Bantu Evakuasi Hewan Reptil

EDUKASI: Anggota Komunitas Sahabat Reptil Bekasi foto bersama di sela kegiatan edukasi seputar hewan reptil belum lama ini. MG8/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN- Tak sedikit masyarakat masih takut, dan bingung ketika menemukan hewan reptil seperti ular di area tempat tinggal.

Minimnya pemahaman dan penanganan hewan melata ini terkadang membuat warga memilih untuk membunuh hewan yang dianggap berbahaya.


Nah kondisi itu pula yang mendorong terbentuknya Komunitas Sahabat Reptil Bekasi. Fokus mereka di bidang edukasi, evakuasi dan konservasi seputar hewan reptil.

Sahabat Reptil Bekasi sudah banyak melakukan evakuasi hewan reptil yang berada di pemukiman warga Bekasi.  Komunitas yang berdiri sejak September 2017 lalu ini kerap mendapatkan panggilan untuk melakukan evakuasi ular, biawak, iguana bahkan buaya.


Komunitas ini didirikan dan di nakhodai oleh Usup Sahroni. Ia menyatakan pada saat masih berada di Komunitas Taman Belajar Ular Indonesia, ia belum melihat ada komunitas yang terjun di bidang evakuasi hewan reptil di Bekasi. Serta kerap terjadi konflik antara masyarakat dengan hewan reptil.

Hingga akhirnya Usup memutuskan untuk mendirikan komunitas ini. Usup juga dibantu oleh Hendar selaku pembina komunitas. Pengambilan nama komunitas ini karena ingin lebih dekat lagi dengan hewan reptil.

Komunitas yang bermarkas di Jalan Patriot Raya Kampung Rawa Aren, Kota Bekasi, Jawa Barat kerap memberi pemahaman kepada warga, bagaimana jika hewan reptil masuk ke pemukiman serta cara penanganan jika tergigit.

”Untuk konservasi dilakukan setelah evakuasi hewan reptil yang masih memiliki kemampuan dan naluri hewannya. Itu di daerah Jonggol, Bogor, dan Sukabumi,”jelasnya.

Di markas mereka juga terdapat ular phyton dengan panjang lebih dari 5 meter, mereka tidak bisa melakukan konservasi kepada ular tersebut karena itu merupakan titipan dari seseorang dan juga ular tersebut tidak akan bertahan di alam jika mereka melepaskannya.  

Kondisi pandemi yang saat ini melanda seluruh dunia tampaknya tidak terlalu berpengaruh kepada komunitas ini. Karena yang berubah dari segi SOP evakuasi dan konservasi hanyalah anggota komunitas harus menggunakan masker dan menjaga jarak antar anggota supaya tidak berdekatan.

Untuk kegiatan edukasi masyarakat sekitar markas komunitas ini dipindah ke malam hari. Peralatan yang digunakan untuk mengevakuasi hewan reptil meliputi snake hook, grab stick, dan juga karung untuk menaruh hewan yang akan dievakuasi.

Agar komunitas ini tetap bertahan, mereka juga mengadakan open recruitment setiap tahunnya, dan mengadakan pelatihan setiap bulannya. Tujuannya supaya anggota dari komunitas ini memiliki pembekalan dan ilmu yang cukup untuk mengedukasi, mengevakuasi, dan melakukan konservasi terhadap hewan reptil.

Tak melulu soal reptile, kegiatan sosial juga kerap mereka lakukan. Mereka berharap komunitas sejenis ikut terjun di bidang evakuasi dan edukasi. ”Harapannya komunitas sejenis ikut terjun di bidang evakuasi dan terus melakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai hewan reptil agar masyarakat sekitar paham apa yang harus dilakukan ketika kedapatan bertemu dengan hewan reptil nantinya,” pungkas Usup. (mg7/mg8)