RADARBEKASI.ID,BEKASI – Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) mendorong penguatan konsolidasi internal dan transformasi institusi untuk meningkatkan mutu pendidikan, layanan mahasiswa, serta daya saing perguruan tinggi. Langkah tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Sosialisasi Visi dan Misi UM Indonesia yang diikuti jajaran dekan, ketua program studi, dan kepala lembaga di lingkungan universitas, selasa (20/20/2026)
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UM Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, menegaskan transformasi membutuhkan kesiapan seluruh unsur universitas untuk beradaptasi, menyatukan tujuan, dan memperkuat komitmen bersama.“Untuk bergerak maju, seluruh unsur universitas perlu melakukan konsolidasi, merapatkan barisan, dan menyatukan langkah,” ujarnya.
Fauzan menambahkan, konsolidasi tidak cukup dilakukan melalui penataan struktur organisasi, tetapi juga harus mencakup penyamaan cara berpikir, penguatan nilai moral, dan konsistensi dalam menjalankan program. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki posisi penting di Bekasi, UM Indonesia perlu memperkuat tata kelola, mutu pendidikan, dan kualitas pelayanan.
BACA JUGA : APBN Regional Jabar Makin Solid, Kinerja Pajak Jabar III Tumbuh hingga Rp22,11 Triliun
Ia juga menekankan pentingnya memahami kebutuhan mahasiswa dan orang tua. Menurutnya, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari kemampuan meluluskan mahasiswa tepat waktu, tetapi juga dari kesiapan lulusan memasuki dunia kerja dan meningkatkan kapasitas diri.
Karena itu, pembelajaran perlu mengintegrasikan teori dengan praktik, memperluas jejaring kerja sama, serta menciptakan iklim akademik yang kondusif. Layanan kepada mahasiswa pun harus dilakukan secara prima dan proaktif.
“Perguruan tinggi harus mengantarkan mahasiswa bukan hanya sampai kelulusan atau wisuda, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kesiapan mereka menghadapi persoalan kehidupan maupun dunia kerja,” tegasnya.
Untuk memperkuat daya saing, Fauzan mendorong setiap program studi melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap kurikulum, layanan, dan pengalaman belajar. Pembaruan perlu dilakukan setiap semester, disertai upaya menghadirkan nilai tambah akademik, moral, dan etika bagi mahasiswa.
UM Indonesia juga didorong mengembangkan inovasi yang memiliki karakter pembeda, bukan sekadar meniru praktik perguruan tinggi lain. Penguatan jejaring, branding keilmuan, serta publikasi kepakaran dosen dinilai penting untuk meningkatkan reputasi institusi.
Dalam bidang akademik, dosen dan program studi diminta lebih aktif memanfaatkan peluang hibah penelitian, publikasi, hilirisasi riset, serta pengabdian kepada masyarakat. Pengembangan pembelajaran transformatif juga mengemuka sebagai salah satu pendekatan yang dapat memperkuat kualitas pendidikan di UM Indonesia.
Sementara itu, Rektor UM Indonesia, Prof. Dr. Nazarudi Malik, menegaskan bahwa transformasi harus dijalankan secara konsisten dan menghasilkan perubahan substantif, bukan sekadar administratif.
“Transformasi harus menghasilkan bentuk baru secara substantif, bukan hanya perubahan administratif atau tampilan,” ujarnya.
Melalui langkah tersebut, UM Indonesia diharapkan mampu memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas layanan, dan membangun keunggulan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.(mif)











