Berita Bekasi Nomor Satu

Hasil Polling: Mayoritas Responden Pertanyakan Latsarmil Calon Manajer Kopdes

Suasana pembukaan latihan dasar  militer bagi para calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Halim Perdanakusuma, 17 Juni 2026. FOTO: KEMHAN

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Polling yang digelar melalui media sosial Instagram dan TikTok sejumlah media yang tergabung dalam Indo Satu Media Grup, yakni Metrobogor, Pojoksatu, Radar Depok, Radar Cianjur, Radar Sukabumi, Radar Bandung, dan Radar Bekasi, menunjukkan mayoritas responden mempertanyakan relevansi latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes), besarnya anggaran pelatihan, hingga perlunya investigasi menyusul insiden meninggalnya sejumlah peserta.

Polling periode Juli I 2026 tersebut diikuti 8.326 responden dengan total 180.285 tayangan di berbagai platform media sosial.

Pada pertanyaan pertama mengenai perlunya latihan dasar militer sebagai sarana membangun karakter, disiplin, mental tangguh, integritas, dan jiwa kepemimpinan calon manajer Kopdes, hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat tipis. Sebanyak 513 responden (50,44 persen) menyatakan tidak setuju dan menilai program tersebut tidak perlu, sementara 504 responden (49,56 persen) menyatakan setuju dan menganggapnya perlu.

Mayoritas responden juga menilai pembentukan karakter dan kepemimpinan tidak hanya dapat diperoleh melalui latihan dasar militer. Sebanyak 532 responden (56,54 persen) menjawab tidak benar, sedangkan 409 responden (43,46 persen) berpendapat sebaliknya.

Terkait relevansi latihan dasar militer dengan tugas calon manajer Kopdes, 490 responden (58,82 persen) menilai program tersebut sangat tidak berkorelasi dengan tugas manajerial yang akan dijalankan. Sementara 343 responden (41,18 persen) masih melihat adanya keterkaitan.

Polling juga menyoroti insiden meninggalnya lima calon manajer Kopdes saat mengikuti latihan dasar militer. Sebanyak 753 responden (70,11 persen) menilai risiko tersebut sangat tidak sepadan dengan tanggung jawab jabatan yang akan diemban, sedangkan 321 responden (29,89 persen) menilai hal tersebut sepadan.

Setelah Kementerian Pertahanan menghentikan pelaksanaan latihan dasar militer bagi calon manajer Kopdes, mayoritas responden menilai langkah tersebut belum cukup. Sebanyak 606 responden (70,55 persen) meminta investigasi dan pengusutan secara menyeluruh, sementara 253 responden (29,45 persen) menilai penghentian program sudah memadai dengan catatan tetap dilakukan evaluasi.

Ketika program latihan dasar militer diganti menjadi pelatihan bela negara dan manajerial, sebagian besar responden masih belum yakin perubahan tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan calon manajer Kopdes. Sebanyak 610 responden (76,15 persen) memilih ragu-ragu, sedangkan 191 responden (23,85 persen) menilai kebijakan tersebut sudah tepat.

Sorotan terbesar muncul pada aspek pembiayaan. Sebanyak 788 responden (81,32 persen) menilai biaya pelatihan yang disebut mencapai Rp30 juta per peserta merupakan angka yang sangat tidak masuk akal. Hanya 181 responden (18,68 persen) yang menganggap biaya tersebut masih wajar.

Saat ditanya mengenai besaran biaya yang dianggap rasional, 743 responden (76,68 persen) memilih anggaran di bawah Rp15 juta per orang, sedangkan 224 responden (23,12 persen) menilai biaya di atas Rp20 juta masih dapat diterima.

Sementara itu, pada pertanyaan terakhir mengenai apakah besarnya anggaran pelatihan merupakan kebutuhan yang wajar atau sekadar “akal-akalan”, 655 responden (75,72 persen) menyatakan yakin anggaran tersebut merupakan “akal-akalan”, sedangkan 210 responden (24,28 persen) menilai biaya tersebut memang merupakan kebutuhan yang masuk akal.

Secara umum, hasil polling media sosial yang digelar Indo Satu Media Grup memperlihatkan kecenderungan mayoritas responden mempertanyakan efektivitas latihan dasar militer sebagai bagian dari pembinaan calon manajer Kopdes. Selain itu, publik juga menaruh perhatian besar terhadap aspek keselamatan peserta, besaran anggaran pelatihan, serta perlunya evaluasi dan investigasi terhadap pelaksanaan program. (sin)