Ramadan

Mempertahankan Spirit Ramadan

Oleh : M. Shalahuddin, S.S.I, M.Pd Ketua MUI Cikarang Barat

“Setiap habis Ramadhan, Hamba rindu lagi Ramadan, saat-saat padat beribadah, tak terhingga nilai mahalnya. Setiap habis ramadhan, Hamba cemas kalau tak sampai umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan. Setiap habis Ramadan. Rindu hamba tak pernah menghilang. Mohon tambah umur hamba setahun lagi. Berilah hamba kesempatan. Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan, Sekeluarga, sekampung, senegara, Kaum muslimin dan muslimat se-dunia seluruhnya kumpul di persatukan dalam memohon ridho-Nya”. (Rindu Ramadan, Bimbo)

Ramadan 1442 H yang sarat dengan spirit religi dan dipenuhi berbagai nilai keutamaan akan pergi meninggalkan kita. Ini adalah tahun kedua bagi umat islam menjalankan ibadah Ramadhan di saat pandemi covid 19, kita semua umat islam berusaha tetap patuh menjalankan ibadah Ramadan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Ada banyak kenangan indah selama Ramadhan dalam beribadah kepada Allah SWT begitu mudah kita jalankan, padahal di bulan-bulan lain sangat sulit dilaksanakan, Seperti bangun malam qiyamullail, makan sahur, tilawah Al-Qur’an, i’tikaf, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan pada orang lain serta ibadah lainnya. Menjadi pertanyaan untuk kita semua. Apakah Ramadhan akan kembali menemui kita tahun depan ? Atau juga, tidak ada garansi, apakah segala amaliah ramadhan kita diterima oleh Allah SWT. Maka sudah tepat rasanya, apabila Rasulullah dan para shahabat mengajarkan do’a selepas Ramadhan yaitu ; Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘amin wa antum bi khair”. Melalui do’a tersebut kita bermohon kepada Allah SWT agar menerima segala amaliah Ramadhan dan setiap pribadi kita berada dalam kondisi aman dan diliputi kebaikan.

Banyak pelajaran dapat dipetik dari ibadah Ramadan yang baru saja kita lalui bersama, di mana kita berharap agar semangat beribadah selama Ramadan terus tertanam dalam hati sepanjang tahun hingga bertemu Ramadan berikutnya. Apakah semangat ibadah ini hanya bisa dilakukan dengan mudahnya hanya pada bulan Ramadan? Ternyata tidak, karena Allah menyiapkan waktu sepanjang masa untuk digunakan beribadah kepada-Nya, kapan pun dan di mana pun. Saat ini yang harus menjadi fokus utama perhatian kita semua adalah sejauh mana kita mau dan sanggup istiqamah mempertahankan spirit dan nuansa Ramadhan di dalam kehidupan nyata sebelas bulan pasca Ramadhan sampai tahun depan saat Ramadhan kembali menemui kita.

Pada saat Ramadan setiap jiwa yang beriman terasa begitu ringan menjalankan ketaatan demi ketaatan. Ada rasa senang mengisi waktu yang tersedia dengan beragam ibadah dan amal saleh. Membaca Al-Qur’an pun bisa beberapa kali dalam sehari sampai beberapa kali khatam, sungguh sangat indah dan nikmat menjalaninya. Di sisi lain, kita juga merasakan, kala kumandang takbir tiba, shalat ‘Id dilaksanakan, perlahan namun pasti sebagian orang mulai masuk dalam suasana dan kondisi berbeda. Kondisi nilai-nilai religius sedikit berkurang, jika tak waspada, bukan semata ibadah yang menurun derajat kualitas dan kuantitasnya, orientasi hidup pun perlahan bergeser. Jika dibiarkan maka akan menjadikan jiwa benar-benar merana berpisah dengan Ramadan. Oleh karena itu sepatutnya kita tetap membiasakan diri menjalani spirit Ramadhan pada hari-hari di luar bulan suci Ramadan.

