Berita Bekasi Nomor Satu

Bukan Cuma Kurban, Ini 5 Tradisi Unik Rayakan Idul Adha 2026 di Berbagai Daerah

Ilustrasi/Tradisi Khas Iduladha di Indonesia. FOTO: Magnific.com

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Hari raya Idul Adha yang jatuh pada Rabu (27/5/2026), tak hanya dirayakan dengan ibadah kurban dan salat berjemaah. Di berbagai daerah di Indonesia, Idul Adha juga disambut hangat lewat ragam tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi-tradisi ini secara harmonis menggabungkan nuansa religius dengan kearifan lokal. Alhasil, Iduladha di Indonesia bukan sekadar perayaan spiritual yang khusyuk, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memikat.

Berikut adalah lima tradisi khas Idul Adha di Indonesia yang sarat akan makna dan filosofi:

Manten Sapi – Pasuruan, Jawa Timur

Jika biasanya hewan kurban langsung dibawa ke tempat jagal, masyarakat Pasuruan punya cara tersendiri untuk menghormati hewan yang akan dikurbankan melalui tradisi Manten Sapi (Pengantin Sapi).

Sebelum disembelih, sapi-sapi pilihan akan didandani layaknya pengantin, seperti dimandikan hingga bersih, diberi kalung bunga tujuh rupa, lalu dibalut dengan kain kafan putih. Setelah tampil rapi, sapi-sapi ini diarak menuju masjid setempat.

Mepe Kasur – Banyuwangi, Jawa Timur

Pemandangan unik dan sangat fotogenik dapat Anda temukan di Desa Kemiren, Banyuwangi. Menjelang hari raya Idul Adha, masyarakat suku Osing secara serempak melakukan tradisi Mepe Kasur atau menjemur kasur di depan rumah masing-masing. Uniknya, kasur yang digunakan bukanlah kasur biasa, melainkan kasur khusus yang memiliki kombinasi warna merah dan hitam.

Dalam filosofi suku Osing, warna merah melambangkan keberanian, sedangkan warna hitam bermakna keabadian. Tradisi menjemur kasur bersama-sama dari pagi hingga siang hari ini dipercaya sebagai ritual tolak bala sekaligus doa agar rumah tangga senantiasa diberi keharmonisan.

Bagi para wisatawan, momen seragamnya warna kasur yang berjajar di sepanjang jalan desa menjadi daya tarik visual yang sangat langka dan menarik untuk diabadikan.

Baca Juga: Bukan Cuma Sate, Ini 7 Ide Olahan Daging Kurban Lezat untuk Keluarga

Gamelan Sekaten – Surakarta, Jawa Tengah

Di Surakarta, alunan magis Gamelan Sekaten menjadi atraksi utama saat merayakan Idul Adha. Segera setelah salat Id selesai dilaksanakan, dua perangkat gamelan pusaka milik Keraton Surakarta, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari mulai ditabuh di halaman Masjid Agung.

Selain menikmati musik sakral, pengunjung yang datang biasanya berburu kinang (sirih) untuk dikunyah, sebuah ritual yang diyakini masyarakat dapat membawa umur panjang.

Tradisi ini digagas sejak masa pemerintahan Sultan Agung pada tahun 1644 M. Alunan gamelan yang sakral sengaja dibunyikan untuk mengetuk hati masyarakat agar lebih dekat dengan nilai-nilai keagamaan.

Ritual tahunan ini selalu sukses menyedot perhatian, dihadiri oleh kerabat keraton hingga ribuan warga dan wisatawan.

Tradisi Apitan – Semarang, Jawa Tengah

Melansir laman Kementerian Pariwisata (Kemenpar), istilah Apitan berasal dari penamaan dua bulan dalam kalender Jawa yang “mengapit” bulan Iduladha (Zulhijjah), yaitu bulan Syawal dan Sela (Zulkaidah).

Masyarakat Semarang merayakan momen ini dengan penuh sukacita melalui pertunjukan kuda lumping dan arak-arakan hasil bumi. Puncak acara yang paling dinanti adalah momen ketika warga saling berebut hasil panen yang dipercaya membawa berkah.

Tradisi ini tak hanya berfungsi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga.

Saat Apitan digelar, anak-anak hingga orang tua tumpah ruah di jalanan untuk menyaksikan iring-iringan hasil bumi yang ditata dalam bentuk-bentuk unik. Kemeriahan ini biasanya makin lengkap dengan adanya bazar rakyat dan pentas budaya lokal.

Grebeg Gunungan – Yogyakarta

Tidak kalah megah, Keraton Yogyakarta menyelenggarakan upacara adat Grebeg Besar sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Adha.

Dalam prosesi ini, sebanyak tujuh buah gunungan raksasa yang berisi hasil bumi diarak oleh para prajurit keraton dari dalam istana menuju Masjid Gede Kauman serta beberapa titik penting lainnya. Begitu doa selesai dipanjatkan, warga yang hadir akan langsung menyerbu dan memperebutkan isi gunungan tersebut.

Baca Juga: Sambut Idul Adha, Dewi Perssik Borong Sapi Jumbo 2,4 Ton untuk Berkurban di Empat Kota

Gunungan ini dirangkai secara komoditas dari sayuran, buah-buahan, hingga jajanan pasar. Proses pembuatannya pun terbilang sakral karena melibatkan para abdi dalem keraton dengan penuh ketelitian.

Bagi masyarakat setempat, berhasil mendapatkan bagian dari gunungan tersebut diyakini dapat mendatangkan keberuntungan serta menolak bala.

Idul Adha di Indonesia membuktikan bahwa ekspresi keagamaan bisa berjalan beriringan dengan kelestarian budaya. Melalui lima tradisi di atas, masyarakat tidak hanya berkurban secara spiritual, tetapi juga merawat warisan leluhur yang memperkaya identitas bangsa. (mna)