DBD Sentuh 1.665 Kasus

ILUSTRASI : Petugas PMI melakukan fogging di Kawasan Mustikajaya Kota Bekasi, belum lama ini. Kasus DBD di Kota Bekasi cenderung meningkat. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, MEDANSATRIA- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, mencatat hingga Oktober 2021 sebanyak 1.665 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menjangkit warga Kota Bekasi, dengan tujuh korban meninggal dunia.

Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 1.646 kasus dengan korban meninggal dunia satu orang.


“Puncak naiknya penderita DBD terjadi di bulan Mei 471 kasus, April 330 kasus dan Juni 217 kasus di 2021. Setelah itu kasus terus menurun, tercatat ada 56 kasus di bulan Oktober,” kata Kepala Dinkes Kota Bekasi, Tanti Rohilawati kepada Radar Bekasi, Rabu (8/12).

Ia juga mengaku, dalam menanggulangi DBD, sudah melakukan berbagai upaya pencegahan dan  pengendalian vektor DBD. Upaya yang dilakukan antara lain diseminasi informasi terkait DBD yang melibatkan puskesmas-puskesmas di Kota Bekasi.


“Puskesmas diingatkan agar bersinergi dengan pemangku wilayah dalam mengaktifkan kembali PSN 3M Plus, melalui pembentukan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dan pembentukan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD tingkat kelurahan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Dinkes juga melakukan sinkronisasi data DBD Puskesmas bagi petugas DBD puskesmas se-Kota Bekasi.

Selain itu, Dinkes mengalokasikan larvasida 500 liter dan insektisida 9.000 botol ke puskesmas se-Kota Bekasi untuk mengendalikan vektor nyamuk.

“Upaya pengendalian vektor DBD, di masa pandemi Covid-19 ini dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan 5M. Pengendalian dilakukan dengan memperkuat pelibatan keluarga dalam pengendalian fisik dan biologi,” ujarnya.

Kemudian, untuk pengendalian secara fisik adalah pengendalian untuk mengurangi atau menghindari gigitan nyamuk atau gangguan nyamuk dilakukan dengan pemasangan kawat kasa (kawat nyamuk) pada semua lubang yang ada di rumah, seperti lubang angin, jendela, pintu, dan lainnya.

“Pengendalian secara biologi menggunakan organisme bersifat predator, parasitik atau patogen,” terangnya.

Ia mencontohkan dengan cara memelihara ikan nila, ikan mujair, ikan cupang, yang mangsanya adalah larva nyamuk. Serta, tanaman yang menimbulkan bau yang tidak disukai oleh nyamuk aedes aegypti seperti akar wangi.  Masyarakat diharapkan dapat menanam tanaman pengusir nyamuk di halaman rumah untuk menghindari berkembangbiaknya vektor di sekitar rumah.

Selanjutnya, pengendalian metode kimia, menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dapat ditempuh dengan dua teknik yaitu pengasapan (fogging) yang berguna untuk mengurangi penularan sampai batas waktu tertentu, dan pemberantasan larva nyamuk dengan zat kimia (abate).

“Di Kota Bekasi sendiri apabila ditemukan kasus dan ada penularan di wilayah tertentu akan dilakukan pengasapan. Dan akan dilakukan dengan didampingi petugas kesehatan,” tukasnya. (pay).