KA Argo Bromo Anggrek Melaju 110 Km Per Jam saat Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur
RADARBEKASI.ID, BEKASI – KA Argo Bromo Anggrek melaju dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam saat menghantam gerbong khusus wanita KRL Commuter Line tujuan Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam. Benturan keras itu meremukkan rangkaian kereta, menewaskan 15 penumpang, melukai puluhan lainnya, dan menyisakan jerit pilu korban yang terjebak di antara besi yang ringsek.
Sekitar sembilan jam lamanya Endang Kuswati terjebak di dalam gerbong khusus perempuan KRL yang baru saja diseruduk KA Argo Bromo Anggrek itu. Dari awal tabrakan terjadi pada Senin (27/4) malam pukul 20.55, perempuan 41 tahun itu baru terevakuasi keesokan paginya (28/4) sekitar pukul 06.00 WIB.
“Anak saya yang paling terakhir dievakuasi karena posisinya terjepit,” kata Mahfud (71), ayah Endang, kepada Radar Bekasi yang menemuinya di RSUD Kota Bekasi kemarin (28/4).
Endang sudah dalam keadaan sadar kemarin. “Tapi, kakinya bengkak, tangan juga bengkak. Ini lagi dirontgen, namun belum tahu hasilnya bagaimana,” kata Mahfud.
Endang merupakan satu dari 84 korban luka akibat terseruduknya KRL 5568A tujuan Kampung Bandan–Cikarang oleh KA Argo Bromo relasi Gambir–Stasiun Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur (lihat grafis). Korban meninggal hingga pukul 19.00 tadi malam mencapai 15 orang.
Mahfud mendapat informasi bahwa anaknya menjadi korban tabrakan sekitar pukul 22.00 WIB malam. Selama waktu yang panjang itu, Endang harus bertahan menahan sakit di antara para korban yang meninggal di lokasi.
“Menurut ceritanya, dia tidur bersama jenazah, di atasnya juga mayat,” ujar Mahfud.
Endang sehari-hari menaiki KRL tersebut untuk pulang ke Bekasi dari tempatnya bekerja. Ia mencari nafkah di Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Menurut Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe, saat menabrak KRL 5568A, kecepatan KA Argo Bromo Anggrek mencapai 110 kilometer (km) per jam. Data yang dihimpun, KA eksekutif itu dapat mencapai kecepatan maksimal 120 kilometer per jam.
Dengan kecepatan setinggi itu saat menabrak kereta yang tengah berhenti, bagian depan Argo Bromo Anggrek pun sampai masuk ke gerbong terakhir KRL. Sebagian kursi di dalam gerbong terdorong dan bertumpuk akibat hantaman.
“Dan, kondisi penumpang sangat memprihatinkan. Mereka tertumpuk-tumpuk, kursi terdorong ke atas,” tambahnya.
Tim SAR bekerja sepanjang malam. Proses evakuasi berlangsung sekitar 11 jam dengan penuh kehati-hatian. Petugas harus memotong material besi, mengevakuasi korban yang terjepit, dan memastikan tak ada nyawa yang terlewat di antara reruntuhan gerbong.
Korban jiwa bertambah hingga Selasa siang, mencapai 15 orang. Kepala Basarnas, Mohammad Syafii menyampaikan bahwa oprasi penyelamatan dilakukan dengan penanganan khusus sehingga tidak menimbulkan dampak lebih berat pada korban, dengan seluruh peralatan yang dimiliki hingga dinyatakan semua korban telah berhasil dievakuasi.
“Dan tadi pagi pukul 08.00 sudah selesai. Seluruh tim SAR kita nyatakan, kita kembalikan ke Home Base masing-masing,” ungkapnya di Bekasi.
Kejadian ini merupakan kejadian luar biasa kata Syafii, benturan dua kereta tersebut menyebabkan lokomotif masuk ke dalam salah satu gerbong KRL. Dalam evakuasi yang dilakukan tim nya, sebagian besar korban ditemukan dalam posisi terjepit.
“Begitu juga korban, lima korban yang kita evakuasi dalam kondisi selamat juga dalam kondisi terjepit material. Itu sebenarnya kesulitan yang kita hadapi,” ucapnya.
Siang kemarin petugas masih mengevakuasi kereta. Belum bisa disimpulkan apa penyebab kecelakaan tersebut, PT KAI hingga Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Update sampai dengan jam satu siang tadi, ada 15 orang yang meninggal dunia dan 88 orang yang masih di rawat,” kata Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono.
AHY juga melihat langsung proses evakuasi gerbong KRL khusus perempuan di Stasiun Bekasi Timur. Setelah gerbong kereta berhasil dievakuasi, langkah berikutnya normalisasi rute kereta yang terdampak akibat peristiwa ini.
“Termasuk setelah berhasil diangkut semua, menurut penjelasan KAI tadi perlu ada pengecekan lagi terkait listrik aliran atas, ini juga harus dipastikan bisa beroperasi secara normal kembali,” ungkapnya.
Selain proses evakuasi korban hingga kereta yang terlibat kecelakaan, pasca peristiwa ini pemerintah dan KAI akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait dengan operasional kereta. Pemerintah akan menginvestigasi penyebab kecelakaan hingga menyusun langkah yang harus dilakukan untuk mencegah peristiwa memilukan ini terjadi berulang.
“Dan kami akan mengawal proses ini, dan tadi saya sampaikan kepada KNKT agar dilakukan secara transparan, seutuh-utuhnya, karena tidak ada yang lebih berharga dari nyawa manusia,” tambahnya.
Menunggu KNKT menginvestigasi peristiwa ini, pihaknya juga akan mengidentifikasi aspek lain seperti perlintasan sebidang tanpa pengamanan.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan agar posisi gerbong khusus wanita pada KRL dipindahkan ke bagian tengah rangkaian kereta.
Arifah mengatakan, pihaknya akan mendorong evaluasi tata letak gerbong kepada PT Kereta Api Indonesia. Menurut dia, penempatan gerbong wanita di tengah dinilai lebih aman karena dapat mengurangi risiko fatal saat terjadi benturan, baik dari depan maupun belakang kereta.
’’Tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laki di ujung,” ujar Arifah usai menjenguk korban di RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4).
Puluhan korban luka masih menjalani perawatan di sejumlah Rumah Sakit (RS) di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi. “Kepada semua korban baik yang meninggal dunia dan juga yang sakit akan ditanggung oleh KAI dan asuransi sampai sembuh untuk yang luka. Ini adalah komitmen kami sebagai tanggungjawab untuk kejadian ini,” ungkap VP Corporate Communication PT KAI, Anne Purba.
Dua posko informasi dioperasikan selama 14 hari untuk diakses oleh masyarakat terutama keluarga korban, masing-masing di Stasiun Gambir dan Stasiun Bekasi Timur.”Kami menemukan banyak barang yang tertinggal, kami berkoordinasi dengan kepolisian, pasti nanti keluarga juga membutuhkan barang-barang tersebut, nanti bisa menghubungi kami di pos informasi, untuk keluarga” tambahnya. (sur/zak)
Rekomendasi untuk kamu

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perlintasan sebidang tanpa pengamanan memadai di Jalan Pahlawan atau Bulak Kapal dan…

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menanggapi…

RADARBEKASI.ID, BEKASI — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengonfirmasi…

RADARBEKASI.ID, BEKASI — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan mengevaluasi operasional taksi asal Vietnam, Green SM, menyusul…

RADARBEKASI.ID, BEKASI — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, mengusulkan agar posisi gerbong…






