
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Para dosen dituntut untuk lebih meningkatkan profesional dalam mengajar dan mampu menulis karya ilmiah, baik untuk jurnal maupun media lainnya. Kesadaran dosen di Bekasi dalam menulis karya ilmiah untuk jurnal disebut mengalami peningkatan.
Asosiasi Dosen Indonesia Majelis Pengurus Daerah (ADI MPD) Bekasi Raya mencatat, jumlah dosen di wilayahnya sebanyak 2.000 orang. Ribuan dosen itu berstatus tetap dan tidak tetap.
“Dari jumlah dosen yang ada, saat ini kesadaran dalam menulis jurnal cukup meningkat 30 sampai 35 persen,” kata Ketua ADI MPD Bekasi Raya Wawan Hermawansyah kepada Radar Bekasi, Senin (14/2).
Mengajar dan meneliti pun dinilai harus menjadi kesatuan. Wawan menyebut, sinkronisasi kedua hal itu memang sudah menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi dosen maupun perguruan tinggi.
“Isu ini memang sudah lama sekali menjadi PR bagi kami dosen dan perguruan tinggi, dimana sebelumnya antara mengajar dan meneliti itu tidak sinkron. Kami dosen lebih fokus pada proses pengajaran” ujarnya.
Wawan menyebut, dosen memiliki tugas dan kewajiban yang melekat. Yaitu, mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat sebagai salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Tiga hal yang sangat melekat bagi para dosen itu harus dijalankan, tidak bisa dipilih salah satu,” katanya.
Dikatakan, sejak 2005 dosen ditetapkan sebagai profesi profesional. Sehingga ditekankan tidak hanya fokus mengajar seperti halnya guru di sekolah.
“Maka saat ini dosen ditekankan bukan hanya mengajar saja, melainkan fokus juga pada proses penelitian,” jelasnya.
Proses penelitian harus dipublikasikan dengan cara dibuat buku, seminar maupun jurnal. Sehingga dalam hal ini kesadaran dan pemikiran dalam diri dosen harus terbuka luas.
“Mindset dosen harus terbuka, tanamkan dalam pikiran bahwa penelitian dalam pembuatan jurnal itu bukan jadi sebuah kewajiban tapi kebutuhan. Kalo kewajiban kan kayak ada tekanan, maka jadikanlah itu semua jadi sebuah kebutuhan agar proses nya bisa berjalan dengan mudah,” terangnya.
Dikatakan Wawan, kesadaran dosen dalam menulis karya ilmiah yang mengalami peningkatan harus dipertahankan. Tentu butuh dukungan semua pihak.
“Ini butuh kerja keras bersama, antara perguruan tinggi, dosen dan pemerintah. Karena penelitian itu membutuhkan dana yang besar, jadi butuh sangat butuh dorongan dari sejumlah stakeholder terkait,” ucapnya.
Dalam pembuatan jurnal, kata dia, memiliki skala yang berbeda, yaitu skala nasional dan skala internasional. Dalam skala nasional belum memiliki akreditasi, sementara skala internasional yang sudah terakreditasi terindeks Scopus.
“Skala nasional itu pembahasannya masih seputar Indonesia saja, tetapi kalau skala internasional mereka riset pembuatan jurnalnya sudah melibatkan beberapa negara,” jelasnya.
Sehingga ADI terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran dan mindset para dosen agar dapat menghasilkan jurnal-jurnal yang kompeten dan tentunya dapat bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami ADI bersama APTISI dan Fordorum akan bekerja sama untuk membuka mindset para dosen agar peningkatan yang sudah ada bisa terus dipertahankan dan dikembangkan kembali,” pungkasnya. (dew)