Beberapa amaliah berikut ini mudah-mudahan dapat menjaga spirit dan nuansa Ramadhan tetap berada di dalam lubuk hati sanubari kita yang paling dalam, bersemayam di dalam akal pikiran kita, serta menjelma menjadi amal kebajikan yang menyertai langkah kaki, ayunan tangan dan detak jantung kita setiap waktu. Pertama, tetap menjadi pencinta kebaikan. Ramadan adalah bulan berlomba-lomba melakukan kebaikan. Banyak orang kesulitan secara ekonomi, tapi kala Ramadan tiba, mereka tetap bisa makan, bisa tersenyum, dan bisa terbantu. Tidak lain karena orang banyak yang berlomba mengamalkan perintah sedekah. Mereka yang berada tetap bersedekah walau jumlahnya menurun dari sisi nominal, namun semangat itu tak pernah padam. Jika pada bulan Ramadhan kita bisa lari kencang, maka jangan sampai di luar Ramadan semangat berlomba dalam kebaikan itu jalan mendadak berhenti bahkan mundur. Kedua, semangat berdisiplin dalam menjalankan semua aktivitas. Ini terkait dengan berbagai aktivitas, baik yang terkait dengan ibadah mahdah mau pun ibadah ghaira mahdah (muamalah). Selama Ramadan terbiasa berdisiplin dengan tak melanggar hal-hal yang membatalkan puasa, terbiasa shalat berjama’ah dan tilawah al-Qur’an. Nilai-nilai positif ini harus mampu diterapkan dalam kehidupan nyata selama setahun ke depan. Ketiga, semangat berbagi dalam setiap kesempatan. Ini harus mampu dilakukan tidak hanya selama Ramadhan, tetapi harus mampu diterapkan sepanjang tahun. Karena, berbagi harus menjadi bagian dari kehidupan kaum mukmin sepanjang tahun, bukan kebiasaan tahunan, terutama saat bulan Ramadan saja. Kaum dhuafa selalu ada sepanjang tahun sehingga membutuhkan kepedulian dari para aghniya sepanjang waktu. Keempat, semangat bersilaturahim di setiap waktu. Hal ini selama Ramadan dilakukan dengan intens melalui berbagai aktivitas, seperti ifthar jama’i yang dilakukan oleh semua kalangan. Juga aktivitas ibadah lainnya, seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf dan ibadah lainya. Inilah spirit Ramadhan yang harus mampu kita aplikasikan sepanjang tahun. Kelima. Berdo’a. The last but not lease, untuk menjaga spirit dan nuansa Ramadan agar tetap langgeng, kita telah diajarkan oleh Allah SWT satu Do’a sebagaimana terdapat di dalam surat Ali-‘Imran ayat 8 yang artinya : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah hidayah datang kepada kami, dan berkahilah kami dengan rahmat-Mu. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Maha pemberi berkah”. Selanjutnya, Rasulullah Saw juga mengajarkan kita satu do’a yang artinya : “Wahai Dzat yang Maha membolak-balik hati, kokohkanlah hati kami terhadap agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu”.

Esok kita akan berada di bulan Syawal. Bulan Syawal merupakan bulan pembuktian apakah ibadah kita pada bulan Ramadan berhasil atau tidak. Tujuan ibadah Puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, mampukah kita bertahan di bulan Syawal ini. Jika tujuan puasa itu tercapai, maka sudah bisa dipastikan kehidupan seorang muslim akan menjadi lebih baik. Lebih baik dalam menjaga hubungan dengan Allah (hablum min Allah) dan menjaga hubungan baik sesama manusia (hablum min an-nas). Dua-duanya menjadi penting dalam menjalankan kehidupan ini, karena kalau salah satu yang dominan akan menjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan ini. Memperhatikan hari esok berarti melakukan perencanaan-perencanaan hidup agar hidup lebih terarah. Perencanaan yang dimaksud tidak hanya perencanaan yang bersifat ukhrawi saja, namun perencanaan bersifat duniawi juga perlu dirancang. Mari kita mulai menyiapkan diri secara kolektif untuk sebelas bulan pasca Ramadhan dengan menyusun rencana kegiatan prioritas dan produktif menjemput kesuksesan dengan senantiasa berikhtiar aktif mencegah tranmisi covid-19. Semoga ibadah puasa Ramadhan kita diterima Allah SWT. Amiiin..Wallahu A’lam Bishawab. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button