BEKACITIZEN

Prophetic Teaching dan Parenting di Tengah Wabah Pandemi Coronavirus

Oleh: J. Faisal (Pemerhati Pendidikan, Ketua Umum Yayasan Anugerah Qalam Indonesia (YAQIN))

Selalu ada hikmah di balik semua peristiwa. Mungkin itulah ungkapan yang selalu tepat yang dapat kita pahami maknanya di balik semua peristiwa kehidupan yang kita hadapi di dunia ini.

Begitupun dengan situasi yang kita hadapi saat ini, di tengah serbuan wabah virus Covid-19, yang notabene sedang menjadi pandemi dunia yang cukup ganas dan menakutkan.

Langkah yang sangat tepat dalam menghadapi gerak penyebaran virus ini adalah dengan membatasi ruang gerak virus itu sendiri. Menjaga jarak (physical distancing) dan membatasi gerak sosial kita (social distancing), rajin mencuci tangan, dan menjaga kesehatan secara umum, adalah bentuk pembatasan penyebaran virus Covid-19 ini, berdasarkan panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mengikuti anjuran pemerintah dalam proses penghentian penyebaran virus juga menjadi bentuk langkah konkret kita sebagai warga negara yang baik yang mempunyai rasa saling menjaga terhadap kesehatan pribadi, dan juga kesehatan orang lain.

Kegiatan bekerja di rumah, belajar di rumah, dan juga beraktivitas lainnya di rumah adalah bentuk social distancing.

Kesempatan untuk melakukan segala aktivitas di rumah ini sebenarnya adalah kesempatan yang baik bagi para anggota keluarga untuk saling berinteraksi secara intens dan secara kualitatif.

Salah satu bentuknya adalah orangtua dapat mempunyai waktu lebih untuk memberikan pelajaran kepada anak-anaknya secara langsung.

Dalam memberikan pelajaran secara langsung kepada anak-anaknya di rumah, para orangtua dapat mengikuti pola atau cara Rasulullah SAW dalam memberikan penanaman nilai-nilai tauhid dan adab (Prophetic Parenting), dan memberikan pendidikan kepada anak-anak, dan kepada para sahabat beliau (Prophetic Teaching).

Sedangkan dasar perintah kita sebagai orangtua dalam mendidik anak-anak kita secara langsung adalah firman Allah SWT dalam Surat At-Tahrim, ayat (6), yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat di atas juga merupakan sebuah dalil yang sangat kuat dan merupakan perintah Allah yang sangat keras kepada para orangtua dalam mengasuh, dan mendidik anak-anak serta anggota keluarga lainnya dengan baik dan benar.

Lantas pendidikan yang seperti apa yang wajib diajarkan oleh para orangtua kepada anak-anak mereka? Jawabnya adalah pendidikan mengenai akidah, akhlak, adab, dan ibadah. Karena dengan modal pendidikan itulah yang akan menyelamatkan anak-anaknya dari api neraka.

Mendidik anak adalah merupakan tanggungjawab mutlak orangtua. Dan setiap tanggungjawab akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a, “Bahwasannya setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang pemimpin adalah penggembala dan ia bertanggungjawab atas gembalannya. Seorang laki-laki adalah penggembala di dalam keluarganya, dan ia bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang istri adalah penggembala di rumah suaminya, dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya. Seorang pelayan adalah penggembala pada harta majikannya dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Setelah kita mengetahui dasar-dasar hukum dan perintah dalam mendidik anak, berikut ini adalah teknis bagaimana Rasulullah SAW membagi tahapan pendidikan anak-anak secara tepat berdasarkan usia dan tingkat kedewasaan mereka.

  1. Pendidikan di Tahapan Usia 0-6 Tahun Usia 0-6 tahun dikenal dalam ilmu psikologi sebagai usia emas (golden ages).

Pada saat ini, anak akan mengalami masa tumbuh kembang yang sangat cepat, baik fisik maupun otaknya. Perkembangan otak anak pada usia ini bisa mencapai 80%. Setiap informasi baik yang bersifat positif maupun negative akan sangat mudah diserap oleh mereka.

