RADARBEKASI.ID, BEKASI – Telepon genggam Yani (35), salah seorang warga Perumahan Pondok Gede Permai (PGP) kecamatan Jatiasih terus berdering pada rabu malam sekitar pukul 22.00 WIB. Matanya tak lepas dari layer Telepon pintarnya membaca pesan singkat dari grup whatsapp warga. Pasalnya, dia sudah menerima informasi dari warga lainnya tinggi muka air di hulu kali Bekasi sudah melebihi batas normal sejak pukul 18.00 WIB.
Tepat pukul Pukul 22:15 WIB, pesan singkat memberi informasi air di hilir sungai meluap. Pemukiman warga di perbatasan Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor lebih dulu terendam banjir, sebelum air juga tumpah membanjiri permukiman di sepanjang Kali Bekasi. Dia pun langsung mengemasi barang perabot untuk dibawa ke lantai dua rumah nya.
Dia tidak sendiri, puluhan warga lainya panik karena air datang tiba-tiba. Padahal, sepanjang rabu siang cuaca di Kota Bekasi cerah. Namun, tak pernah menyangka jika air datang sangat cepat. Rumahnya tepat di samping perumahan ini letak Pertemuan Sungai Cileungsi dan Cikeas (P2C). Tinggi Muka Air (TMA) nya mencapai 710 cm, sedangkan batas normal TMA 350 cm, air tumpah ke komplek perumahan, menjebol tanggul perumahan.
“Nggak ada hujan, tiba-tiba air datang langsung merendam rumah,”katanya sembari mengaku, ketinggian air malam hingga dini hari kemarin mencapai 150 cm. Rumah dua lantai yang ia tempati terendam hanya menyisakan dua anak tangga sebelum tiba di lantai dua rumah.
“Rumah saya dua tingkat kaya gini tinggal dua tangga. Saya nggak mengungsi karena diatas belum kena,” sambungnya, Kamis (17/2).
Pukul 9:30 WIB, ketinggian banjir tersisa 50 cm di jalan perumahan, di dalam, masih berkisar 1 meter, surut seiring dengan menurunnya volume air Kali Bekasi. Jalan perumahan mulai bisa dilintasi kendaraan pukul 11:30 WIB, lumpur sisa banjir tertinggal di jalan hingga bagian dalam rumah warga.
Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, banjir hingga pohon tumbang disebabkan oleh hujan deras dan kiriman air dari hulu. Aliran listrik di wilayah perumahan warga yang terendam banjir padam. Warga sekitar sudah mengetahui ada normalisasi kali yang sedang dikerjakan di balik tanggul perumahan.
Bersih-bersih pasca banjir merupakan pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh warga di sepanjang aliran Kali Bekasi tiap kali terendam banjir. Dengan kondisi kotor penuh lumpur, perkiraan waktu untuk membersihkan permukiman dan tempat tinggal memakan waktu sepekan jika tidak dibantu petugas.
“Yang dihadapkan ya tanggulnya aja diperbaiki, biar aman Pondok Gede Permai,” kata warga lainnya, Rahmat (46).
Sejumlah masyarakat yang terdampak banjir melakukan evakuasi mandiri ke rumah kerabat, tercatat setidaknya ada 50 jiwa mengungsi di gudang BNPB, tepat di depan Perumahan PGP.
Tanggul sementara yang dibuat dari karung berisi pasir atau sand bag jebol akibat dorongan air yang datang dari hulu. Pemerintah Kota (Pemkot) meminta persoalan juga diselesaikan di hulu sungai Cileungsi dan Cikeas di Kabupaten Bogor, tata guna lahan di hulu disebut sangat berpengaruh dengan bencana banjir yang sering dirasakan oleh masyarakat di sepanjang Kali Bekasi.
“Hampir semua di sepanjang Kali Bekasi, karena tadi malam itu cukup besar. Ketinggian tanggul kita itu rata-rata enam meter, air yang datang 7,5 meter. Jadi memang sudah pasti melimpah,” ungkap Plt Walikota Bekasi, Tri Adhianto.
