Oleh: Dahlan Iskan
Sepatu harus dicopot. Ganti sandal: sandal halo. HP tidak boleh dibawa ke meja kerja. Jam tangan digital termasuk yang harus ditaruh di locker. Semua itu demi keamanan nasabah: keamanan data nasabah. Maka nasabah pun menaruh kepercayaan yang amat tinggi pada bank itu: Bank BCA.
Seperti itulah aturan yang ditetapkan oleh BCA untuk karyawan di bagian yang Anda sudah akrab dengannya: Halo BCA.
Saya berkunjung ke situ kemarin dulu: di hari Minggu yang lalu-lintas Jakarta lagi sepi. Saya bisa sampai di sana tepat waktu: di Foresta, salah satu cluster di Bumi Serpong Damai, masuk wilayah Tangerang. Mereka menyebutnya BCA Foresta.
Di bagian depan ruang kerja di lantai dua itu terlihat banyak sekali locker. Berderet. Bersusun. Tas, sepatu, dan segala macam yang dilarang dibawa ke meja kerja dimasukkan ke locker.
Di bagian lain, di salah satu dindingnya, penuh dengan layar digital. Terlihat video real time yang terkirim otomatis dari begitu banyak lokasi.
Di salah satu layarnya terlihat seorang karyawati masuk ruang kerja. Entah di kota apa dia. Karyawati itu terlihat mengambil HP. Lalu mematut diri. Merapikan rambut. Mengusap bagian depan baju. Setelah itu dia melakukan selfie. Memotret wajahnyi. Memotret seluruh tubuhnyi.
“Yang terlihat selfie di layar itu nasabah?” tanya saya.
“Itu karyawan yang masuk kerja,” jawab Stephanie Gracia, seorang manajer yang menyertai kunjungan saya.
“Mengapa dia selfie-selfie dulu sebelum masuk tempat kerja?”
“Itu sedang absensi. Sekaligus untuk dikontrol apakah penampilan karyawan sudah sesuai dengan kerapian yang ditetapkan perusahaan,” tambah Fani, nama panggilan Stephanie.
Kami pun ngobrol di salah satu ruangan di lantai dua gedung BCA Foresta. Sembilan orang manajer menemani saya. Laki-laki. Wanita. Berbagai suku dan ras. Berbagai level manajer.
Mereka adalah kebanggaan Bank BCA: juara dunia 15 kali. Selama 15 tahun terakhir. Berturut-turut. Yakni juara kompetisi Contact Center antarbank sejagad raya. Pun sampai tahun lalu. Masih juara. Yakni saat giliran kejuaraan itu dilaksanakan di Yunani.
“Tahun lalu saya yang menerima pialanya,” ujar Jayanti Zainal, pimpinan di contact center BCA Foresta. Nama tepat jabatannyi: Vice President Digital Services.
Dia wanita lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pun S-2nyi: computer science. Kelahirannyi Kendari, sukunyi Bugis.
“S-2 saya berkat beasiswa BCA,” katanyi.
Tiap tahun BCA memang memberi beasiswa untuk karyawannya. Khusus S-2 kuotanya 25 orang: karyawan level bawah-menengah 20 orang, level atas 5 orang.
Tiap tahun pula karyawan BCA yang sudah punya masa kerja lima tahun memasuki war. Mereka memperebutkan beasiswa itu lewat prestasi kerja. Jayanti termasuk yang memenangkan war tahun itu.
Setiap kali mengikuti kejuaraan BCA mengirim tim 14 orang. Tahun lalu tim itu dipimpin Jayanti. Tidak hanya untuk menerima piala tapi juga untuk “bertempur” di sana. Lima hari mereka di medan pertempuran itu. Lawannya bank-bank besar empat benua.
Di sana tidak ada lagi lawan dari bank-bank besar Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Australia, maupun Jepang. Semua itu sudah mereka kalahkan di saat lomba tingkat Asia Pasifik.
Di tingkat dunia BCA datang sebagai juara Asia Pasifik –melawan juara-juara Eropa, Afrika, Amerika, dan Amerika Latin.
Di forum itu Jayanti juga harus presentasi selama 20 menit. Lalu harus bisa menjawab pertanyaan dari siapa pun di situ: dari juri maupun dari peserta benua lain.
Orang tua Jayanti seorang pedagang pakaian di Kendari. Sang ayah punya toko: Sinar Jaya.
“Apakah nama Jayanti diambil dari nama toko ayahanda?” tanya saya.
“Hahaha….,” hanya itu jawabnyi.
Dengan tawanyi, Jayanti naik kelas: dari lima i ke enam i. Badannyi langsing berisi. Posturnyi tinggi. Dia gabungan antara kelembutan wanita dan ketegasan orang Bugis. Suaminyi dari Palembang.
“Benar diambil dari nama toko? begitu?” saya balik lagi bertanya soal nama.
“Tidak tahu,” katanyi. “Tapi, waktu saya ke India orang di sana bilang Jayanti itu bahasa Hindi, artinya ratu kemenangan,” tambahnyi.
Bagaimana untuk lomba tahun ini?
“Sekarang saya jadi mentor untuk tim di lomba tahun ini. Salah satu yang akan berangkat tuh di depan bapak,” ujar Jayanti sambil menunjuk laki-laki muda di depan saya: Arik Dediyono. Sedang ketuanya: Felisia Nandjaya.
Saya akhiri dulu tulisan ini sampai di sini. Bandara Kuala Lumpur sudah memanggil, agar semua penumpang jurusan Shanghai naik ke pesawat.
Rasanya saya sudah tidak lupa minta maaf pada mereka hari itu: gara-gara kedatangan saya mereka harus masuk kerja di hari Minggu. “Rumah kami dekat-dekat sini semua kok,” kata Jayanti.
Oh iya: BCA kan punya program KPR dengan bunga murah. Apalagi untuk karyawan sendiri yang berprestasi. Bukankah BSD sendiri adalah real estate yang saking besarnya –3000 hektare– disebut BSD City.(Dahlan Iskan)











