Berita Bekasi Nomor Satu

Ribuan Pelamar Bersaing Rebut Posisi Manajerial Kopdes Merah Putih di Bekasi

SELEKSI SPPI : Ratusan peserta mengikuti tahapan tes ideologi dan kesehatan jiwa program SPPI Koperasi Desa Merah Putih di Kota Bekasi, Selasa (20/5). Seleksi tersebut diikuti pelamar dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperebutkan posisi manajerial koperasi desa. FOOT: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI — Ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti tahapan seleksi program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk posisi manajerial Koperasi Desa Merah Putih di Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, Rabu (20/5).

Seleksi program SPPI Koperasi Desa Merah Putih kini memasuki tahap tes ideologi dan kesehatan jiwa. Pada tahap ini, peserta menjalani ujian tertulis untuk mengukur wawasan kebangsaan, pemahaman ideologi negara, hingga kondisi psikologis sebelum dinyatakan lolos ke tahap berikutnya.

Salah satu peserta, Afiful Haidar (25), mengatakan dirinya sudah melewati tiga tahapan seleksi, mulai dari administrasi, CAT hingga tes psikologi tertulis.

“Ini tes yang ketiga. Sebelumnya administrasi sama CAT,” ujarnya kepada wartawan usai mengikuti tes di Stadiom Patriot Candrabhaga, Rabu (20/5).

Afiful mengaku tahapan kali ini menjadi salah satu yang paling menguras konsentrasi. Sebab peserta harus menjawab ratusan soal dalam waktu terbatas.

“Soalnya 567 soal dengan waktu tiga jam,” katanya.

Tes dimulai sekitar pukul 13.00 WIB. Sebagian peserta berhasil menyelesaikan lebih cepat, namun ada pula yang harus bertahan hingga pukul 16.00 WIB.

“Nanti masih lanjut lagi wawancara dan tes fisik,” ucapnya.

Afiful merupakan lulusan sarjana pendidikan matematika asal Depok, Jawa Barat. Meski memiliki latar belakang pendidikan guru, ia justru memilih mengikuti program SPPI demi mencari peluang kerja yang dinilai lebih menjanjikan.

“Harusnya jadi guru. Tapi memang gaji guru di Indonesia sangat kurang,” katanya.

Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, Afiful merasa harus mencari pekerjaan yang mampu membantu perekonomian keluarga.

“Saya anak pertama, tanggungannya cukup besar,” ujarnya.

Sebelum mengikuti seleksi SPPI, Afiful sempat menjadi relawan Dinas Sosial sebelum akhirnya bekerja di koperasi sekolah. Pengalaman itu membuatnya tertarik mencoba posisi manajerial koperasi desa.

“Sekarang saya di koperasi sekolah. Jadi ingin mengembangkan di desa atau kelurahan,” katanya.

Ia mengaku baru mengetahui informasi program tersebut dari seorang teman. Bahkan, pendaftarannya dilakukan secara mendadak sehari sebelum penutupan.

“Daftarnya H-1, dadakan banget,” ucapnya.

Peserta lainnya, Ihsan Idris (23), asal Karawang, Jawa Barat, juga datang dengan harapan besar. Lulusan Universitas Brawijaya Malang itu mengaku baru saja resign dari pekerjaannya dan kini tengah mencari peluang baru.

“Baru resign, jadi nyari lagi,” katanya.

Ihsan menyebut proses seleksi dilakukan bertahap dan menggunakan sistem gugur layaknya seleksi CPNS.

“Kurang lebih kayak PNS,” ujarnya.

Sebelum mengikuti tes terbaru, Ihsan terlebih dahulu menjalani tahapan SKD di kantor BKN kawasan Jakarta Timur sekitar dua pekan lalu.

“Yang pertama itu SKD dulu,” katanya.

Pada tahapan kali ini, peserta mengerjakan tes ideologi berbentuk esai dan tes kesehatan jiwa dengan metode pilihan ya atau tidak.

“Yang pertama ideologi, Pancasila dan Undang-Undang. Yang kedua tes kejiwaan,” ucapnya.

Menurut Ihsan, peserta yang mengikuti seleksi berasal dari berbagai wilayah Indonesia dan dibagi berdasarkan regional.

“Ini nasional,” katanya.

Meski belum mengetahui secara pasti sistem kerja ke depan, Ihsan menyebut program tersebut kemungkinan menggunakan sistem kontrak dan bukan ASN.

“Masuknya BUMN kayaknya, tapi kontrak,” ujarnya.

Ia mengatakan setelah tahapan tertulis selesai, peserta masih harus menjalani tes kesehatan langsung di rumah sakit serta wawancara.

“Tinggal dua lagi, tes kesehatan sama wawancara,” katanya.

Program SPPI sendiri disebut akan merekrut tenaga manajerial untuk Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia.

Berdasarkan informasi yang diterima peserta, jumlah pendaftar mencapai sekitar 101 ribu orang, sementara kebutuhan tenaga sekitar 30 ribu orang.

Di tengah ketatnya persaingan kerja, program tersebut kini menjadi harapan baru bagi banyak lulusan sarjana dari berbagai jurusan.

Mereka rela datang dari berbagai daerah, mengikuti tahapan tes berjam-jam, hingga bersaing dengan ribuan pelamar lain demi mendapatkan kesempatan membangun karier dan masa depan yang lebih baik. (rez)