Istiqomah Dalam Ketaatan Sosial

Dr.KH. Zamaksyari Abdul Majid, MA Ketua Umum Majmu Bekadi Raya

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dibekali dengan akal dan pikiran. Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki derajat paling tinggi diantara ciptaannya yang lain. Hal yang paling penting dalam membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal, pikiran, perasaan, dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya di dunia.

Manusia memiliki peran dalam mengubah hidup dan pola pikir yang lebih esensial terhadap manusia lainya. Kedudukan yang tinggi diberikan Allah kepada makhluk yang satu ini untuk memikirkan, mengendalikan, merencanakan serta mengimplementasikan tidak hanya untuk komunitas komunal tertentu, melainkan menyentuh aspek seluruh kehidupan secara universal.


Hal ini menjadi renungan bagi kita, betapa banyak nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita sampai dipastikan tidak akan bisa kita menghitungnya satu persatu. Kenikmatan ini harus kita syukuri dalam wujud menggunakannya untuk ibadah, mendekatkan diri kepada Allah. Bersyukur terhadap nikmat yang diberikan dapat diartikan bukan sekedar melafalkan kalimat hamdalah, alhamdulillah. Lebih dari itu, bersyukur berarti melanjutkan ketaatan spiritual menjadi ketaatan sosial yang perlu kita implementasikan.

Saat ini juga kita patut bergembira karena pada bulan Ramadhan yang lalu kita diberi kesempatan untuk menambah pundi-pundi pahala, juga menghapus dosa-dosa kita. Lebih dari itu, implementasi kepedulian sosial perlu dilanjutkan sebagaimana kita menghidupkan zakat di bulan Ramadhan. Jika dalam Hari Raya Idul Fitri, kita membahagiakan orang lain dengan zakat, maka beberapa pekan lagi kita perlu menghidupkan momentum Idul Adha ini dengan menggembirakan hati orang lain dengan ibadah kurban.


Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Kautsar ayat 1-3:

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Pendekatan diri kepada Allah bisa dilakukan dengan mengerjakan shalat dan menyembelih hewan qurban sebagaimana ditegaskan dalam ayat kedua surat ini. Apalagi di masa pasca pandemi Covid-19, di mana banyak masyarakat terdampak ekonominya, sudah sepatutnya kita saling berbagi. Jika masyarakat lebih membutuhkan bantuan bukan dalam bentuk daging kurban, alangkah baiknya kita mengalihkan dana kurban yang kita miliki untuk membantu menanggulangi dampak pasca pandemi ini.

Sederhananya, kesalehan sosial adalah suatu perbuatan yang dilakukan dan memiliki dampak positif berkelanjutan, atau kesalehan sosial akan menimbulkan hal-hal positif yang sifatnya terus-menerus. Jika tidak, maka baru sebatas pada melakukan kebaikan saja. Dampak positif berkelanjutan ini penting sekali maknanya, karena perbuatan yang dilakukan dapat mengubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Sementara berbuat kebaikan saja tidak mengubah keadaan.

Penulis berharap, momentum Idul Fitri dan Idul Adha pada kali ini dapat dijadikan sebagai sarana serta jalan untuk beristiqomah untuk membentuk ketaatan universal, tidak hanya pada aspek spiritual, namun juga melanjutkan keutamaan dan nilai-nilai sosial. Semoga kita memiliki kepekaan sosial untuk saling berbagi dan mampu memberikan manfaat banyak bagi orang di sekitar kita, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Wallahu a’lam.(*)