Dan inilah yang menjadi dasar terbentuknya karakter, kepribadian, dan kognitif mereka. Untuk itulah pada masa ini, Rasulullah SAW mencontohkan kita untuk memanjakan, mengasihi, dan menyayangi mereka dengan kasih sayang yang agak lebih. Tentu saja dituntut kesabaran yang agak lebih dan berlapis bagi para orangtua dalam mendidik anak-anaknya di usia golden ages ini.

Mengapa demikian? Dengan memberikan kasih sayang yang berlebih di usia ini, maka sang anakpun akan mempunyai ikatan batin kasih sayang yang sangat kuat terhadap orangtuanya. Dan hal tersebut akan terus melekat sampai ketika mereka dewasa.

Dengan demikian mereka akan lebih mempercayai orangtuanya sendiri daripada orang lain. Bahkan di usia dewasa mereka kelak, mereka akan tetap menjadikan orangtuanya sebagai teman dan rujukan yang terbaik, tempat bertanya yang paling nyaman, dan tempat curahan hati (curhat) yang paling terpercaya.

  1. Pendidikan di Tahapan Usia 7-14 Tahun Di masa ini Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mendidik anak-anak kita dengan pendekatan ketegasan dan militansi.

Artinya adalah, Rasulullah SAW mencontohkan kita untuk mendidik anak di usia ini dengan memberi mereka beban-beban, perintah-perintah, dan tugas-tugas tertentu untuk melatih atau menanamkan kepada anak arti tanggungjawab, kemandirian, dan kedisiplinan.

Tujuannya adalah agar anak kelak menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan mandiri. Dan pada saat usia ini pula, orangtua harus bersikap tegas terhadap ibadah fardhu mereka, salah satunya adalah dengan mendirikan sholat fardhu.

Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah SAW dalam haditsnya, yaitu: “Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk mendirikan sholat fardhu ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka ketika meninggalkan sholat ketika mereka telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud).

  1. Pendidikan di Tahapan Usia 15-21 Tahun Di masa usia ini, pendekatan yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam mendidik adalah dengan menggunakan pendekatan persahabatan.

Mengapa ini yang dilakukan oleh Rasulullah SAW? Rasulullah SAW sangat memahami bahwa usia 15-21 tahun adalah usia yang sangat tanggung. Disebut demikian karena sang anak sudah bukan anak kecil lagi, juga belum layak bila disebut dewasa.

Inilah yang disebut sebagai masa peralihan dari awal kedewasaan sang anak menuju usia dewasa yang sebenarnya. Segala macam perubahan tingkah laku dan kepribadian bisa berubah di usia ini. Untuk itulah Rasulullah SAW menggunakan metode pendidikan yang sangat manjur untuk anak usia remaja ini, yaitu dengan metode komunikasi yang intens dan dengan senda gurau yang tidak berlebihan tetapi tetap dalam konteks pendidikan.

Anas bin Malik r.a. pernah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Wahai pemilik dua telinga….(HR. Tirmidzi). Panggilan Rasulullah SAW itu menurut Abu Usamah adalah pangilan bercandanya Rasulullah SAW kepada Anas bin Malik r.a. yang ketika itu sudah menginjak masa remaja.

Rasulullah SAW juga mencontohkan kita untuk selalu membangun komunikasi terhadap anak-anak kita yang sudah mulai menginjak masa remaja atau masa dewasa awal ini secara intens, layaknya dua orang sahabat yang terbuka satu sama lain.

Hal ini dicontohkan oleh beliau ketika sedang menemani para remaja di masa itu. Suatu saat Rasulullah SAW pernah menemani Ibnu Abbas r.a. berjalan berdua layaknya sahabat.

