Hari Ini, Jakarta Sumbang Kasus COVID-19 Terbanyak

Mural sosialisasi penanganan Covid-19 di Jakarta. Foto: Reuters

RADARBEKASI. ID, JAKARTA – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 menyebutkan, jumlah kasus positif secara nasional bertambah 602 kasus baru. DKI Jakarta menjadi penyumbang terbanyak dengan 193 kasus.

Dengan penambahan ini, maka total keseluruhan kasus korona di Indonesia sejak Maret 2020 lalu menjadi 6.039.266 kasus.


Daerah selanjutnya yang menyumbang kasus terbanyak adalah Jawa Barat 99 kasus, Banten 61 kasus, Jawa Tengah 53 kasus dan Jawa Timur 46 kasus.

Penambahan kasus terkonfirmasi positif itu, juga diikuti dengan kasus kematian yang masih meningkat. Pada Sabtu, kasus kematian bertambah 24 kasus dari hari sebelumnya sehingga total keseluruhan ada 155.844.


Di sisi lain, kasus aktif turun sebanyak 2.190 kasus. Akibatnya kini total kasus aktif tersisa 60.475 kasus.

Sedangkan kasus kesembuhan ada 5.822.947 kasus, setelah mengalami penambahan 2.768. Dengan daerah penyumbang kasus kesembuhan terbanyak yakni DKI Jakarta 599 pasien, Jawa Tengah 567 pasien, Jawa Barat 394 pasien, DI Yogyakarta 260 pasien dan Banten 191 pasien.

Satgas turut mencatat 2.555 orang telah menjadi suspek COVID-19. Sedangkan 98.459 spesimen sudah diperiksa hari ini.

Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman menekankan bahwa suatu virus tidak akan terpengaruh terhadap deklarasi perubahan status dari pandemi menjadi endemi.

Dicky mengatakan memasuki tahun ketiga pandemi COVID-19, tingkat kejenuhan masyarakat akan semakin kuat bahkan pada level negara sekalipun. Mulai banyak negara yang mendeklarasikan dirinya telah memasuki masa endemi.

Padahal virus juga tidak akan terpengaruh oleh status endemi karena walaupun negara benar-benar berstatus endemi, virus akan terus ada dan berkembang di dalam masyarakat meskipun kasus cenderung lebih terkendali dan sesuai dengan hukum biologi.

Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian karena meskipun sebuah negara memasuki endemi, kondisinya tetap sama berbahayanya akibat dampak yang masih terus diberikan pada fasilitas kesehatan seperti meningkatnya kematian.

Ditambah di sebuah negara sendiri, terdapat beberapa daerah yang mungkin sudah memasuki endemi, sebagian memasuki epidemik ataupun sporadik. Sebab, tiap daerah mengalami tren kasus COVID-19 yang berbeda-beda.

Oleh karenanya, apapun status pandemi dan kondisi suatu negara, Dicky meminta setiap orang agar tidak abai terhadap vaksinasi maupun menjalankan protokol kesehatan.

“Kalau tidak ada vaksinasi atau cakupan vaksinasi atau imunitas yang memadai, apapun variannya bisa berdampak pada kematian yang besar dan itu yang terjadi di Hongkong saat lansia yang memiliki komorbid tidak ingin divaksin dan berakhir fatal,” ujar dia. (wsa)