Masyarakat Diajak Berpartisipasi Pilih Ikon

DIGIRING PETUGAS : Petugas Kejaksaan Negeri (Kejari) Cikarang Kabupaten Bekasi, menggiring Pelaksana tugas (Plt) Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi, Herman Sujito, menuju mobil tahanan di Kantor Kejari Cikarang, Desa Sukamahi, Cikarang Pusat, Senin (18/7). IST/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Penggiat lingkungan berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi mengajak partisipasi masyarakat untuk menentukan flora dan fauna menjadi ikon Kabupaten Bekasi.

Keanekaragaman hayati yang dimiliki Kabupaten Bekasi jumlahnya cukup besar. Untuk flora ada 1.642 jenis, dan fauna sebanyak 176 jenis. Dengan jumlah sebesar itu, sudah selayaknya memiliki flora dan fauna yang dijadikan sebagai icon atau khas Kabupaten Bekasi.


“Jadi harus ditetapkan terlebih dahulu icon flora faunanya. Kemudian diajak masyarakat partisipasinya supaya tidak ada kesalahan atau pro kontra di kemudian hari,” kata penggiat lingkungan, Ahmad Qurtubi.

Kepada Radar Bekasi, pria yang juga mengikuti pembahasan terkait flora dan fauna menjadi icon Kabupaten Bekasi ini menjelaskan, kriteria fauna itu ada lima yang terdata. Diantaranya, Lutung Jawa, Burung Kepudang Kuduk Hitam, Bangau Bluwok, Kera Ekor Panjang, Betet Biasa.


Sedangkan untuk flora, diantaranya, Duren Setu, Mangga Muaragembong, Bunga Padma, Buah Came, dan Salak Cisalak.

Pria yang merupakan konsen pada wilayah Muaragembong ini berpendapat, sebaiknya Pemkab Bekasi melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbang) bisa menetapkan tiga flora dan fauna yang akan menjadi icon Kabupaten Bekasi.

“Jadi menurut hemat saya, untuk menetapkan icon Kabupaten Bekasi perlu lebih konkrit. Supaya tidak terjadi adanya protes patung lele yang kala itu menjadi pro kontra,” ucapnya.

Kepala Balitbangda Kabupaten Bekasi, Entah Ismanto menjelaskan, jumlah flora dan fauna tersebut telah diidentifikasi oleh tim peneliti kajian flora fauna endemic Kabupaten Bekasi.

Dari sekian banyak flora dan fauna, terdapat beberapa yang mengalami ancaman kepunahan, seperti Lutung Jawa, Bunga Padma, Blekok Hitam dan lainnya.

“Untuk memberikan penyemangat bagi pembangunan ekonomi daerah, maka perlu ditetapkan flora dan fauna, akan dijadikan sebagai ikon di Kabupaten Bekasi,” terang Entah.

Sebelumnya, Balitbangda Kabupaten Bekasi menggelar kegiatan Forum Group Discussion (FGD) flora dan fauna endemik ikon Kabupaten Bekasi, di Hotel Java Palace, Jababeka Cikarang.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan beberapa tokoh masyarakat untuk memberikan masukan, diantaranya tokoh masyarakat, Drahim Sada, budayawan, Anjar, budayawan, Farid, tokoh pemuda, Ahmad Jaelani, Syuhadi, penggiat lingkungan, Ahmad Qurtubi.

Lanjut Entah, jika kegiatan tersebut sebagai bentuk dari upaya Balitbangda dalam melakukan penelitian untuk mengidentifikasi keanekaragaman flora dan fauna endemik di Kabupaten Bekasi.

Dengan harapan, dapat dijadikan ikon daerah yang berpedoman pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 29 tahun 2009 tentang Pedoman Konservasi Keanekaragaman Hayati di Daerah.

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah keanekaragaman makhluk hidup di muka bumi, dan peran ekologisnya melalui keanekaragaman ekosistem, keanekaragaman spesies dan genetik.

Pemkab juga mendorong pengembangan daerah melalui Balitbangda Kabupaten Bekasi, dalam bentuk fasilitasi, pelaksanaan dan evaluasi penelitian dan pengembangan sub bidang SDA dan Lingkungan Hidup.

“Yang diharapkan, menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berdasarkan hasil penelitian bagi pemangku kepentingan dari setiap perangkat daerah mitra kerja bidang SDA, dan lingkungan hidup yang ditujukan kepada kepala daerah,” ucapnya.

Semetara itu, Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Bekasi, Indra Wahyudi menambahkan, timnya, dalam waktu dekat, akan melakukan jajak pendapat ke masyarakat mengenai flora dan fauna endemik Kabupaten Bekasi.

“Nanti akan kami diseminasi dan sosialisasikan ke masyarakat, melalui angket, sehingga dapat diketahui pilihan flora dan fauna favorit masyarakat, sebagai ikon khas Kabupaten Bekasi,” bebernya. (and)