Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

Begal Tebas Anggota Brimob

RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI DIRAWAT : Aiptu Edi Santoso mendapat perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Brimob Kelapa Dua usai dibegal oleh 3 orang remaja di Jalan Raya Kranggan Jatiraden, Jatisampurna Kota Bekasi, Selasa (15/2).

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Meningkatnya penyebaran Covid-19 belakangan ini ternyata tidak menyurutkan aksi kriminal jalanan di Bekasi. Korban terus berjatuhan, bahkan yang teranyar (korban) merupakan anggota pasukan elite kepolisian. Redaksi Koran ini berhasil mewawancarai ‘alumnus’ anggota begal yang terkenal kejam saat beraksi.

Aipda Edi Santoso merasa ada yang tak beres dengan perjalanan pulangnya, Selasa (15/2) dini hari lalu. Meski tetap melewati rute yang sama, yakni Pondok Gede menuju di bilangan Cibubur, anggota Brimob ini mulai curiga dengan pengendara motor berboncengan tiga orang yang terus membuntutinya.

Benar saja, setibanya di Jalan Raya Kranggan, RT 01/07, Kelurahan Jatiraden, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, tanpa ba-bi-bu, salah seorang penumpang motor berboncengan tiga itu menghunuskan celurit yang disembunyikan di balik jaketnya. Ia kemudian menebas tangan kiri Edi. Penumpang lainnya lantas menendang kemudi motor matik Edi yang lajunya sudah terhuyung.

Tak lama usai Edi terjatuh, motornya pun lantas digondol oleh salah seorang penumpang motor yang menyerangnya. Edi yang terluka lantas ditemukan oleh anggota Linmas Kelurahan Jatiraden, Sarwono saat berkeliling.

“Darahnya lagi ngucur tuh, dia (korban) langsung nempel di tembok minta pertolongan, dia minta dibawa ke rumah sakit. Darah di punggung, dia pakai jaket,” katanya saat dijumpai Radar Bekasi, kemarin.

Edi kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Brimob Kelapa Dua. Kasus ini tengah dalam penyelidikan pihak kepolisian.Kemarin, petugas kepolisian setempat telah mendatangi lokasi kejadian untuk memeriksa dan melakukan olah TKP.

“Personil Polsek Jatisampurna dengan Satreskrim Polres Metro Bekasi Kota sedang cek dan olah TKP,” ungkap Kasatreskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Alexander Yurikho.

Edi merupakan satu di antara 12 peristiwa pembegalan di Bekasi yang terjadi kurun waktu Agustus 2021 hingga 15 Februari 2022 kemarin. Pelaku menggunakan senjata tajam dalam melancarkan aksinya, tidak jarang tega melukai korbannya hingga tak berdaya.

Catatan Polres Metro Bekasi Kota, Tahun 2021 ada 164 kasus Pencurian Dengan Pemberatan (Curat), 13 Pencurian Dengan Kekerasan (Curas), dan 80 kasus Pencurian Kendaran Bermotor (Curanmor). Sementara di Kabupaten Bekasi, Polres Metro Bekasi mencatat kasus begal naik 22 persen.

Aksi kejahatan jalanan di Bekasi masih dilatari alasan klasik. Yakni ekonomi. Tak sedikit dari pelaku ternyata memang warga pribumi Bekasi.

Salah seorang mantan begal di Kabupaten Bekasi, Banol, kepada wartawan koran ini mengatakan, ia dan mantan komplotannya terjerumus tindak kriminal lantaran lelah tak punya ladang nafkah.

Pemuda 24 tahun ini mengaku, awal bergabung dengan komplotan begal tiga tahun lalu setelah lulus dari SMA. Karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan, dia diajak teman-temannya melakukan aksi kejahatan begal.”Waktu pertama kali (melakukan aksi) di wilayah Sukatani,”katanya kepada Radar Bekasi.

Sama seperti dirinya, teman-temannya yang lain melakukan aksi begal karena motif ekonomi. Sebelum melakukan aksinya, dia biasanya mengkonsumsi narkoba atau alkohol sembari membekali diri dengan senjata tajam (sajam) untuk menakuti korban.

“Biasanya karena gabut saja (jenuh), nggak ada kerjaan, duit nggak ada, terus mikirin ekonomi bagaimana, minta duit sama orang tua juga nggak ada. Jadi kaya begitu,” ungkapnya.

Saat melakukan aksinya, biasanya berjumlah empat orang atau lebih. Tidak ada seleksi, siapapun teman di tongkrongan yang berani langsung diajak beraksi.

“Biasanya mencari orang (korban) yang lengah, mau di tempat ramai juga, kalau melihat korbannya lemah, ya udah bisa saja. Kebanyakan ibu-ibu, karena gampang dikelabui atau takutinya,” tuturnya sembari menambahkan, sasaran kejahatannya di wilayah kecamatan Tambelang, Sukatani, Sukawangi, Tambun Utara, sampai Cikarang

Sebelum melakukan aksinya, dia bersama tim mengatur peran-perannya, siapa yang membawa motor dan yang membawa senjata tajam (sajam).

“Minimal dua motor kalau beraksi, karena takutnya si korban melawan. Rata-rata usia pelaku begal 25 tahun, walaupun ada yang tua perannya hanya mengatur saja. Untuk yang beraksi anak-anak,” jelasnya.

Setelah berhasil melakukan aksi tersebut, para Banol langsung membawa hasil kejahatannya ke tempat aman. Bahkan, terkadang langsung dibawa ke tempat penadah. Lalu uang hasil curian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Uangnya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, karena memang nggak ada kerjaan,” bebernya sembari mengaku, untuk sepeda motor biasanya mereka jual Rp2 hingga Rp4 juta, tergantung kondisi motor.

Tidak selalu berjalan mulus, dia mengaku pernah tertangkap polisi. Namun, tidak sampai ditahan karena langsung ditebus. Saat ini, Banol mengaku sudah taubat dan tak melakukan aksi begal lagi.

”Sekarang saya sudah kerja, jadi gak ikutan begal lagi,”tegasnya.

Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala mengatakan fenomena tindak kejahatan ini kerap terjadi di kota-kota sekitar Jakarta. Pada pelaku begal cenderung memilih lokasi di kota-kota pinggiran Jakarta.

Ada berbagai alasan memilih lokasi untuk melancarkan aksinya, para pelaku berasumsi lokasi di pinggiran Jakarta lebih gelap dan sepi. “Ditambah lagi para pelaku terdiri dari beberapa orang, bersenjata tajam, dan amat boleh jadi telah mengkonsumsi alkohol atau obat, menjadikan mereka berani,” paparnya.

Pilihan cara untuk menghindari pengendara menjadi korban aksi pembegalan diakui sulit. Namun, pilihan berkendara sebelum larut malam adalah langkah paling bijak untuk menghindari begal. Pilihan terakhir, berboncengan bisa menjadi alternatif jika tidak mungkinkan melakukan perjalanan sebelum larut malam.

Pada saat menjalankan aksinya, pelaku begal disebut tidak akan memilih-milih sasaran. Ini terbukti dari beberapa kasus terakhir di Bekasi, dimana korban begal mulai dari pengendara dewasa, pedagang, hingga ibu hamil, bahkan yang terakhir adalah anggota polisi.

Pihak kepolisian bisa merancang operasi tertutup untuk menjebak pelaku begal di lokasi-lokasi rawan.

“Perihal kepolisian, operasi tertutup untuk memancing dan menjebak pelaku, perlu dilakukan oleh polsek-polsek pinggiran,” tegasnya. (Sur/pra)