Atau pada kesempatan lain, beliau menemani keponakannya, Jafar r.a. berbincang-bincang layaknya seorang teman. Juga pada lain waktu Rasulullah SAW menemani Anas bin Malik r.a. untuk berbincang-bincang di saat Anas bin Malik r.a. dalam keadaan senang maupun sedih.

Rasulullah SAW bisa menjadi seorang motivator di suatu saat, dan di saat yang lain beliau bisa menjadi pendengar yang sempurna, yang mampu membuat para remaja di saat itu menjadi lega perasaannya.

Terbukti begitu cerdasnya Rasulullah SAW dalam memahami kejiwaan seseorang, sehingga beliau mampu untuk menerapkan model pendidikan yang seperti apa yang cocok diterapkan kepada para sahabatnya, keluarga, dan umatnya.

Kesesuaian antara nasihat, dan perilaku merupakan inti dari keteladanan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada mereka.

  1. Pendidikan di Tahapan Usia 21 Tahun ke Atas Pendekatan pendidikan yang digunakan oleh Rasulullah SAW terhadap seorang anak di usia ini adalah dengan pendekatan kepercayaan (Trust) yang tinggi.

Rasulullah SAW memberikan kebebasan kepada mereka di usia ini. Mengapa demikian? Karena Rasulullah SAW paham bahwa seorang anak di usia 21 tahun sudah bisa membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang salah.

Bahkan Rasulullah SAW sudah memberikan tanggungjawab penuh kepada pemuda di usia 21 tahun ke atas ini dengan memberikan mereka perintah dan hukuman.

Hal ini dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW terhadap putri tercintanya, Fatimah az-Zahra r.a. Dalam haditsnya bersabda: ”Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya’” (HR. Bukhari).

Di dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW juga menunjuk Usamah bin Zaid yang pada saat itu baru memasuki usia 19 tahun, sebagai panglima perang di perbatasan Syam.

Dia membawahi sahabat lainnya termasuk Umar bin Khattab. Beberapa sahabat mempertanyakan keputusan tersebut, sebab banyak sahabat senior dalam pasukan seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lainnya. Mereka dianggap lebih pantas memimpin pasukan.

Beliau kemudian bergegas menemui para sahabat di Masjid Nabawi. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sekalian manusia, aku mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah? Demi Allah, seandainya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah Zaid sangat pantas memegang pimpinan, begitu pula dengan puteranya Usamah.”

Rasulullah SAW melanjutkan, “Jika ayahnya sangat aku kasihi, maka putranya pun demikian. Mereka orang baik. Hendaklah kalian memandang baik mereka berdua. Mereka juga sebaik-baik manusia di antara kalian.” Beliau lalu kembali ke rumahnya.

Mendengar sabda Rasulullah SAW, kaum Muslimin mulai datang bergabung dengan pasukan Usamah. Hal tersebut merupakan bentuk keyakinan dan kepercayaan Rasulullah SAW terhadap kemampuan Usamah bin Zaid dalam memikul tanggungjawab yang sangat berat pada saat itu.

Demikianlah kecerdasan dan kemampuan Rasulullah SAW untuk menjadi teladan dalam memberikan model pendidikan yang sangat tepat kepada anak-anak, dan juga remaja, untuk kita jadikan panutan, agar supaya kita sebagai umatnya mampu untuk mendidik anak-anak kita secara langsung dengan mencontoh pola pengajaran dan pendidikan Rasulullah SAW.

Dan akhirnya, marilah kita sama-sama berdo’a, semoga wabah virus Covid-19 ini segera diakhirkan oleh Allah SWT, sehingga kita semua dapat melakukan kegiatan kita seperti sediakala, dan semoga Allah SWT selalu melimpahkan kesehatan dan keberkahan kepada kita semua. Aamiin ya Allah ya Robbal’alamiin.

Wallahu’alam bisshawab (*)

Tags
Close