Berita Bekasi Nomor Satu

Deteksi Dini Kanker Serviks, BPJS Kesehatan Gelar ”Gebyar Papsmear” di Cikarang Selatan

TINJAU LAYANAN PAPSMEAR : Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, Abdi Kurniawan Purba bersama jajaran Forkopimda mengunjungi layanan papsmear disalahsatu klinik di Serangbaru, Kamis (29/10).ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID,BEKASI-  Kabupaten Bekasi menjadi panggung utama gerakan kesehatan nasional. BPJS Kesehatan memilih Cikarang Selatan sebagai pusat pelaksanaan “Gebyar Papsmear” serentak di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota se-Indonesia.

Langkah ini menjadi momentum dalam memperkuat deteksi dini kanker mulut rahim (serviks) bagi jutaan kaum ibu di daerah pusat industri dan pemukiman padat Jawa Barat ini.

Pemilihan Kabupaten Bekasi sebagai titik awal penyerangan preventif ini bukan tanpa alasan. Selain didukung oleh infrastruktur fasilitas kesehatan yang mumpuni, Kabupaten Bekasi memiliki dinamika kependudukan dan angka kelahiran yang sangat tinggi.

Dari data BPJS Kesehatan, terdapat 16,6 juta peserta Jaminan Kesehatan Nasional memiliki risiko kanker serviks. Jumlah itu diperoleh dari hasil skrining riwayat kesehatan yang dilakukan. Sayangnya, dari jumlah tersebut hanya 2,27 persen peserta yang menindaklanjuti potensi tersebut dengan pemeriksaan lebih lanjut.

Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, Abdi Kurniawan Purba, mengungkap bahwa potensi besar di Kabupaten Bekasi menjadi alasan utama penunjukan Cikarang sebagai pusat kegiatan nasional ini.

Menurutnya, Kanker serviks saat ini masih menempati urutan tiga besar penyakit paling mematikan bagi perempuan di Indonesia. Melalui program ini, BPJS Kesehatan secara tegas menggeser fokus kebijakannya dari sekadar mengobati (kuratif) menjadi mencegah sejak dini (promotif dan preventif).

“Kenapa kita lakukan di kantor Cikarang? Sebab di Kabupaten Bekasi jumlah ibu-ibu yang ada di sini luar biasa banyaknya, angka kelahiran di sini juga luar biasa banyaknya. Kita kolaborasikan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten, Dinas Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bekasi, PKK, hingga IBI. Seluruh Indonesia melakukan hal yang sama, tetapi gebyarnya kita lakukan di Kabupaten Bekasi ini, tepatnya di Cikarang,” kata Abdi di Cikarang Selatan, Kamis (29/10).

Ia juga menekankan bahwa keberadaan jaringan bidan di Kabupaten Bekasi sangat kuat untuk mengawal program ini langsung di tengah masyarakat. Program ini menyasar sekitar 16 juta ibu-ibu di seluruh Indonesia secara bertahap mulai kuartal keempat tahun ini hingga 2027 mendatang.

Pihaknya memastikan deteksi dini ini bisa menjangkau masyarakat seluas-luasnya, termasuk Kabupaten Bekasi yang masuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

“Kalau kita bicara hanya di kuratif, maka berapapun yang disediakan oleh negara tidak akan pernah cukup. Maka kita harus mulai melakukan shifting kebijakan, dari kuratif berubah menjadi promotif dan preventif. Tercatat di Kabupaten Bekasi ada 926, hampir 1.000 orang bidan berpraktik di sini dan ini semua provider BPJS,” tambahnya.

Deputi Direksi Bidang Kebijakan Penjaminan Manfaat BPJS Kesehatan, Afrizayanti menyatakam sasaran program deteksi dini ini mencapai 16 juta ibu-ibu yang akan digencarkan secara bertahap hingga tahun 2027.

Di Kabupaten Bekasi sendiri, layanan papsmear gratis ini terintegrasi langsung dengan jaringan Puskesmas, klinik, hingga bidan desa, dan didukung oleh laboratorium rujukan seperti Prodia, Pramita, dan Cito. Ia menjelaskan bahwa partisipasi peserta diawali dengan langkah sederhana melalui aplikasi Mobile JKN.

Ia menambahkan, Gebyar Papsmear yang digencarkan hingga akhir November ini bertujuan untuk membangunkan kesadaran para ibu yang selama ini tertunda melakukan tes. Jika dalam pemeriksaan ditemukan indikasi positif pra-kanker, pihaknya memastikan peserta langsung mendapatkan rujukan ke rumah sakit untuk ditangani oleh dokter spesialis onkologi hingga tuntas.

“Utamanya ikut skrining riwayat kesehatan yang ada di aplikasi Mobile JKN. Nanti ada di bawah itu potensi penyakit, misalnya hipertensi atau kanker rahim. Tinggal bawa ke Puskesmas atau klinik terdaftar untuk dilakukan deteksi dini dengan cara papsmear, dan tidak ada biaya untuk kegiatan itu,” terang Afrizayanti.

Yeni (39), warga Serangbaru, Kabupaten Bekasi, mengaku sempat merasa cemas sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengikuti pemeriksaan papsmear setelah berkonsultasi dengan bidan.

Sebelum mendapatkan layanan pasmear, ia mengakses aplikasi Mobile JKN dan mendatangi fasilitas kesehatan terlebih dahulu. Ia terkejut melihat prosesnya yang cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit.

“Alhamdulillah ternyata baik, mudah, enggak ribet, bagus sih. Saya datang jam 10 dilayani jam 10.30-an. Dimasukkan alat buat ngecek, sebentar doang, paling cuma 5 menit enggak sampai 10 menit,” tutupnya. (ris)