Resensi Buku
Judul Buku
Ayatollah Ali Khamenei Dari Haribaan Hingga Keabadian
Tebal Buku
303 halaman
Penulis
Ren Muhammad
Penerbit
Imania
Cetakan I
April 2026
Oleh: Zaenal Aripin*
Mengapa Iran masih dapat bertahan dari gempuran AS meski sudah diembargo tiga dekade lebih?
Mengapa kematian pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan bom AS di Mashhad 28 Febrari 2026 lalu justru kian menyulitkan AS menjinakkan Iran?
Mengapa bukan Karbala dan Najaf di Irak yang menjadi pusat Syiah “modern”? Sebaliknya, justru Qum di Iran menjadi episentrum Syiah mulai abad 20?
Daftar pertanyaan seperti di atas, bisa disusun lebih panjang lagi atas fakta-fakta geopolitik Iran di kawasan Timur Tengah, baru-baru ini. Tapi, setidaknya, tiga pertanyaan ini menjadi kunci untuk menjawab hasil dari Revolusi Iran 1979 di bawah komando Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Buku “Ayatollah Ali Khamenei dari Haribaan Hingga Keabadian” yang ditulis Ren Muhammad, bisa menjawab tiga pertanyaan kunci di atas. Penulisnya, Ren Muhammad mengajak pembaca “mengembara” atas kondisi Iran sebelum masa Revolusi 1979, masa revolusi berlangsung hingga pascarevolusi dan Iran abad 21. Fase-fase penting dan genting Iran sebelum revolusi dan pascarevolusi, itu terfokus pada sosok Ali Khamenei. Salah satu tokoh penting yang dikenal sebagai The Sun’s Shadow (Bayang-bayang Matahari) sebuah metafora yang menggambarkan posisi dan peran Khamenei di lapangan yang selalu menyertai dan menjalankan visi revolusioner Khomeini saat Iran masih berada dalam kegelapan rezim Shah Reza Fahlevi.
Buku ini termasuk dalam kategori buku biografi. Meski begitu, cara penyajian tentang sosok yang ditulisnya sangat menarik. Disusun secara tematik. Bukan dimulai dari tanggal dan kelahiran sang tokoh. Namun, diawali dari memotret kehidupan dan lingkungan orangtua Khamenei, Sayyed Jawad Hussein Khamenei–seorang ulama kesohor yang menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan dan kezuhudan di kota Masshad.
Bab demi bab dalam buku ini menjawab tiga pertanyaan di atas. Karena tematik, pembaca dapat menikmati tulisan ini dari bab mana saja yang disuka. Total ada 20 bab yang setiap bab terdapat beberapa subbab. Mau mulai dari awal. Atau pilih langsung ke tengah-tengah. Bisa juga membaca bagian akhirnya yang tidak kalah menarik tentang pemikiran-pemikiran Ali Khamenei tentang warisannya bagi dunia Islam.
Pertanyaan pertama mungkin bisa terjawab dari bab awal berjudul “Dari Gang Sempit Mashhad ke Pusaran Revolusi; Sebuah Sketsa Biogtafis Ali Khamenei dan Revolusi Iran 1979”. Narasi bab ini bercerita masa-masa kecil Ali Khamenei di keluarganya yang sangat sederhana dan zuhud. Kesederhanaan keluarga ini bukan sekadar keadaan ekonomi, tapi sudah menjadi gaya hidup. Sang ayah, Sayyid Jawad Khamenei dikenal ulama zuhud. Ali Khamenei tentu saja meneladani cara hidup orangtuanya tersebut.
Kesederhanaan rumah keluarga itu digambarkan begini. Rumah itu berukuran 60 – 70 meter. Hanya memiliki satu kamar dan satu ruang bawah tanah yang gelap. Saat ayahnya menerima tamu, Khamenei dan saudara-saudaranya bergeser ke rubanah itu agar tamu sang ayah dapat duduk leluasa. Pada malam-malam tertentu, dapur keluarga ini hampir tidak mengepulkan asap. Di meja makan hanya ada roti dan segenggam kismis. Tapi Khamenei dan saudara-saudaranya duduk dengan tenang untuk berbagi roti dan kismis. Dia belajar langsung kesederhanaan dan kezuhudan dari sang ayah. Baginya, alas duduk bukanlah simbol status melainkan sekadar perantara antara raga dan bumi. Tetapi dari atas karpet sederhana itulah keputusan-keputusan besar yang menggetarkan meja diplomasi dunia dilahirkan.
