Ke Telaga Bintang Dipaksa Uji Nyali, Mendaki Tebing Karang

TELAGA BINTANG: Telaga Bintang yang gambarnya diambil dari atas puncak tebing dengan cara memanjat tebing. Foto Zaenal Aripin/Radar Bekasi.
Keindahan panorama alam Telaga Bintang, Raja Ampat tak kalah eksotisnya dengan puncak Piaynemo. Tapi untuk mendapatkan spot foto terindah, dengan background Telaga Bintang yang berair hijau itu, wisatawan harus berani uji nyali, mendaki bukit batu karang. Berikut laporannya.
 
LAPORAN
ZAENAL ARIPIN
RAJA AMPAT, PAPUA BARAT
 
Air jernih dengan warna hijau, dan gugusan pulau-pulau kecil sudah menjadi ikon Raja Ampat. Panorama indah ini dapat diambil gambarnya oleh pengunjung dari puncak Piaynemo. Menuju ke puncak Piaynemo, pengunjung dimanjakan dengan fasilitas anak tangga yang harus didaki sekitar 300 atau tepatnya 289 anak tangga.
 
Sebenarnya, bukan hanya spot di Piaynemo yang menyajikan keindahan alam bak “surga” itu. Masih ada spot lainnya yang panorama alamnya tak kalah menariknya dengan Piaynemo, yaitu Telaga Bintang. Di telaga ini, air telaganya berwarna hijau dan membentuk bintang, bila dipotret dari atas. 
 
Telaga Bintang hanya berjarak sepelemparan batu-kalau yang melempar batunya raksasa-dari Piaynemo. Dengan speedboat tak kurang dari sepuluh menit sudah sampai.
 
Sebelum turun dari speedboat, Xavi, pemandu kami, kembali mengingatkan. Agar kami yang berkeinginan berpose dengan background Telaga Bintang untuk menyiapkan tenaga ekstra dan nyali. 
 
“Tidak ada tangga menuju puncaknya. Kita merangkak mendaki batu karang. Tidak ada tangga ke puncak. Setelah sampai di puncak, kita foto dan langsung turun lagi. Tidak perlu berlama-lama di atas puncak,” jelasnya.
 
Dia juga kembali mengingatkan, wisatawan yang takut ketinggian untuk tidak naik ke puncak karang. “Yang phobia ketinggian sebaiknya tunggu di bawah saja,” imbuhnya lagi.
 
Menurut Xavi, untuk berpose dengan latarbelakang Telaga Bintang memang harus mendaki puncak tebing karang setinggi sekira 100 meter. Filosofinya, untuk menggapai bintang tidak ada jalan yang mudah. “Dipastikan tidak akan dibuatkan tangga ke puncak bukit ini. Biar wisatawan menikmati pendakian sebelum sampai bintang,” jelas ayah tiga anak ini.
MERANGKAK: Penulis mendaki tebing karang menuju puncak tebing untuk berpose dengan latar belakang Telaga Bintang. Foto Ist.
 
Xavi pun memandu kami menaiki puncak karang. Pengunjung harus ekstra waspada saat mendakinya. Memang, ada tapak-tapak atau petunjuk untuk berpindah-pindah dari satu karang ke karang lain. Beruntung, cuaca terik dan kondisi tebing tidak basah yang memungkinkan kami terpleset.
 
Saya, Pak Djauhar, dan dr Lin, mengikuti arahan Xavi. Kami akhirnya sampai ke puncak tebing setelah memanjat sekira 20 menit. Lalu bergantian, foto-foto dengan background Telaga Bintang dengan airnya berwarna hijau mempesona. Cekrek, cekrek, cekrek. Masing-masing tiga frame kami bergaya. Setelah itu langsung turun.
 
Turun dari puncak tebing karang pun tidak bisa sembarangan. Salah saja kaki mendarat, celaka menimpa. Terkadang perlu membungkuk, berjalan mundur sampai mendapat posisi aman dan nyaman untuk turun perlahan-lahan dari ketinggian tebing.
 
Beruntung, kami bertiga selamat sentosa tiba di pos peristirahatan. Setelah  itu masih tak bosan-bosannya kembali foto-foto bersama sebelum menumpang speedboat menuju spot berikutnya, Arborek! Spot snorkeling yang paling ditunggu-tunggu. (bersambung)