Cerita Siswa Selamat dari Kecelakaan Maut Sultan Agung

SELAMAT DARI MAUT: Ardina Sharefa (11) saat bersama ayahnya di kediamannya, kemarin. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Satu hari pasca kejadian, Tempat Kejadian Perkara (TKP) masih ramai dikunjungi warga untuk sekedar melihat sisa-sisa peristiwa memilukan itu. Puing sisa kejadian masih nampak di lokasi. Terlihat peralatan milik pedagang yang tersapu truk kontainer, satu plat nomor kendaraan terlihat ditumpukan puing paling atas.

Kamis siang kemarin, karangan bunga ucapan duka berbaris di depan gerbang Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kota Baru 2 dan 3. Ucapan duka tersebut datang dari organisasi guru, perusahaan, universitas, organisasi masyarakat, partai politik, hingga organisasi sosial kemanusiaan. Hari itu juga, beberapa tokoh dan organisasi masyarakat datang ke lokasi, termasuk Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Plt Walikota Bekasi Tri Adhianto.


Beberapa rekaman CCTV detik-detik kecelakaan diterima oleh Radar Bekasi, salah satunya menggambarkan jelas kedatangan truk kontainer dari arah Flyover Kranji menuju Harapan Indah (HI). Truk melaju ke sisi kiri jalan, menabrak pedagang, siswa, dan warga lain, situasi seketika porak poranda.

Sebelum kejadian, nampak pedagang sibuk melayani pembeli, diantaranya siswa. Detik-detik peristiwa terekam rekaman CCTV yang berada di seberang sekolah, satu pedagang nampak baru saja tiba di lokasi, bersiap untuk menepi di depan sekolah. Di sisi kiri pagar sekolah, nampak seorang siswa dan salah satu pedagang sedang bertransaksi, mereka ikut dilibas truk, pedagang yang baru saja datang tidak bisa menepi, terdorong ke tengah jalan.


Belum sempat pedagang tersebut berhenti di depan sekolah, truk datang meluluhlantakkan semua yang ada di depan sekolah, pedagang, barang dagangan, hingga pembelinya yang lebih dulu berada di lokasi. Truk berhenti tepat di bawah pohon, persis berada di sisi halte, seorang siswi nampak terpental ke tengah jalan, setelah itu ia lantas berdiri.

Sempat terlihat kebingungan, siswi tersebut melangkah ke arah halte bus. Warga dari berbagai sudut menghampiri truk, menyelamatkan korban.

Belakangan diketahui siswi tersebut bernama Ardina Sharefa (11), siswa kelas 6. Saat dijumpai di rumahnya, nampak perban kecil melekat di kakinya, penampakan lainnya berupa ruam kemerahan di tangan memanjang hingga menuju ke bahu akibat tersiram kuah bakso.

Bakso yang ia pesan sudah siap disantap, sudah ada di tangan Ardina, dalam sekejap niat untuk menyantap bakso di jam istirahat lenyap. Kuah bakso justru mengenai tangan, kepala, hingga ke tubuh bagian belakang, begitu keluarga menceritakan sebagian tubuh Ardina bau kuah bakso.

Ardina menceritakan detik-detik kecelakaan, ia bersama dengan dua rekannya tengah membeli bakso. Tapi, dua rekan lainnya sudah pergi meninggalkan lokasi ke dalam lingkungan sekolah.

Ia melihat truk melaju dari kejauhan. Dia juga mendengar teriakan dari berbagai sudut memperingatkan semua orang untuk pergi. Belum sempat lari menyingkir, truk lebih dulu melibas gerobak pada pedagang dan puluhan orang di lokasi.

Truk melaju dari lajur dua ke lajur satu, Ardina mengira truk tersebut hendak masuk ke gang menuju kawasan industri tempat dimana ayahnya bekerja. Warga sekitar biasa menyebut kawasan KM 28,5, letaknya sekira 50 meter sebelum gerbang sekolah.

“Itu liat, sempet liat, waktu itu aku liat pas di (depan jalan masuk kawasan) pabrik ayah. Kirain aku truk mau belok ke pabrik ayah, ternyata enggak, malah lurus,” kata Ardina, Kamis (1/9).

Siswi kelas 6 itu tidak bisa menceritakan bagaimana ia bisa selamat. Pandangan mata Ardina gelap, ia menyadari saat dirinya terpental ke tengah jalan.

Saat itu juga, tidak ada suara klakson kontainer. Selain barisan pedagang di depan sekolah, sebenarnya kantin sudah tersedia di dalam lingkungan sekolah, namun tidak banyak pilihan jajanan untuk siswa.

“Ada yang bilang awas, ada kontainer yang mau nabrak. Tapi itu pas mau nabraknya itu kontainer sudah nabrak,” ungkap Ardina menirukan pekikan suara orang-orang disekitar pada detik-detik sebelum kejadian.

