Bekasi

Selamat Jalan Rahman dan Rahim

Batal Operasi Karena Pandemi Covid-19

SEMASA HIDUP : Bayi kembang siam Rahman-Rahim sebelum meninggal dunia saat ditemui di kediamanya Jalan Bintara Jaya 4 Gang Pojok, Kelurahan Bintara Jaya, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Rabu (31/7/2019). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Keceriaan serta senyum mungil bayi kembar siam Ahmad Rahman Al-Ayyubi dan Ahmad Rahim Al-Ayyubi tersimpan abadi dalam benak pasangan suami istri Romi Dharma Rachim (35) dan Ika Mutia Sari (30), serta keluarga besar. Bayi kembar siam tersebut meninggalkan kedua orangtua dan keluarga besarnya, Rabu (19/8) lalu.

Laporan : Surya Bagus
BEKASI BARAT

Pekan lalu, Romi dan Ika harus mengeluarkan energi ekstra untuk menahan luapan emosi saat kedua anaknya yang lahir pada 24 September 2018 silam harus pergi lebih dahulu untuk selama-lamanya. Kisah pilu tersebut terjadi tepat pada pukul 23.20 WIB pada usia 23 bulan saat Rahman dan Rahim diantar ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi.

Keduanya tak kuasa mendapat kabar duka tersebut setelah lebih dari satu tahun merawat kedua anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Pada September mendatang kedua anaknya genap menginjak usia dua tahun dan rencananya akan dilakukan operasi pemisahan. Kehilangan tidak hanya dirasakan oleh pasangan suami istri itu, juga dirasakan oleh keluarga besar termasuk kedua kakaknya yakni Riva Al Fahri yang kini duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar (SD) dan Milan Az-Zahra yang kini duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).

Tidak mudah bagi kedua kakaknya merelakan kepergian adik kandung mereka, setelah lebih dari satu tahun belakangan ini menghabiskan hari bersama penuh canda dan tawa. Kini semua berubah, senyum manis dan tawa kedua adiknya tidak lagi hadir dalam keseharian mereka, tinggal dan tersimpan dalam kenangan.

Dalam bayang-bayang kenangan indah, Ika mengakui demam kerap melanda kedua buah hatinya, membuat kondisi tubuh keduanya tidak stabil. Rahman dan Rahim memiliki penyakit bawaan berupa paru-paru dan jantung.

Sekilas, sejak Radar Bekasi berkunjung pada akhir Juli 2019 lalu, Rahman nampak lebih aktif dibandingkan Rahim. Gerak tangan Rahman sering kali mengenai bagian kepala Rahim, namun Rahim tetap diam dan sesekali tersenyum. Rahim diketahui dari kedua orangtuanya menderita penyakit dandy walker syndrome atau kelainan genetik bawaan yang mempengaruhi perkembangan otaknya.

“Kalau demam memang sering, pilek, terus si Rahim kan memang punya penyakit bawaan. Kalau yang satu sakit, dua-duanya pasti ikut sakit,” kata Ika.

Rabu (19/8) malam, kondisi kesehatan Rahman Rahim memburuk, keduanya demam. Usaha kedua orangtua sudah dilakukan dengan memberikan obat demam dan susu untuk memulihkan kondisi tubuh keduanya. Pukul 23.00 WIB, kondisi tubuh Rahman dan Rahim tampak menggigil lantaran demam tak kunjung mereda.

Tidak lantas berpasrah diri, Ika dengan segenap tenaga membawa keduanya menuju RSUD Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi dibantu mobil ambulance puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan. Di tengah perjalanan, Rahman dan Rahim tiba-tiba terdiam, situasi ini lantas membuat Ika semakin cemas, tindakan medis lantas dilakukan setibanya mereka di RSUD Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi.

“Diperiksa di IGD, jantung, nafasnya, cuma udah enggak ada duluan,” ungkapnya.

Ika tak bisa percaya begitu saja dengan kondisi kedua buah hatinya yang lebih dulu tutup usia. Ia sempat meminta kepada tim dokter untuk memeriksa kembali dengan cermat kondisi Rahman dan Rahim, namun Tuhan sudah berkehendak. Saat ini keluaga besar hanya bisa mencoba untuk ikhlas merelakan kepergian Rahman dan Rahim.

Beberapa waktu silam, operasi pemisahan Rahman dan Rahim telah dijadwalkan pada Juli lalu. Namun, terpaksa diundur akibat pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia sejak Maret hingga saat ini. Operasi rencananya dilakukan di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Jakarta, tempat Rahman dan Rahim lahir melalui proses operasi caesar dengan berat badan saat itu 3,8 kilo gram.

Rencana operasi pertama diundur lantaran rumah sakit kekurangan tenaga medis untuk menangani kasus Covid-19. Jadwal selanjutnya disusun dan akan dilakukan pada September mendatang, bulan dimana keduanya terlahir di dunia, setelah keluarga lama menanti.

Rasa lelah tidak pernah sekalipun terlintas pada benak Ika dan Romi untuk merawat kedua buah hatinya tersebut, apalagi untuk menyerah. Setelah lahir dalam kondisi berat badan hanya 3,8 kg, keduanya dengan sabar merawat Rahman dan Rahim, pada usia 10 bulan, berat badan kedua anaknya tercatat 10 kg. Perlahan namun pasti, pada usia 23 bulan, berat badan mereka telah mencapai 12,9 kg, dan siap untuk naik ke meja operasi setelah lama menunggu berat badan keduanya ideal untuk dilakukan operasi.”September atau akhir tahun ini dijadwalkan ulang, tapi Allah berkehendak lain,” tukasnya dengan lapang dada.

Senada, sang ayah juga mengaku terkejut dan mengaku tidak pernah menyangka kedua anak yang telah mereka perjuangkan dapat hidup normal tersebut pergi lebih dulu untuk selama-lamanya. Padahal, oeprasi pemisahan pada September nanti merupakan upaya satu-satunya bagi Rahman dan Rahim.

“Istilah kasarnya kita sudah berusaha ikhtiar, sudah sampai tujuan kalau sudah bisa dioperasi, tapi nggak sampai kesitu ternyata,” ungkapnya.

Romi dan keluarga tidak ingin larut dalam kesedihan. Ia percaya dan yakin dengan kehendak Tuhan. Tekat dalam hatinya, kepergian Rahman dan Rahim tidak boleh menjadi alasan untuk terpuruk dan tidak bisa bangkit dari rasa sedih. Saat ini dua anaknya yang lain, Riva Al Fahri dan Milan Az-Zahra membutuhkan kehadiran dan perhatian untuk meraih masa depan.

Rahman dan Rahim dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa Tanah Merah. Dalam perjalanan merawat Rahman dan Rahim, kediaman Romi dan Ika telah dikunjungi oleh sejumlah pejabat, mulai dari Wali Kota Bekasi hingga Gubernur Jawa Barat untuk memberikan dukungan moril dan materil kepada kedua pasangan suami istri tersebut.(*)

Related Articles

Back to top button