BekasiBerita Utama

Awas Stunting Bertambah

Stunting Illustrasi

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) selama pandemi Covid – 19 ini tidak bisa dilakukan secara langsung seperti sebelumnya. Pemantauan tumbuh kembang balita harus tetap dilakukan menggunakan cara apapun sepanjang memakai protokol kesehatan. Hal ini dilakukan untuk menanggulangi angka prevalensi stunting di Kota Bekasi bertambah.

Mulai kurun waktu Maret lalu, kegiatan posyandu menggunakan metode berbeda dari biasanya, karena kondisi kesehatan balita dinilai cukup rentan. Teknis yang dilakukan oleh pemerintah Kota Bekasi untuk memantau tumbuh kembang serta kesehatan balita dilakukan di Puskesmas dan mendatangi rumah warga yang memiliki balita (sweeping).

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) sebagai pembina Posyandu mengaku, hingga saast ini masih menunggu pembahasan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan apakah Posyandu kembali bisa melakukan kegiatan seperti biasa atau tidak. Jumlah Posyandu yang tersebar di 12 kecamatan saat ini kurang lebih 1.500 posyandu.

“Sekitar 1.500an, hampir di setiap RW punya,” ungkap Kepala Dinas DPPPA Kota Kota Bekasi, Riswanti kepada Radar Bekasi, Rabu (15/7).

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tanti Rohilawati mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan balita diantaranya menjadi suatu hal yang harus dipertimbangkan. Meskipun demikian, bagaimanapun jika ini dapat dilakukan, pelaksanaan protokol kesehatan harus menjadi perhatian.

Ia menjabarkan, selama pandemi ini kegiatan posyandu dilaksanakan di puskesmas dan sweeping. Untuk kegiatan imunisasi balita dilakukan di Puskesmas. Peran posyandu disebut oleh Tanti penting bagi kesehatan dan tumbuh kembang balita, salah satunya untuk memberikan penyuluhan pencegahan stunting kepada masyarakat.

“Oleh karena itu sosialisasi dan informasi kepada masyarakat terkait asupan gizi pada saat mulai dari 1.000 kehidupan, mulai hamil sampai pada saat lahir itu harus menjadi perhatian. Karena itu penting sekali untuk pertumbuhan perkembangan anak,” terangnya.

Data yang dihimpun oleh Radar Bekasi, angka prevalensi stunting hingga akhir 2019 lalu di Kota Bekasi berada di angka 16,7 persen. Meskipun demikian, stunting masih harus menjadi perhatian pemerintah Kota Bekasi.

“Stunting di kita kan memang di Jabar sudah dibawah ya, Meskipun sudah dibawah, artinya sedikit angka kasusnya. Tapi tetep ini harus diantisipasi, jangan sampai di masa mendatang terjadi lagi adanya stunting,” lanjut Tanti.

Selama perubahan teknis kegiatan Posyandu, menurutnya sosialisasi dan penyuluhan mengenai gizi tetap dilakukan di Puskesmas, terutama kepada ibu hamil. Cara ini bisa dilakukan selama kegiatan di luar ruangan belum bisa dilakukan pada saat pandemi.

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Hal ini terjadi karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari anak berada di dalam kandungan dan baru terlihat ketika anak berusia dua tahun.

Balita yang mengalami stunting berisiko terjangkit penyakit lain, seperti diabetes hingga jantung. Soalnya, kata dia, pertumbuhan anak stunting cenderung melebar bukan meninggi atau ke atas. Karena itu butuh penangan sejak dini.

Sementara itu, spesialis gizi klinik, dr Tirta Prawita Sari menekankan kunci penanggulangan stunting terletak pada pemantauan pertumbuhan balita.”Jadi bisa deteksi adanya gangguan sedini mungkin sebelum anak terlanjur stunting. Cara apapun sepanjang memakai protokol kesehatan harus dilakukan,” ungkapnya.

Stunting dijelaskan bisa terjadi pada anak saat asupan gizi tidak tercukupi dengan baik, selama pemantauan tumbuh kembang, perbaikan gizi akan mengatasi stunting. Stunting akan terjadi jika kurangnya asupan gizi yang baik pada anak dibiarkan dan tidak segera ditolong. (Sur)

Related Articles

Back to top button