BekasiBerita Utama

Kafe Disegel, Nih Kata Pemiliknya

BEKASI SELATAN, RADARBEKASI.ID-Sejumlah kafe di kawasan Grand Galaxy City, Bekasi Selatan, Kota Bekasi disegel aparat kepolisian dan Pemkot Bekasi, Sabtu (26/9) malam.

Penyegelan dilakukan aparat setelah beredar sejumlah postingan di medsos terkait kerumunan pengunjung kafe yang tengah asyik menikmati live music melanggar protokol kesehatan. Pengunjung tampak asyik berjoget tanpa memakai masker dan tidak menjaga jarak.

Salah satu kafe yang disegel pada malam tadi itu, Broker Coffee & Roastery. Apa kata pemilik kafe menyikapi penyegelan tersebut?

Pramono (42) salah satu owner Broker Coffee & Roastery meminta sanksi yang dikenakan tidak memberatkannya. “Kalau ini memang kita harus dapat sanksi-sanksi pun harapannya, ya jangan berat-berat juga lah ya sanksinya. Sekali saya pastikan disini itu anak-anak muda semua kok, dan kegiatan kita juga positif,” ungkapnya.

Dia mengklaim, sudah mengikuti aturan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Bahkan, jumlah pengunjung sudah dibatasi.

“Kalau untuk aturan kita sih sudah ikutin ya, karena memang sudah kita kurangin jumlah pengunjung. Tapi, kebetulan kemarin ada band yang anak-anak muda pada suka disini, karena kita disini anak muda semua yang pada dateng jadi lepas gitu aja,” jelasnya.

“Dan saya kira yang viral kemarin itu emang udah biasa ya disini, dan itu bukan suatu halangan ya. Karena, disini itu anak muda semua, dan ini kita juga cari duit, kegiatan kita pun positif, kita gak jual alkohol disini,” tambahnya.

Adapun ditanya aturan penerapan protokol kesehatan, kata Pramono, pihaknya mengetahui dan memang sudah mengarahkan manager dan karyawannya untuk menjalankan prokes. Namun, terkadang ada target yang diberikan olehnya untuk mendapat keuntungan tiap harinya, dan itu mungkin alasan anak buah di kafenya sulit berbuat apa-apa.

“Ya, karena sudah aturan dan sudah risiko yang kita harus tanggung ya nggak apa-apa. Tapi, kita berharap pemerintah berik sedikit kebijakan dan tidak ditutup selamanya juga, sebab kalau gitu ya mati donk yang di sini semuanya,” katanya.

Pramono menjelaskan, kafenya menyediakan live music dan tutup hingga pukul 23.00 WIB. Selain itu, orang yang datang ke tempatnya kebanyakan bukan untuk take away, melainkan menikmati live music. Dia menuding ada motif persaingan bisnis dalam kasus yang menimpanya.

“Jadi, kejadian ini saya kira hanya persaingan bisnis saja ya, karena emang bukan di sini yang ramai. Tapi kita sportif lah kalau pun emang kita yang dapat tindakan ini. Dan ini bukan berarti juga kita mau bilang tutup semua tempat di sini, tapi dengan Broker seperti ini yang lainnya juga bisa mengikuti,” tandasnya. (mhf)

Close