Ilmu agamanya tentu saja sejak kecil dipelajari Khamenei langsung dari sang ayah. Di rumah sederhana itulah Khamenei belajar membaca Alquran, mengeja huruf Arab, menghafal doa-doa dan mempelajari ilmu ‘alat” nahwu (sintaksis) dan shorof (morfologi) sebagai kitab-kitab dasar bahasa Arab. Khamenei kecil juga masuk hauzah (semacam pesantren, lembaga pendidikan ulama Syiah).
Kitab demi kitab yang menjadi pegangan Syiah dilahapnya. Seperti Jami al-Muqoddimat. Kitab kompilasi 15 kitab yang berisi kumpulan risalah dasar yang wajib dipelajari tentag adab, akhlak, logika (mantiq), nahwu dan shorof. Sebagian besar penulis kitab di dalam kompilasi ini adalah ulama dari kalangan Ahlussunnah (seperti al-Jurjani dan al-Zanjani), kaum Syiah mengadopsinya secara luas di Hauzah Ilmiah karena bobot ilmiahnya yang sangat baik untuk melatih kemampuan bahasa Arab para pelajar non-Arab (seperti pelajar dari Iran, Pakistan, dan India).
Kitab fikih pegangan kalangan Syiah yang juga dilahap Khamenei kecil adalah Syarai al Islam fi Masail al-Halal wal Haram. Kitab legendaris yang dipelajari di seluruh lembaga pendidikan tinggi Syiah (Hauzah Ilmiah). Kitab ini ditulis ulama besar abad ke-7 Hijriah, Al-Muhaqqiq al-Hilli (wafat 676 H). Di dunia akademik Syiah, kitab ini dianggap sebagai “konstitusi fikih” karena susunannya yang sangat rapi, bahasanya yang lugas, dan mencakup seluruh bab hukum Islam dari lahir hingga mati. Selain Syarai al Islam, kitab fikih yang juga dipelajari Khamenei adalah Syarah al – Lum’ah.
Kitab fikih lanjutan paling utama dan wajib yang dipelajari santri di Hauzah Ilmiah Syiah. Jika Shara’i’ al-Islam digunakan untuk memahami pemetaan hukum dasar, maka Syarah al-Lum’ah digunakan untuk melatih santri memahami argumentasi hukum (istinbath) secara mendalam pada tingkat Sutuh Aliyah (menengah atas). Khamenei muda juga mempelajari filsafat dari Imam Khomeini.
Di ruang-ruang Hauzah itulah, para santri juga berdiskusi. Mulai dari diskusi teologi hingga bisik-bisik politik dalam bernegara. Nama Khomeini sering disebut. Bagi mereka, meski nama ini berada dalam pengasingan, tapi mereka tidak asing dengan Khomeini. Dia bukan sekadar guru agama melainkan menjelma sebagai suara perlawanan terhadap monarki Shah Reza Fahlevi.
Ali Khamenei pengangum Khomeini. Dari sekadar pengagum menjadi penyebar ideologi Khomeini. Puncaknya tahun 1960. Suara perlawanan lewat kaset-kaset ceramah yang menentang kekuasaan kerajaan. Kegiatannya itu membawanya enam kali masuk penjara. Gelombang protes mendapatkan momentumnya pada 1979. Monarki jatuh. Shah kabur. Khomeini pulang dari pengasingan. Khameni sebagai ulama muda kala itu mengorganisasi demonstrasi, menyampaikan pidato dan menggalang dukungan. Saat Republik Islam Iran berdiri dia masuk struktur negara. Masuk Dewan Revolusi. Dipercaya menjadi wakil menteri pertahanan dan menjadi tokoh penting Revolusi Iran 1979.
