RADARBEKASI.ID – “Kalau saya mengambil jurusan Sastra Inggris, nanti saya bisa kerja apa?” Pertanyaan ini hampir selalu muncul di ruang kelas, dari mahasiswa baru hingga mereka yang sudah di ambang kelulusan. Bagi pendidik, pertanyaan ini bukan sekadar kegelisahan individu mahasiswa. Ia mencerminkan persoalan yang lebih besar, seperti (gap) jarak antara apa yang dipelajari di kelas dan apa yang dibutuhkan dunia kerja. Setelah kurang lebih empat tahun menempuh perkuliahan, apa yang bisa ditawarkan kepada dunia kerja menjadi poin penting. Salah satu jawabannya adalah portofolio. Sayangnya, banyak mahasiswa baru memikirkannya menjelang lulus, bahkan setelah lulus, ketika lowongan sudah di depan mata dan yang tersedia hanyalah transkrip nilai dan Ijazah. Padahal, portofolio tidak perlu dibangun dari nol di akhir studi. Bahan bakunya sudah ada sejak semester pertama, yaitu tugas-tugas kuliah yang selama ini dipandang sebatas kewajiban demi mendapatkan nilai.
Di titik inilah proses pembelajaran perlu ditinjau ulang. Kelas yang berhenti pada pemahaman teori, jawaban soal ujian, dan angka di transkrip memang membekali mahasiswa dengan pengetahuan, tetapi belum tentu dengan bukti kemampuan. Mahasiswa perlu diberi ruang dan kesempatan untuk mencipta, bukan hanya sekedar menerima dan memahami.
BACA JUGA : Penataan Berlanjut Menyasar Pasar Bantargebang
Salah satu pendekatan yang menjawab kebutuhan tersebut adalah Project-Based Learning (PjBL). Melalui PjBL, mahasiswa tidak hanya memahami konsep, misalnya konsep penerjemahan, tetapi juga menggunakannya untuk menyelesaikan proyek nyata dan menghasilkan produk berupa teks terjemahan. Alurnya sederhana:
Learning → Project → Product → Portfolio
Ambil contoh mata kuliah Translation dengan proyek akhir menerjemahkan berbagai teks. Mahasiswa memilih teks, melakukan riset, menerjemahkan, menyunting, berdiskusi dengan dosen untuk mendapat masukan, lalu merevisi hasilnya. Di akhir semester, mereka tidak hanya membawa pulang nilai kelulusan, tetapi juga produk terjemahan. Produk itu dapat disimpan sebagai portofolio penerjemahan dan ditunjukkan saat melamar magang atau pekerjaan yang relevan. Tugas kuliah pun berubah fungsi menjadi bukti keterampilan.
Yang tak kalah penting adalah proses di balik produk tersebut. Dalam proyek semacam ini, mahasiswa berlatih melakukan riset terminologi dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya digital, mengasah kemampuan menyunting, serta belajar menerima dan mengolah masukan akan terjemahan yang sudah dihasilkan. Inilah keterampilan yang dicari oleh dunia kerja. Pewawancara jarang bertanya apa saja yang pernah Anda pelajari, yang mereka tanyakan adalah apa yang bisa Anda lakukan.
Pola ini tidak terbatas pada mata kuliah Translation. Beberapa mata kuliah yang ditawarkan di Program Studi Sastra Inggris dapat membantu mahasiswa untuk menyusun protofolio sebagai bekal untuk melamar pekerjaan setelah lulus. Seperti, Poetry and Prose dapat menghasilkan kumpulan cerpen atau puisi. Public Speaking menghasilkan rekaman presentasi yang memperlihatkan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Writing menulis esai yang dapat dikembangkan menjadi artikel ilmiah, sementara Linguistics menghasilkan kritik atau riset mini tentang fenomena bahasa sehari-hari. Syaratnya sama: dikerjakan dengan sungguh-sungguh, direvisi, dan didokumentasikan.
Berikut cara yang bisa dilakukan mahasiswa sejak semester awal:
- Simpan semua hasil terbaik. Jangan biarkan tugas yang sudah dinilai hilang. Arsipkan di Google Drive dengan rapi, lengkap dengan keterangan mata kuliah.
- Revisi sebelum disimpan. Masukan Dosen terima dan lakukan perbaikan hasil proyek
- Refleksi diri. Untuk setiap proyek, buatkan catatan apa tantangan dalam pengerjaannya, bagaimana solusi menyelesaikannya, media atau alat yang digunakan. Pengalaman ini sangat bergunan nantinya di dunia kerja.
- Pilih platform yang tepat. Portofolio bisa berupa PDF, halaman LinkedIn, blog atau situs pribadi sederhana, tergantung jenis hasil karya Anda.
- Perbaharu secara berkala. Tambahkan karya baru dis etiap semester, sehingga di akhir semester protofolio sudah terisi dan cukup.
Pada akhirnya, pertanyaan “bisa kerja apa?” tidak seharusnya dijawab dengan “tunggu saja nanti”. Mahasiswa jangan meunggu lulus untuk memulai karir. Ia dapat dijawab sejak dini, lewat setiap tugas yang dikerjakan serius dan dijadikan jejak karier. Maka, sebelum mengumpulkan tugas berikutnya, mahasiswa patut bertanya: apakah ini layak masuk portofolio saya? Dan sebagai dosen, kita pun patut bertanya hal serupa: apakah tugas yang kita berikan layak menjadi portofolio mereka? (*)
*)Penulis adalah dosen Progras Studi Sastra Inggris, Sekolah Tinggi Bahasa Asing JIA











