Berita Bekasi Nomor Satu

Sering Melewatkan Sarapan? Ini 4 Kecenderungan yang Bisa Muncul pada Tubuh dan Psikologis

ilustrasi perempuan yang makan sayur./Freepik

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Sarapan sering disebut sebagai salah satu kebiasaan penting untuk mengawali aktivitas sehari-hari. Meski begitu, tidak semua orang memiliki rutinitas makan pada pagi hari. Ada yang sengaja melewatkannya karena terburu-buru beraktivitas, memilih menggunakan waktu pagi untuk tidur lebih lama, atau memang belum memiliki selera makan setelah bangun.

Kebiasaan tidak sarapan dapat dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari gaya hidup, jadwal aktivitas, hingga pola makan yang sudah terbentuk sejak lama. Sejumlah penelitian juga membahas kaitan antara pola makan di pagi hari dengan energi, konsentrasi, suasana hati, serta kondisi psikologis seseorang.

Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa orang yang jarang sarapan pasti memiliki masalah psikologis. Kondisi mental seseorang sangat kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi biologis, psikologis, maupun lingkungan.

Mengutip YourTango, berikut beberapa kecenderungan yang dapat dirasakan sebagian orang ketika terbiasa melewatkan sarapan.

1. Lebih Sulit Mengontrol Respons dan Dorongan

Ketika seseorang tidak makan sejak malam hingga pagi, rasa lapar bisa menjadi semakin kuat. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian orang merasa lebih mudah gelisah, tidak nyaman, atau sensitif terhadap keadaan di sekitarnya.

Rasa lapar berkaitan dengan meningkatnya hormon ghrelin yang berperan dalam mengatur rasa lapar. Pada kondisi tertentu, rasa lapar yang cukup kuat dapat membuat seseorang lebih sulit mengendalikan emosi maupun dorongan sesaat.

Akibatnya, seseorang mungkin menjadi lebih mudah bereaksi secara spontan ketika menghadapi persoalan. Hal kecil yang biasanya dapat dihadapi dengan tenang pun terkadang terasa lebih mengganggu ketika tubuh sedang membutuhkan asupan makanan.

Dengan kata lain, rasa lapar tidak hanya berhubungan dengan kebutuhan fisik. Pada sebagian orang, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi cara mereka merespons situasi dan mengambil keputusan.

BACA JUGA: 5 Manfaat Mandi Air Dingin yang Jarang Diketahui, Baik untuk Sirkulasi hingga Kulit

2. Suasana Hati Lebih Mudah Berubah

Kebiasaan melewatkan sarapan juga pernah dikaitkan dalam sejumlah penelitian dengan kondisi emosional, termasuk gejala depresi dan kecemasan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah hubungan antara pola makan, kemampuan berkonsentrasi, dan pengaturan suasana hati.

Setelah tubuh tidak mendapatkan makanan selama berjam-jam ketika tidur, sebagian orang dapat merasakan tubuh lebih lemas ketika memulai aktivitas. Kondisi tersebut terkadang disertai rasa mudah kesal, kurang bersemangat, atau perubahan mood.

Meski demikian, penting untuk tidak menganggap melewatkan sarapan sebagai penyebab langsung depresi maupun gangguan kecemasan. Masalah kesehatan mental memiliki penyebab yang kompleks dan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor.

Karena itu, perubahan suasana hati yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak langsung dikaitkan hanya dengan kebiasaan makan pada pagi hari.

3. Konsentrasi dan Produktivitas Dapat Terganggu

Bagi sebagian orang, menjalani aktivitas dengan perut kosong dapat membuat konsentrasi menjadi lebih sulit. Rasa lapar yang muncul justru dapat mengambil sebagian perhatian sehingga pikiran tidak sepenuhnya tertuju pada pekerjaan atau tugas yang sedang dikerjakan.

Kondisi ini terutama dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan fokus tinggi sejak pagi. Alih-alih menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, perhatian bisa lebih banyak tersita untuk memikirkan rasa lapar atau mencari makanan.

Jika terjadi berulang, pekerjaan yang tertunda dapat menumpuk dan memicu rasa lelah maupun tekanan tambahan. Oleh sebab itu, bagi orang yang merasa tubuhnya lebih optimal setelah makan pagi, sarapan dengan menu bergizi dapat menjadi salah satu cara untuk membantu memenuhi kebutuhan energi sebelum memulai aktivitas.

Tidak harus dalam porsi besar, makanan yang mengandung kombinasi karbohidrat, protein, serat, serta cairan dapat menjadi pilihan untuk mengawali hari.

4. Keinginan untuk Bersosialisasi Bisa Berkurang

Kondisi lapar dan rendahnya energi juga dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Ketika tubuh terasa lemas atau suasana hati sedang kurang baik, seseorang mungkin menjadi lebih pendiam dan memilih mengurangi percakapan.

Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa lebih nyaman menghabiskan waktu sendiri sampai merasa tubuhnya kembali bertenaga.

Apabila menarik diri dari lingkungan sosial berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang merasa semakin terisolasi. Padahal, interaksi dengan keluarga, teman, maupun orang-orang di sekitar dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesejahteraan emosional.

Namun, bukan berarti orang yang tidak sarapan otomatis menjadi pribadi yang antisosial. Setiap orang memiliki pola makan dan kebiasaan yang berbeda. Ada pula orang yang memang terbiasa tidak makan pagi dan tetap dapat menjalani aktivitas dengan baik.

BACA JUGA: Bangkai Tikus Bisa Sebabkan Leptospirosis? Simak Risiko dan Cara Aman Menanganinya

Pada akhirnya, tidak sarapan bukan sesuatu yang bisa langsung dijadikan patokan untuk menilai kondisi fisik maupun psikologis seseorang. Yang lebih penting adalah melihat pola hidup secara keseluruhan serta memperhatikan bagaimana tubuh merespons kebiasaan tersebut.

Jika setelah sering melewatkan sarapan seseorang justru mengalami lemas, kesulitan berkonsentrasi, atau perubahan suasana hati yang mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya tidak buru-buru menyimpulkan penyebabnya. Perhatikan pola tidur, asupan makanan, aktivitas, tingkat stres, dan faktor lainnya secara menyeluruh.(mna)