Masa-masa awal revolusi itu justru era penuh gejolak. Pembunuhan tokoh, konflik internal, dan perang delapan tahun dengan Irak mengguncang negara Mullah yang masih muda. Khamenei sendiri nyaris tewas pada 1981. Sebuah bom tape recorder menyalak saat dirinya ceramah di sebuah masjid. Nyawanya masih selamat. Tapi tangan kanannya mengalami kerusakan permanen. Beberapa bulan kemudian Khamenei dipilih menjadi presiden menggantikan presiden Iran yang tewas dalam sebuah serangan pembunuhan. Khamenei menjabat presiden dua periode (1981 – 1989). Sejarah mencatat, Khamenei juga menjadi Rahbar, Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan Sang Mentor, Khomeini yang wafat pada 1989. Anak dari keluarg sederhana dan zuhud yang berbagi roti dan kismis itu menjadi pengendali negara revolusioner yang mengguncang geopolitik Timur Tengah, bahkan dunia.
Ulama, Politik, dan Amanah Langit Teheran
Kendati menduduki jabatan puncak dalam kepemimpinan di Iran, Khamenei memilih jalan sunyi. Bukan sebagai panglima dengan jutaan pengikut. Namun, sebagai zahid yang hidup bersahaja. Bukan istana gemerlap bersepuh emas sebagai tempat tinggalnya. Dia memilih rumah sederhana dengan perabotan jauh dari kesan mewah. Di ruang pribadinya ada karpet yang sudah tipis. Bahkan tampak usang dan ditambal sana sini. Bagi sang Rahbar, karpet itu hanya alas duduk, sekadar perantara antara raga dan bumi, bukan simbol status (hal. 56).
Di balik jubah yang dikenakannya sehari-hari tersimpa disiplin ketat. Khamenei yidak mengoleksi jubah mahal. Selama bertahun-tahun, dari keterangan orang terdekatnya, pakaian yang dikenakannya adalah pakaian yang sama. Dirawat dengan teliti, dicuci dengan tangan sendiri. fan dijahit kembai jika robek. Dapurnya tanpa koki kelas dunia. Menu makanannya tidak ada yag eksotis. Seringkali hanya nasi sederhana, roti, keju, atau sup sayur. Kalaupun ada daging, itu bukan rutinitas, melainkan momen istimewa.
Khamenei melarang anak-anaknya terlibat bisnis dengan negara atau memanfaatkan potensi demi keuntungan finansial. Mereka hidup sebagai warga biasa. Tanpa pengawalan berlebihan tanpa hak istimewa, tanpa tumpukan saham-saham di perusahaan besar. Khamenei benar-bemar menjaga garis api antara hak pribadi dan amanah publik. Inilah benteng integritas paling sunyi. Ini protes bisu terhadap materialisme modern. Dia seolah berbisik kepada Barat, “Barang siapa sudah selesai dengan dirinya sendiri, maka dunia tidak lagi memiliki daya tawar atas nurani”.
Kesederhanaan ini bukan sekadar gaya hidup. Inilah “senjata” metafisika. Dia tidak mempan disuap kenyamanan dunia, tidak tergoyahkan sanksi/embargo Barat yang mengincar kemewahan, karena memang tidak ada kemewahan yang disimpannya. Khamenei membuktikan semakin besar tanggung jawab seseorang di langit kekuasaan, justru seharusnya semakin dalam menghujamkan kakinya ke bumi kesahajaan.
Gaya hidup Khamenei ini adalah antitesa dari ideologi Barat (Materialisme, Liberalisme dan Kapitalisme). Pilihan ini secara sadar adalah justru tindakan perlawanan terhadap tatanan dunia, khususnya Barat modern yang berdiri di atas fondasi konsumsi. Sebaliknya, Khamenei ingin membuktikan otoritas tertinggi sebuah bangsa tidak membutuhkan validasi dari benda-benda material. Khamenei menanamkan faqr, bukan kemiskinan karena tidak punya, melainkan kemiskinan yang dipilih untuk menjaga integritas ruhani. Inilah serangan langsung terhadap hedonisme Barat. Sekaligus ancaman terbesar bagi hegemoni Barat. Mengapa? Sebab sanksi/embargo ekonomi tidak pernah mempan terhadap mereka yang tidak membutuhkan kemewahan. Sanksi, embargo ekonomi dan semacamnya hanya menyakiti mereka yang mencintai dunia.
