RADARBEKASI.ID, BEKASI – Meroketnya harga kedelai, membuat pengrajin tempe dan tahu di Bekasi pusing tujuh keliling. Karena, modal yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Jalan satu-satunya, mereka akan mogok produksi selama tiga hari kedepan sebagai bentuk protes kepada pemerintah.
Seperti yang dirasakan oleh Kasturi (51), pengrajin tempe tahu yang ada di Kampung Cabang Lio RT 03 RW 04, Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara. Dia mengaku akan mogok produksi sebagai bentuk protes kepada pemerintah dengan tingginya harga kedelai saat ini. “Ini bentuk protes kita, karena harga kedelai sudah naik cukup tinggi, kita semakin merugi, bahan pokok mahal belum lagi biaya produksi yang harus kita tanggung,” ujarnya.
Mulai kemarin, dia mulai merapikan alat produksi tempe dan tahu. Ya, tiga hari kedepan akan stop produksi. Hal ini seiring dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) Kabupaten Bekasi.
“Saya bersama teman-teman lainnya sudah sepakat untuk tidak melakukan produksi, agar pemerintah bisa memperhatikan nasib para pengrajin tempe dan tahu yang terus merugi,” ungkapnya.
Senada disampaikan pengrajin tempe yang berada Jalan Zamrud Selatan, Mekarsari, Tambun Selatan. Akibatnya, tidak ada barang yang dijual ke pasar. “Proses bikin tempe butuh waktu tiga hari, jadi kami benar-benar berhenti produksi sejak Sabtu dan Minggu kemarin. Otomatis hari ini enggak ada barangnya,” ucap pengrajin tempe Yanto (37).
Mogok dilakukan oleh semua perajin tempe se-Jawa Barat yang telah menerima surat edaran dari Primer Koperasi Perajin Tahu Tempe (Primkopti) Jawa Barat. “Kami ikuti aturan saja. Karena sama-sama pengrajin, jadi harus saling memahami, biar pemerintah tahu kalau yang kesulitan itu para pengrajin,” katanya.
Terlebih lagi, Yanto mengatakan kenaikan harga sudah berbulan-bulan terjadi. Namun hingga kini, harga kedelai semakin melambung tinggi. “Satu karung 50 kilogram, kalau dua karung harganya sebelum naik cuma berkisar Rp700-800 ribu. Kalau sekarang, dua karung sudah Rp1,1 juta. Kerasa banget naiknya,” tukasnya.
Ketua Primkopti Kabupaten Bekasi, Teguh mengungkapkan, harga kedelai mulai mengalami kenaikan sejak Agustus 2021 silam. Menurutnya, kenaikan perlahan dari harga Rp 8.500 rupiah per kilogram menjadi Rp 10.500 rupiah, dan bertahan hingga di akhir Desember 2021.
“Kenaikan yang cukup tinggi ini mulai dirasakan sejak awal bulan Februari, sampai seharga Rp 11.500 rupiah per kilonya, tentu ini sudah sangat membebani para produsen,” katanya.
Selain itu, tidak stabilnya harga kedelai impor membuat produsen kebingungan menyiasatinya agar tetap mendapat keuntungan. Saat ini kata Teguh, ada sekitar 500 produsen tempe dan tahu yang ada di Kabupaten Bekasi harus mencari solusi agar bisa tetap bertahan.
“Kalau data di kami itu ada sekitar 500 lebih produsen tempe dan tahu, bahkan sejumlah produsen juga sudah ada yang istirahat produksi karena sudah tidak mampu menyiasati lagi dampak dari kenaikan harga kedelai,” jelasnya.
Koordinator wilayah (Korwil) SPTI Kota Bekasi, Sugeng berharap pemerintah memberikan perhatian kepada perajin atau UKM-UKM. “Intinya, kita pengen ngerti (tau) pemerintah itu bisa kasih kesepakatan harga untuk kami ini berapa, karena beberapa waktu lalu kami sudah menghadap ke pemerintah tapi untuk tanggapannya cuma ‘iya-iya’, tapi kenyataannya nggak,” Ketusnya.
Saat ditanya mengenai tuntutan lainnya, dia pun menegaskan, bahwa pihaknya dan para perajin lainnya tidak memiliki tuntutan apa-apa lagi, selain ingin tahu harga yang diberi pemerintah terkait bahan-bahan produksi tahu-tempe. “Nggak ada, kami mau tau aja harga dari pemerintah berapa saja,” tutup perajin tahu yang sudah berusaha 12 tahun silam tersebut. (pra/mhf)











