

“Kalau kesenggol enggak jatuh. Jadi memang caturnya sudah didesain khusus untuk penyandang disabilitas sensorik netra,” kata Toni.

Menurutnya, perlengkapan tersebut bahkan sudah menjadi standar resmi yang digunakan dalam pertandingan tingkat daerah, nasional hingga internasional.

“Pertandingan tingkat internasional juga pakai catur seperti itu,” ujarnya.

Di balik kemampuan memainkan catur tanpa melihat papan, ada proses latihan panjang yang dijalani para peserta hampir setiap hari. Di STPL Bekasi, pembinaan dilakukan rutin dari Senin hingga Jumat mulai pukul 13.00 hingga sore hari.

Materi yang dipelajari pun tak berbeda dengan atlet profesional lainnya. Para peserta belajar strategi pembukaan, permainan tengah hingga teknik akhir pertandingan.

“Pembukaan, middle sampai ending semua dipelajari. Sama partai-partai Grandmaster internasional juga kita bahas,” kata Toni.

Partai-partai catur para Grandmaster dunia dipelajari langkah demi langkah. Dari notasi sederhana seperti E2-E4, peserta diajak memahami pola permainan dan membaca kemungkinan strategi lawan.

“Biasanya partai-partai Grandmaster kita lihat, terus kita bahas langkah-langkahnya,” ujarnya.

Bagi sebagian peserta, ruang latihan itu bukan hanya tempat bermain catur. Di sana mereka menemukan ruang untuk berkembang sekaligus membangun rasa percaya diri.

Toni mengatakan, olahraga catur menjadi salah satu cabang yang dapat dimainkan bersama antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas tanpa perbedaan.

“Catur ini olahraga yang bisa dimainkan disabilitas dengan non-disabilitas,” katanya.

Menurutnya, perkembangan olahraga catur disabilitas di Indonesia juga cukup pesat. Bahkan pada ajang ASEAN Para Games, cabang olahraga catur disebut menjadi salah satu penyumbang medali emas terbanyak bagi Indonesia.

“Catur termasuk olahraga yang diunggulkan,” ujarnya.

Toni memahami perjuangan para atlet itu. Selain menjadi pelatih, dirinya juga pernah menjadi atlet catur disabilitas dan meraih medali emas pada ajang Pekan Paralimpik Nasional (PEPARNAS) 2016 Jawa Barat.

Kini, pengalamannya diteruskan kepada para peserta di STPL Bekasi. Ia mengaku tak mengalami kesulitan berarti dalam melatih para atlet disabilitas karena proses pembelajaran dilakukan secara bertahap.

“Pelan-pelan bisa disesuaikan,” katanya.

Di tengah ruangan latihan, permainan terus berlangsung. Para pemain tampak serius meraba papan sambil mengingat langkah demi langkah permainan.

Mereka mungkin tak melihat papan seperti kebanyakan orang. Namun lewat sentuhan dan ingatan, mereka mampu membaca permainan dengan ketajaman strategi yang tak kalah hebat.

Di setiap bidak yang bergerak, ada semangat yang terus hidup bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi. (rez)