Sikap altruisme Khameini ini sekaligus perlawanan terhadap sekulerisme Barat yang memisahkan urusan publik dan Tuhan. Di tangan Khamenei, politik adalah bagian dari perjalanan spiritual. Dia menolak narasi dunia ini mesin tanpa ruh. Khamenei ingin menunjukkan kekuatan sejati bukan dari teknologi nuklir (materi), melainkan kekuatan batin yang terhubung dengan langit. Kesederhanaan justru cara menjaga “saluran” komunikasi dengan Tuhan tidak terganggu gangguan dunia.
Walhasil, kesederhanaan Pemimpin Tertinggi Iran ini menjadi simbol politik penting. Sejak Revolusi Iran 1979, di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini, kesederhanaan (zuhud) bukan hanya nilai moral, tetapi juga simbol legitimasi politik. Sebuah perlawanan atas citra kontras yang ditempilkan rezim Shah Reza Pahlevi. Ulama yang menjaga jarak dari kemewahan dunia, tidak mengejar kekayaan, hidup sederhana ini menjadi simbol bahwa mereka berpihak pada rakyat kecil. Karena itu, kekuasaan politik ulama tidak hanya berdasar konstitusi, mereka adalah penjaga otoritas moral. Kesederhanaan menjadi pesan simbolik, pemimpin relijius tidak berkuasa demi kekayaan, tetapi demi amanat langit.
Di Iran, sistem politik dan struktur negara tidak murni teokrasi, tapi bukan juga demokrasi biasa. Konsep kenegaraannya campuran antara demokrasi elektoral dan otoritas keulamaan lewat konsep Wilayatul Faqih (kepemimpinan ulama) yang dirumuskan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sistem politik ini melibatkan jaringan kekuasaan yang kompleks. Ada ulama, militer dan elite politik. Struktur kekuasaannya berlapis-lapis. Kira-kira begini. Puncak sistem kekuasaannya ada di tangan Pemimpin Tertinggi. Paling berkuasa. Kewenangannya meliputi panglima tertinggi militer, mengangkat kepala kehakiman, menunjuk pemimpin negara, mempengaruhi kebijakan luar negeri dan mengangkat sebagian anggota lembaga pengawas politik. Juga berpengaruh atas lembaga militer kuat, seperti Islamic Revolutionary Guard Corps (URGC).
Lembaga-lembaga negara di Iran antara lain parlemen Majelis-e Showra-ye Eslami (مجلس شورى اسلامى). Parlemen dengan anggotanya dipilih rakyat dan bertugas membuat undang-undang. Tapi, tidak otomatis berlaku menyetujui anggaran negara, mengawasi kabinet peesiden. Ada oula lembaga sangat penting sebagai Dewan Penjaga Konstitusi, yaitu Shoraya Nehagban-e Qanun-e Assasi (شوراى نكهبان قانون اساسى). Lembaga ini berfungsi dua: memeriksa UU sesuai aturan Islam dan konstitusi serta menyaring kandidat pemilu. Ada pula lembaga yang tugasnya memilih dan mengawasi hingga memberhentikan Pemimpin Tertinggi (Rahbar) Iran, tapi praktiknya jarang menentang otoritas pemimpin tertinggi yang mereka angkat. Lembaga itu Majelis-e Khobregan-e Rahbari (مجلس خبركان رهبرى). Lembaga terakhir adalah militer. Selain militer reguler. Iran memiliki militer elite bernama IRGSC yang mencakup peran militer, jntelijen, operasi luar negeri dan jaringan ekonomi besar. IRGC ini adalah aktor politik paling berpengaruh setelah Pemimpin Tertinggi. Intinya, sistem kenegaraan Iran bersumber pada republik dengan pengawasan teologis.
Teologi Pembebasan Syiah Pendorong
Revolusi Iran
Dalam catatan sejarah, Irak pernah menjadi episentrum kalangan Syiah. Kufah, Karbala dan Najaf adalah kota-kota yang tidak pernah sepi dari para peziarah, baik karena alasan spiritual maupun akademis. Kufah, bahkan pernah menjadi pusat gerakan spiritual sekaligus politik kaum Alawiyyin (pendukung Ali RA) melawan kekhalifahan Dinasti Umayyah pasca peristiwa kematian Imam Ali dan peristiwa Karbala (680 M) yang menewaskan Imam Husein di Irak.
