Keluarga Pondasi Negara

Ketua DPRD Kota Bekasi H.M Saifuddaulah, SH, MH, M.Pd.I

 

Oleh: H.M Saifuddaulah, SH, MH, M.Pd.I (Ketua DPRD Kota Bekasi)


KELUARGA, menurut pandangan Islam, tidak hanya sebagai tempat berkumpulnya suami, istri, dan anak. Tetapi lebih dari itu, keluarga memiliki fungsi dan peranan yang penting dalam menentukan nasib suatu bangsa. Keluarga adalah pondasi utama masyarakat dan bangsa Indonesia.

Bahkan, secara khusus Allah mengingatkan kepada kita pentingnya posisi keluarga dalam kehidupan. Sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu …” (QS 66: 6).


Dalam memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang jatuh setiap 29 Juni. Mari kita lakukan introspeksi dan retrospektif (meninjau atau mengenang kembali kebijakan, transformasi informasi sesudah peringatan/aksi kebijakan – sosiologi).

Apakah kita sudah menguatkan tali asih, asah asuh dalam keluarga terkecil rumah tangga, lingkungan dan seterusnya. Serta apa yang didapat setelah peringatan hari keluarga yang selalu digelar setiap tahun.

Karena itu, perbaikan keluarga menjadi keharusan ketika kita hendak memperbaiki negara. Jika merunut dalam ajara Islam, langkah pertama dalam memperbaiki kualitas keluarga adalah dengan menanamkan nilai-nilai ketauhidan dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ini pula yang dilakukan dan dicontohkan oleh para rasul dan nabi kepada keluarga, anak, dan istrinya. Seperti dilakukan oleh Nabi Lukman kepada anaknya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS 31: 13).

Ketauhidan bermakna bahwa setiap orang tua, dalam hal ini ayah sebagai pengendali keluarga harus mengajarkan seluruh anggota keluarga ketaatan dan rasa tanggung jawab diri bahwa setiap perilaku kita diawasi serta diketahui Tuhan.

Sehingga saat anak atau istri berbuat salah atau dosa selalu mengingat dan takut melakukannya. Meski tidak ada orang tua atau suaminya.

Keluarga merupakan sentral dari kehidupan manusia; dari keluarga itulah manusia membina dan membangun generasi; dari keluarga itulah masing-masing memiliki rasa tanggung jawab untuk melakukan tugasnya sebagai anggota keluarga; dari keluarga itulah rasa agama dan keagamaan dapat dibina dan dibangun.

Bahkan Islam menaruh perhatian besar terhadap kehidupan keluarga dengan meletakkan kaidah-kaidah yang arif guna memelihara kehidupan keluarga dari ketidakharmonisan dan kehancuran. Keluarga adalah batu bata pertama untuk membangun istana masyarakat dan merupakan madrasah iman yang diharapkan dapat mencetak generasi-generasi emas guna menjaga dan melakukan perbaikan peradaban bangsa.

Jajaran dewan dan pemerintah Kota Bekasi pun harus terus berjuang untuk menghadirkan lingkungan yang kondusif, dengan memberi jaminan kenyamanan, ramah anak dan keluarga. Karena keluarga, sebagai organisasi terkecil merupakan wadah penyambung rantai estafet serta kunci proses regenerasi bangsa. (*)