Bekasi

Warga Bekasi Klaim Temukan Obat Covid-19

KLAIM TEMUKAN OBAT – Nalendra (22), saat mendapati salah satu tumbuhan ramuan herbal, yang diklaim bisa untuk menyembuhkan pasien Covid -19. DAN/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Setelah masyarakat dihebohkan dengan pernyataan Hadi Pranoto yang mengaku menemukan obat untuk pasien Covid-19, kini salah satu warga Kabupaten Bekasi mengklaim telah menyembuhkan pasien Covid-19 dengan ramuan yang dibuat.

Ya, warga RT 01/01, Kampung Rawa Kuda, Kecamatan Kedung Waringin Nalendra (22) ini mengaku memiliki ramuan untuk mempercepat penyembuhan pasein Covid-19. “Sudah tujuh kali saya bikin. Terakhir dua hari sebelum puasa Ramadan. Ramuan ini bisa mempercepat penyembuhan,” ungkapnya saat dijumpai Radar Bekasi, Rabu (5/8).

Dari warga yang sembuh dengan ramuan tersebut, kini banyak permintaan. Meski tetap, dirinya tak berani memberikan lantaran ada pertimbangan secara medis.

Dirinya menyebutkan dua warga yang sempat sembuh yakni warga asal Temanggung Jawa Tengah, dan belum lama warga asal Bantar Gebang. “Saya sekarang masih berupaya agar ada uji lab,” katanya.

Dia mengaku sudah melakukan komunikasi dengan dinas kesehatan Kabupaten Bekasi. Bahkan aksi nekatnya juga sudah menghubungi Instagram Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

“Sulit mendapatkan izinnya dan tidak difasilitasi. Ada yang saya hubungi ke dinas kesehatan Kabupaten Bekasi, mereka menyarankan untuk mengikuti prosedur uji lab. Saya mengerti soal prosedur. Bukan gak ngerti. Justru yang difasilitasi itu, minimal ada support. Kalau uang sendiri harganya mahal,” bebernya.

Ramuan yang dibuat Nalendra merupakan obat tradisional. Secara turun temurun, ramuan itu, sebelumnya untuk Demam Berdarah (DBD), dan malaria dan Asam Urat. Munculnya virus Corona, bukan sesuatu yang mengejutkan bagi Nalendra. Corona, umumnya menyerang pernafasan.

Dalam proses pembuatan sendiri, menggunakan berbagai jenis rempah. Salah satunya yakni daun pepaya yang tidak berbuah atau dikenal warga dengan pepaya gandul. Proses peracikan hingga menjadi serbuk dengan cara diaduk selama 24 jam, tanpa henti.

“Obat ini tidak banyak yang tahu. Namanya memang belum ada. Tapi pengelolaan herbal ini sudah ada, dan mesti dengan cara tradisional. Ini obat lama dan turun temurun, buat nya juga lama. Bahan pertama, prosesnya, penggodogan di peras, disaring kembali dan disaring lagi kemudian di peras dan di aduk hingga kering, hingga jadilah serbuk,” jelasnya.

“Satu kali pembuahan, bisa memakan waktu 24 jam tergantung banyaknya kebutuhan. Sekali bikin modal Rp 500- 700 ribu. kalau pengelolaannya gak tepat, bisa gak baik. Juga herbal ini juga, sangat berkaitan tidak disarankan pada warga yang memiliki riwayat asma. Jadi kalaupun pengidap corona nya memiliki asma dan sudah akut, saya tidak berani,” bebernya.

Dirinya menambahkan, sebelum maraknya Corona, warga setempat sudah mengetahui bahwa dirinya kerap diminta membuat obat. “Tapi saya masih berupaya, untuk uji lab sendiri, uji klinisnya seperti apa. Karena saya ada kekhawatiran. Kekurangan dan kelebihannya seperti apa ramuan ini. Kalaupun ini sudah di uji sama pemerintah, kemudian dipake. Silahkan, gunakan saja. Kalaupum pemerintah mau produksi gede- gedean silahkan. Yang penting berguna,” tukasnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng Mohammad Faqih mengatakan, herbal atau obat apapun perlu pembuktian ilmiah apakah benar bisa menyembuhkan atau tidak. “Harus melalui tahapan penelitian. Dalam hal ini, kita harus merujuk kepada Badan POM sebagai pemegang otoritas,” tuturnya dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8).

Untuk itu, masyarakat harus merujuk pada BPOM. Sebab hanya Badan POM yang memiliki kewenangan untuk memberikan informasi tentang khasiat suatu obat atau herbal. “Kalau Badan POM tidak menyebutkan, berarti memang tidak demikian,” ungkapnya.(dan/jpc)

Close