Pertanyaan besar yang menggugat nalar geopolitik abad 21, mengapa api revolusi Syiah, kini justru bersemi di tanah Persia, bukan di lembah Mesopotamia, tanah di mana jasad para imam suci bersemayam? Mengapa Qom yang menjadi episentrumnya, sedangkan Najaf dan Karbala sempat terbelenggu dalam sunyi?
Ironis memang. Irak memiliki Najaf dan Karbala sebagai episentrum Syiah dunia. Tapi sepanjang abad ke-20, kaum Syiah Irak memghadapi tekanan rezim yang represif, puncaknya di era Saddam Husein. Di bawah sepatu lats Ba’athisme, para ulama diawasi, suara mereka dibungkam. dan tokoh-tokohnya diasingkan dan dibunuh. Najaf yang agung dipaksa diam secara politik demi keselamatan fisik. Sementara Iran, memamfaatkan celah sejarah, membangun infrastruktur pendidikan di Qom, menjadikannya labolatorium intelektual yang mematangkan ide-ide revolusioner saat Najaf sedang berdarah-darah dalam kesunyian.
Khomeini membalikkan meja sejarah. Selama berabad-abad, banyak ulama Syiah cenderung mengambil sikap Tanzih (menjauh dari kekuasaan) sambil menunggu kehadiran Imam Mahdi. Dia menegaskan, sambil menunggu masa penantian, ulama harus mengambil tanggungjawab politik untuk menegakkan keadilan. Maka terjadilah transformasi peran ulama dari sekadar ulama penasihat spiritual menjadi ulama penguasa politik. Inilah yang terjadi di Iran. Ledakan intelekual ini memberi ruh baru, spirit baru bagi gerakan politik Syiah Iran. Sebuah mesin penggerak yang mengubah doa menjadi aksi, harapan menjadi negara. Revolusi Iran membawa Syiah menjadi teologi pembebasan.
Sebenarnya, Iran tidak mendadak menjadi pusat Syiah pada tahun 1979. Tapi Iran punya akar historis dalam bentang sejarah pada abad ke-16. Ini bermula dari Dinasti Safawi di bawah Shah Ismail I yang berani “merekayasa sejarah”. Di mana dia nekat memaksakan konversi besar-besaran dan mengubah Iran dari mayoritas Sunni menjadi benteng Syiah Dua Belas Imam.
Sejak saat itu, Syiah bukan lagi sekadar madzhab, tapi telah meresap ke dalam sumsum tulang identitas nasional Iran. Bila di negara lain, Syiah menjadi minoritas terpinggirkan, di Iran ceritanya berbeda. Syiah adalah tuan rumah yang memiliki kedaulatan batin berabad-abad lamanya. Maka Syiah di Iran memiliki daya tahan sosiologis yang tak dimiliki di wilayah lain.
Salah satu rahasia terbesar ketangguhan Iran, terletak pada indelendensi finansial para ulamanya. Di banyak belaham negara, lembaga agama seringkali menjadi perpanjangan tangan negara karena digaji penguasa. Berbeda dengan Iran. Para ulama membangun otonomi mereka melalui sistem wakaf, khums, dan donasi relijius yang mengalir langsung dari rakyat. Kemandirian ekonomi ini melahirkan kemandirian politik. Mereka tidak makan dari tangan Sultan. Mereka memiliki keberanian mematahkan tangan Sultan yang bertindak dzalim. Inilah mengapa Ali Khamenei muda dalam kesahajaannya memiliki wibawa yang melampaui para jenderal. Sebuah wibawa yang lahir dari ruh yang tidak bisa disuap oleh kenyamanan material.
Tidak kalah pentingnya, peran strategis kota Qom. Sebagai pusat seminari (hawzah) terbesar. Qom bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan menjelma menjadi pusat inkubasi jaringan ulama global. Dari Qom, para mubaligh dikirim ke seluruh penjuru dunia dengan satu misi: menyebarkan kesadaran tentang kemerdekaan Islam sekaligus proses pendidikan yang berkelanjutan.
(*Penulis penggiat literasi buku tinggal di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi)











