Menengok Gubuk Literasi Setu, Sempat Roboh dan Dibangun Kembali

MEMBACA BUKU: Sejumlah anak membaca buku di Gubug Literasi Setu. ISTIMEWA
MEMBACA BUKU: Sejumlah anak membaca buku di Gubug Literasi Setu. ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Gubug Literasi Setu (GLS) merupakan sebuah komunitas yang mewadahi kebutuhan masyarakat seputar dunia pendidikan di Kabupaten Bekasi. GLS didirikan pada 17 Februari 2019, atas dasar keprihatinan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nur El Ghazy terhadap rendahnya minat baca.

GLS awalnya berlokasi di Lambang Jaya Tambun Selatan di atas lahan milik seorang warga. Berpondasikan kayu bekas, dinding terbuat dari belahan bambu, dan hanya beralaskan tanah berukuran 2 kali 3 meter saja.


Saat itu semua kegiatan berjalan secara normal, pengajaran kepada anak-anak, bermain, serta aktivitas lainnya. Namun selang setahun kemudian nasib sial harus terjadi, pondasi tak mampu menahan kencangnya angin sehingga membuat bangunan harus rata dengan tanah.

Untung tiada satupun orang berada dibangunan tersebut saat puting beliung terjadi. Tidak ada yang tersisah terkecuali hanya buku-buku, itupun tak semuanya dalam kondisi baik.


“Anginnya kencang banget, sampai bangunan roboh. Tidak semuanya bisa diselamatkan termasuk buku, tapi beruntung saat itu GLS sedang sepi dan juga masih ada buku dalam kondisi baik” ujar Ketua GLS Taufik Rahman (27).

Karena tidak memungkinkan untuk dibangun kembali, maka GLS terpaksa harus direlokasi ke tempat baru di perumahan Villa Mas Asri 2 Desa Cileduk Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi. Rumah tersebut adalah milik ketua GLS, ia sudah merelakan kediamannya dijadikan  tempat taman baca masyarakat bagi warga sekitar.

Teras rumah tipe 36 tersebut disulap menjadi atap berkumpulnya para penggiat literasi Bekasi juga sebagai tempat bermain serta belajar bagi anak sekitar. Hanya berukuran 4×3 meter pesegi, dirasa sudah lebih aman dan kokoh dari bangunan sebelumnya.

“Sekarang sudah jauh lebih aman jika ada angin dan hujan lebat, mudah-mudahan setiap yang datang akan merasa lebih nyaman,” tambah mahasiswa STIE Nur El Ghazy ini.

Saat ini GLS tengah membenahi diri, sebab relawan ataupun pengurus tersisah  8 orang dari 36 keanggotaan. Tantangan terbesar adalah Sumber Daya Manusia (SDM) kepengurusan serta minat anak-anak maupun warga setempat untuk selalu menjaga kesinambungan dalam hal literasi. Harapan terbesar adalah seperti esensi mahasiswa sebagai “agent of change” baik hal literasi maupun moralitas.

Taufik menuturkan, bahwa semua akan ada seleksi alam tentang siapa yang bertahan dan meninggalkan. “Meski sempat roboh dan dibangun kembali, itulah gambaran GLS” pungkasnya. (mg2)