Harga Daging Melambung, Pedagang di Pasar Tambun Mogok Berjualan

MOGOK JUALAN : Warga melintasi lapak bertuliskan himbauan larangan berdagang pada los pedagang daging, di Pasar Tambun, Kabupaten Bekasi, Selasa (1/3). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah lapak atau los pedagang daging sapi di Pasar Tambun, Kabupaten Bekasi, tampak sepi dari aktivitas, lantaran para pedagang tidak membuka lapak jualannya atau mogok. Aksi mogok ini dipicu harga komoditi daging sapi yang terus mengalami kenaikan hingga tembus di harga Rp 140 ribu per kilogram, yang sebelumnya berada pada harga Rp 120 ribu per kilogram.

Pedagang daging sapi di Pasar Tambun, Mujianto (29) mengatakan, aksi mogok berjualan ini, dilakukan mulai Senin (28/2), hingga Jumat (4/3). Menurutnya, para pedagang memilih tidak berjualan, karena harga daging terlalu mahal, sementara konsumen atau pembeli, maunya harga tetap normal.


Sejak ada kenaikan harga daging sapi, dirinya mengaku omset penjualan turun drastis. Sebelum terjadi lonjakan harga, dalam sehari Mujianto bisa menjual hingga tiga kuintal daging sapi. Tapi saat ini, satu kwintal sulit habis, sehingga harus menanggung kerugian.

“Semenjak ada kenaikan harga daging sapi, pembeli berkurang sampai 100 persen,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Selasa (1/3).


Hal senada disampaikan pedagang daging sapi lainnya, Mamat. Ia menjelaskan, bagi pedagang yang bandel ingin tetap berjualan, akan ditegur, dan dikasih garis batas tali serta tulisan. Tujuannya, agar warga tahu, kalau harga daging sapi lagi mahal, sehingga saat membeli penawarannya tidak terlalu rendah.

“Harganya Rp 130 ribu per kilogram, kadang masih ada yang nawar Rp 125 ribu. Padahal, kalau mau untung harus bisa menjual Rp 140 ribu. Sejak Januari, nggak ada keuntungan dari berjualan, dan terasa bangat,” ucapnya.

Dampak mogoknya pedagang sapi berjualan, mengakibatkan masyarakat harus beralih ke ke daging ayam. Seperti yang diutarakan Wiwin (35), saat ini dia beralih ke daging ayam, lantaran sulit mendapatkan daging sapi, karena aksi mogok para pedagang dan tempat pemotongan hewan.

“Awalnya saya ingin membeli daging sapi, tapi karena yang jualan tidak ada, jadi terpaksa belinya daging ayam,” tuturnya.

Wiwin berharap, pemerintah memperhatikan mahalnya harga kebutuhan pokok di pasar tradisional. Bukan hanya daging sapi saja, tapi juga kelangkaan minyak goreng, dan beberapa komoditi lainnya turut mengalami kenaikan.

“Bukan hanya daging sapi saja, melainkan kebutuhan lain juga naik. Maka dari itu, pemerintah biar bisa fokus mengurusi harga kebutuhan pokok bagi masyarakat kecil,” imbuhnya.

Menyikapi hal itu, Staf UPTD Pasar Tambun, Didi Kardiman mengungkapkan, para pedagang daging sapi memang memilih mogok berjualan mulai dari, Senin (28/2). Alasannya, karena harga yang tinggi (mahal), walaupun sebenarnya daya beli masih stabil. Namun, pihaknya selalu berupaya agar pedagang daging sapi, bisa kembali berjualan.

“Kami sudah berusaha menghimbau agar para pedagang daging sapi buka kembali. Tapi, untuk pedagang sembako masih buka,” tandas Didi. (pra)