RADARBEKASI.ID, BEKASI — Rupiah yang terperosok hingga menembus Rp17.600 per dolar AS mulai memukul dunia usaha di Bekasi. Harga bahan baku impor melonjak, biaya logistik membengkak, sementara daya beli masyarakat justru lesu. Pengusaha kini dihadapkan pada pilihan pahit, yakni menaikkan harga lalu kehilangan pelanggan, atau bertahan dengan arus kas yang babak belur.
Dampak paling nyata dirasakan industri boneka. Ketua Perhimpunan Industri Boneka Bekasi (PIBI), Soleman, mengaku baru menerima informasi kenaikan harga serat silikon, bahan utama isi boneka, sebesar Rp500 per kilogram.
“Baru tadi siang saya dapat informasi fiber silikon naik lagi Rp500 per kilogram,” kata Soleman, Senin (18/5).
Kenaikan itu memperpanjang daftar beban produksi setelah sebelumnya bahan baku tekstil dan plastik juga lebih dulu merangkak naik. Harga plastik bahkan melonjak Rp200 hingga Rp500 per pieces dalam sebulan terakhir.
Menurut Soleman, meski sebagian bahan baku diproduksi di dalam negeri, komponen dasarnya tetap banyak bergantung pada impor sehingga dampak pelemahan rupiah tak terhindarkan.
“Pengrajin sekarang bingung bagaimana memproduksi dan menjual barang, sementara kondisi ekonomi belum berpihak,” ujarnya.
Tekanan makin berat karena penjualan justru anjlok. Produksi dan omzet industri boneka disebut turun drastis hingga 40 sampai 60 persen.
Di tengah situasi itu, menaikkan harga produk bukan keputusan mudah. Pasar dinilai belum tentu menerima kenaikan harga di tengah daya beli yang melemah.
“Kalau harga dinaikkan tapi pasar tidak menerima, itu juga jadi masalah besar,” ucapnya.
Keluhan serupa datang dari sektor supplier drilling equipment. CEO Gamila Group, Rigel Pawallo, mengatakan bisnisnya ikut terpukul lantaran sebagian besar barang masih didatangkan dari luar negeri.
“Yang terasa sekarang harga barang naik dan biaya logistik juga luar biasa mahal,” katanya.
Ia mengaku banyak vendor dan rekanan mulai mengeluhkan dampak pelemahan rupiah terhadap operasional usaha mereka.
“Kita serba salah. Harga dinaikkan pelanggan bisa kabur, tapi kalau tidak dinaikkan cash flow bisa hancur,” ujarnya.
Untuk bertahan, perusahaan mulai mengetatkan pengeluaran dan mengubah strategi stok barang. Produk lokal kini diperbanyak untuk mengurangi ketergantungan impor.
“Kami hitung ulang cash flow dan memilih barang-barang yang benar-benar cepat terserap pasar,” katanya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Bekasi, Farid Elhakamy, menyebut tekanan terhadap industri makin berat sejak ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu gejolak ekonomi global.
“Perusahaan yang menggunakan bahan baku impor mulai mengeluhkan kenaikan biaya produksi,” kata Farid.
Menurutnya, sektor otomotif menjadi salah satu industri yang paling terdampak akibat pelemahan rupiah.
Meski demikian, kondisi berbeda justru terlihat di sektor investasi. CEO Mahaya Group, Sefria Hotman Nasution, menyebut minat investor asing ke Indonesia sejauh ini belum surut.
“Investor asing tetap jalan. Bahkan setiap hari masih ada yang menghubungi kami terkait investasi di Indonesia,” ungkapnya.
Ia menilai situasi saat ini belum separah krisis moneter 1998. Namun pemerintah tetap didorong segera mengambil langkah konkret agar pelemahan rupiah tidak semakin membebani industri dalam negeri. (sur)











