Perbanyak Tempat Pengelolaan Sampah

KUMPULKAN SAMPAH: Warga mengumpulkan sampah yang akan dimasukan ke dalam alat incinerator di TPS 3 R di Perumahan Tytyan Kencana, Margamulya, Bekasi Utara, beberapa waktu lalu. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN – Tingginya volume sampah yang harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bantargebang, Kota Bekasi menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota Bekasi.

Pasalnya, kapasitas TPA yang dimiliki Pemkot Bekasi juga terbatas jika harus menampung ribuan ton sampah perhari.


Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi mencatat, wilayah Kota Bekasi memiliki luas 210,5 Kilometer dengan luas lahan mencapai 21.050 Hektar dengan jumlah penduduk mencapai 2,6 juta jiwa. Sehingga sampah yang dihasilkan dalam satu hari mencapai 1.980 ton.

Melihat tingginya volume sampah yang dihasilkan, DLH berencana menambah tempat pengelolaan sampah (TPS). TPS tersebut dengan sistem Reuse, Reduce, dan Recycle (3R).


Kepala DLH Kota Bekasi, Yayan Yuliana mengatakan, TPS3R yang ada di Kota Bekasi saat ini hanya ada enam. Sedangkan Kota Bekasi ada 1.013 Rukun Warga (RW) yang tersebar di 12 Kecamatan dan 56 Kelurahan.

Enam TPS3R berada di Kecamatan Bekasi Utara, Medansatria, Mustikajaya, Pondokgede, Pondokmelati dan Bekasi Timur.

“Kalau sekarang kapasitas TPS3R yang dimiliki Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi hanya enam. Masih jauh untuk mengurangi volume sampah yang ada saat ini yang mencapai 1.980 ton dalam sehari,” kata Yayan Kepada Radar Bekasi, Minggu (23/1).

Minimal, lanjut dia, di setiap kelurahan ada TPS3R supaya benar-benar bisa mengurangi sampah di tingkat hulu. Sehingga nantinya, sampah yang dibuang ke TPA Sumur Batu bisa berkurang volumenya.

Sejatinya kata dia, setiap tahun tempat pengelolaan sampah harus bertambah. Namun hal itu masih terkendala termasuk soal anggaran.

“Tetapi untuk membangun TPS3R itu kan, ada berbagai kendala dalam artian pendanaan. Apalagi APBD kita terbatas, makanya kita ada bantuan dari Provinsi dan pusat. Kita akan mendorong bantuan-bantuan itu,” ucapnya.

Disamping anggaran, diakuinya penentuan lokasi dan lahan TPS3R juga tidak mudah. Meski lahan Prasarana Sarana Umum (PSU) namun tidak semua warga menerima permukimannya dibangun TPS.

“Kita ingin jadikan PSU itu TPS3R. Warga tidak serta merta setujui. Memang banyak lokasi-lokasi PSU yang kita mau jadikan TPS3R banyak warga menolak juga. Itu salah satu kendala juga,” ujarnya.

Mantan Kadishub Kota Bekasi ini menjelaskan, anggapan lokasi pengelolaan sampah, bau, jorok, kotor, masih kerap dijumpai.

“Ya brain itulah yang harus kita hilangkan di masyarakat dan dapat diubah. Bahwa sampah tidak identik dengan Kotor, bau dan kekumuhan. Itu pun tugas kita,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan, tugas tersebut bukan hanya pemerintah saja, Asosiasi berkaitan dengan sampah, serta masyarakat luas bisa terlibat. Sejauh ini untuk produk yang dihasilkan oleh TPS3R itu mayoritas Kompos.

Budaya memilah sampah diakuinya juga perlu digencarkan di tengah masyarakat. “Mudah-mudahan tahun ini pengajuan pembuatan TPS3R bisa terealisasi oleh Provinsi maupun Pusat. Sehingga tahun ini bisa bertambah TPS3R,” tukasnya. (pay)