Berita UtamaPendidikan

Kerja Guru 2022 Harus Lebih Ekstra 

ILUSTRASI: Sejumlah siswa SMPN 29 Kota Bekasi saat mengikuti ANBK. Kerja guru tahun ini harus lebih ekstra. DEWI WARDAH

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Mengajar di tengah pandemi Covid-19 tentu sangat dirasakan oleh hampir seluruh guru di Indonesia, khususnya Kota Bekasi. Sebab selama dua tahun belakangan ini, tenaga pendidik bekerja ekstra melaksanakan proses pembelajaran kepada siswa yang dilakukan secara daring.

Meskipun proses pembelajaran saat ini bertahap sudah dilakukan tatap muka secara penuh karena pandemi yang mulai terkendali, namun hal itu tidak membuat pekerjaan guru lebih santai.  Justru tahun ini guru harus lebih kerja ekstra dalam membangun karakter siswa agar kembali berangsur normal.

Wakil Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bekasi Supyanto mengatakan, tahun ini guru harus lebih ekstra membenahi karakter siswa yang tercermin dari program Profil Pelajar Pancasila. Pasalnya, selama pembelajaran jarak jauh akibat pandemi Covid-19 para pelajar kehilangan perilaku baiknya.

“Ini saatnya guru bekerja lebih ekstra, bukan lagi persoalan melakukan proses pembelajaran. Tapi dimana guru harus melakukan pembenahan kepada karakter siswa, yang selama dua tahun belakangan ini banyak perilaku baik yang sudah hilang,” tuturnya kepada Radar Bekasi, Minggu (2/1).

Supyanto menegaskan, perilaku baik yang selama dua tahun belakangan ini hilang karena sudah terlalu lama tidak terkontrol harus diperbaiki. Menurutnya, salah contoh kecilnya ialah bangun pagi tepat waktu dan dapat mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang diberikan.

“Ini sudah lama tidak terkontrol dengan baik, maka tugas guru harus bisa melakukan perubahan. Sehingga keadaannya dapat berjalan dengan normal lagi dan karakter baik siswa dapat terbentuk kembali,” jelasnya.

Sementara disampaikan bahwa dalam proses pembelajaran di tengah pandemi sejumlah guru merasakan kesulitan untuk melakukan kerjasama yang baik dengan orang tua, terutama dalam mengontrol perilaku siswa.

“Sebenarnya selama dua tahun belakangan ini guru cukup kesulitan dalam melakukan kerjasama dengan orang tua. Terutama dalam hal mengontrol tugas anak, apakah itu benar-benar dikerjakan oleh siswa atau orang tua,” ucapnya.

Lebih lanjut, dikatakan bahwa Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa telah terjadi kehilangan pembelajaran (learning loss) yang signifikan setelah masa pandemi.

“Dari hasil pengamatan ini, tentu beban guru jadi makin berat karena meskipun masih dalam banyak pembatasan tatap muka, guru juga dituntut untuk mengejar ketertinggalan akibat learning loss,” tuturnya.

Tidak kalah penting, perkembangan teknologi yang juga harus diseimbangkan oleh guru. Sehingga bukan hanya membenahi, tetapi juga bisa melakukan perkembangan dalam proses pembelajaran pada 2022.

“Tidak hanya membenahi saja, tetapi juga harus dikembangkan melalui kemampuan di bidang teknologi. Karena saya yakin tahun ini akan banyak perkembangan dalam proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi,” pungkasnya. (dew)

Related Articles

Error, no group ID set! Check your syntax!
Back to top button