Koordinasi perbaikan tanggul sementara dilakukan dengan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Meski diprediksi pekerjaan perbaikan tanggul darurat akan selesai diperbaiki hari ini, kondisinya belum aman.
Volume dan kekuatan air yang datang dari hulu tidak bisa diprediksi. Terkait dengan langkah konkrit untuk menyelesaikan persoalan air kiriman ini, Tri menyebut tahapan pekerjaan normalisasi sedang berjalan, hanya saja dibutuhkan waktu selama tiga tahun untuk memperkuat tanggul hingga mengeruk sedimentasi Kali Bekasi.
“Tentunya pemerintah (Kota Bekasi) dan pusat akan berkoordinasi adanya suatu percepatan untuk tidak lagi terjadi banjir,” paparnya.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Bekasi, Enung Nurcholis memastikan penyebab utama banjir dengan ketinggian lebih dari satu meter di wilayah ini adalah tanggul yang jebol sepanjang 30 meter. Tanggul sandbag yang jebol tersebut sebelumnya jebol pada tahun 2020, selama satu tahun terakhir warga berlindung di balik tanggul darurat.”Kalau tidak sih hanya rembes aja. Itu jebol tahun 2020,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala BBWSCC, Bambang Heri Mulyono menyampaikan bahwa kesulitan pekerjaan normalisasi kali disebabkan oleh akses di dalam area perumahan sempit. Meski tanah yang berada dekat dengan bibir kali sudah dibebaskan, namun akses masuk alat berat relatif sempit.
Diakui bahwa pekerjaan normalisasi berupa pengerukan dan pembuatan tanggul baru belum sampai di lokasi tanggul yang jebol, diperkirakan pekerjaan normalisasi menyentuh lokasi tersebut akhir bulan Februari ini. Tanggul yang jebol kembali diperbaiki menggunakan geobag, bersifat darurat.”Yang sudah selesai (normalisasi) 5,2 km. Saat ini tanggul daruratnya sedang diperbaiki,” ungkapnya.
Diketahui, normalisasi sungai mulai dikerjakan pada akhir Februari 2021 lalu. Normalisasi dilakukan sepanjang 43 km mulai dari P2C sampai hilir di wilayah Kabupaten Bekasi, menelan anggaran 4,7 triliun.
Tidak sekaligus, pekerjaan normalisasi dibagi dalam 7 paket kegiatan, dimulai dari hulu sepanjang 12 km, mulai dari P2C hingga bendung Bekasi.
Sementara itu, ketinggian air yang merendam kampung di kecamatan Tambun Utara, kecamatan Babelan, dan kecamatan Sukawangi mencapai 30-200 Cm. “Jadi meskipun intensitas di kita rendah, tapi kalau di hulu hujannya tinggi, maka air meluapnya ke kita. Ada tiga kecamatan yang banjir, karena meluapnya kali Bekasi,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bekasi Muhammad Said.
Saat ini ketinggian air 30-150 Cm. Untuk antisipasi banjir susulan, dirinya sudah menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemantauan, tentunya berkoordinasi dengan aparat kecamatan, desa, maupun komunitas-komunitas relawan. Termasuk memberikan logistik untuk korban banjir.
Saat ini pihaknya sudah menyiapkan tenda apabila dibutuhkan. Walaupun untuk sekarang warga atau korban banjir belum membutuhkan posko pengungsian. Karena lebih memilih tempat-tempat penampungan yang disiapkan oleh pihak desa dan kecamatan. Seperti Masjid dan fasilitas umum lainnya.
“Di wilayah-wilayah itu kita sudah standby kan tim di posko-posko pemantauan, khawatir intensitas hujan di wilayah Bandung, Purwakarta, dan Karawang tinggi. Untuk debit air sungai Citarum masih normal,” jelasnya. (sur/pra)











