Berita Bekasi Nomor Satu

Peringkat Tak Lagi jadi Patokan

Daring
MENGAJAR DARING: Guru SDN Jatiasih X Kota Bekasi saat mengajar daring di sekolah. FOTO: DEWI WARDAH
Daring
MENGAJAR DARING: Guru SDN Jatiasih X Kota Bekasi saat mengajar daring di sekolah. FOTO: DEWI WARDAH

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah sekolah jenjang SD dan SMP di Kota Bekasi tak menggunakan sistem peringkat atau ranking pada rapor sebagai penilaian hasil ketercapaian siswa selama belajar di kelas.

Kepala Bidang Pendidikan SD Dinas Pendidikan Kota Bekasi Marwah Zaitun menjelaskan, bahwa sistem peringkat sudah diserahkan kepada satuan pendidikan.

“Ada atau tidaknya peringkat sudah menjadi kebijakan masing-masing sekolah,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Selasa (9/2).

Wakil Kepala SMPN 29 Kota Bekasi Bidang Humas Nining mengatakan, sistem peringkat kelas selama proses pembelajaran secara daring tidak lagi diterapkan. Saat ini pihak sekolah hanya memberikan hasil nilai rapor dari pembelajaran siswa selama satu semester.

“Peringkat tidak lagi menjadi patokan ketercapaian siswa dalam proses pembelajaran,” kata Nining.

Menurutnya, ketidakmaksimalan proses pembelajaran secara daring membuat siswa memiliki keterbatasan dalam mengikuti pelaksanaannya. Oleh karenanya ketercapaian akademik tidak bisa diukur selama proses pembelajaran secara daring.

“Siswa memiliki keterbatasan dalam proses pembelajaran, saat ini siswa dapat mengerjakan tugas sekolah saja sudah baik. Jadi tidak perlu lagi ada peringkat untuk melihat semua ketercapaian itu,” jelasnya.

Namun saat tidak dipungkiri masih banyak orangtua siswa yang menanyakan hasil ketercapaian siswa melalui ranking. Karena itu, guru melalui wali kelas memetakan siswa dari hasil nilai yang telah diperoleh.

“Memang masih ada sebagian orangtua yang nanya peringkat anaknya, makanya kita memetakannya dari hasil nilai pembelajaran siswa dan memberikan penjelasan kepada orangtua siswa tersebut,” ucapnya.

Hal senada disampaikan guru SDN Jatimakmur V Kota Bekasi Zaenal. I mengungkapkan, sebelum masa pandemi sistem peringkat kelas sudah tidak lagi digunakan untuk melihat sebuah ketercapaian siswa di sekolah.

“Sudah sejak 2019 tidak diterapkan sistem peringkat, tapi waktu itu masih masa penyesuaian jadi masih ada yang menerapkan. Nah di masa pandemi ini hampir seluruh kelas tidak lagi menerapkan sistem peringkat tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, sebuah peringkat dalam tujuan membeda-bedakan kemampuan siswa sangatlah tidak baik lantaran setiap siswa memiliki prestasi di bidangnya masing-masing. Oleh karenanya ketercapaian dalam bidang akademik tidaklah menjadi sebuah patokan.

“Karena pandemi ini proses pembelajaran tidak bisa dilaksanakan secara maksimal, makanya kami tidak lagi menggunakan sistem peringkat untuk melihat ketercapaian siswa,” pungkasnya. (dew)