Dokter di rumah sakit mengizinkan Ardina pulang pukul 17.00 WIB, keluarga sempat meminta agar Ardina di Rontgen guna memastikan kondisi Ardina benar-benar baik. Kondisi Ardina sudah membaik, hanya saja ia baru merasakan nyeri pada pagi hari kemarin. “Cuma mungkin ini agak bengkak, berasnya pas sekarang ini nih, pas bangun tidur pada sakit badan,” kata ibunya, Lili Lestari (43).

Lili dan suaminya, Slamet (52) bergegas ke sekolah sesaat setelah mendengar kabar kecelakaan. Lili mengaku sangat syok, setelah tidak berhasil menjumpai anaknya di lokasi, ia memilih untuk pulang dengan alasan tidak ingin mendengar langsung kabar menyedihkan tentang anaknya, sementara Slamet melanjutkan pencarian Ardina ke RS Ananda Bekasi.

Setiba di sekolah, lantai dua sekolah adalah tujuan utama, kelas 6 ada disana. Semua siswa kelas 6 dikumpulkan, saat nama Ardina dipanggil tidak ada jawaban, orang tua juga menyaksikan teman-teman dekat Ardina menangis, memberitahu informasi terakhir Ardina sedang membeli bakso di depan sekolah.

Kalut, itulah perasaan kedua orang tua. Keduanya pasrah, pedagang bakso yang dimaksud meninggal ditempat, gerobak dagangan hancur. Bagian bawah dan depan truk tempat korban bergeletakan dicermati secara detail, hasilnya nihil.

“Saya cari tuh di kolong kontainer masih ada empat siswa tergencet, ini kalau pakai androk (rok) anak saya. Saya liatin kakinya, wah ini pakai celana, bukan. Akhirnya saya dikasih tau, pak mungkin di (RS) Ananda, sebagian ada yang dibawa kesana,” kata Slamet seraya menirukan percakapan dengan warga yang berada di lokasi.

Butuh waktu tiga jam untuk Slamet bisa bertemu dengan Ardina, akhirnya ia mendapati Ardina duduk diatas kursi roda, tepat di RS Ananda.”Nggak taunya dari jam 10 dia nangis, ayah mama ayah, itu anak saya di kursi roda sendirian,” tambahnya.

Pukul 09.00 WIB sebelum kejadian, Slamet menjalankan ibadah salat Sunnah Dhuha delapan rakaat, ia meyakini tuhan memberikan keajaiban besar kepada anaknya sehingga selamat. Tidak biasanya di jam-jam ini Slamet ada di rumah, sehingga ia memiliki banyak kesempatan untuk beribadah.

“Ini lindungan dari Allah, Alhamdulillah dia ketarik (terpental) ke kanan,” tambahnya.

Hal yang sama juga dialami oleh istri dari sopir mobil boks yang selamat, Miyati. Ia tidak menyangka suaminya, Rojali bisa selamat, sedangkan kernet yang duduk bersebelahan dengan suaminya meninggal dunia.

Informasi yang ia terima, Rojali selamat, tapi penampakan kendaraan yang ditumpangi suaminya di media membuat ia ragu dan ingin melihat dengan mata kepala sendiri. “Jadi pas saya tau Alhamdulillah suami saya selamat disini namanya, Allah masih melindungi suami saya, saya nggak nyangka suami saya masih ada,” katanya saat dijumpai di RS Ananda.

Kepastian tentang biaya perawatan suaminya juga membuat ia bisa berpikir lebih jernih, biaya pengobatan ditanggung penuh oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Di rumah sakit Ananda kemarin tersisa sembilan pasien rawat inap, empat diantaranya mendapat tindakan bedah atau operasi. Satu pasien memerlukan perawatan medis lantaran menderita luka di bagian mata, dua lainnya menderita luka bakar dan luka robek.

“Jadi korban yang sekarang dirawat itu dewasa dua orang, yang tujuh orang anak-anak semua,” kata Direktur RS Ananda, Titi Masrifahati.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil didampingi Plt Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat mengunjungi keluarga korban kecelakaan maut kanan, kemarin. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

Dukungan moril sudah diberikan oleh pejabat, baik Plt Walikota maupun Gubernur. Tri Adhianto pada hari kejadian telah mendatangi TKP, malam harinya ia menyempatkan diri untuk mendatangi kediaman korban meninggal dunia maupun korban selamat.

Ia bersama dengan rombongan datang dan bersedia mendengarkan beragam cerita dari keluarga korban, di samping memanjatkan doa bagi para korban. Ia memastikan Pemkot Bekasi akan memberikan trauma healing kepada siswa SDN 2 dan 3 Kota Baru. “Saya juga sudah minta kepada dinas DP3A untuk mempersiapkan diri, dan Dinas Pendidikan,” kata Tri.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) akan memberikan trauma healing kepada siswa bersama dengan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi. Rencananya trauma healing akan dimulai awal pekan, sementara ini siswa diberikan waktu untuk berada di rumah bersama dengan keluarga.

Dua hari kemarin DP3A dan KPAD telah mengunjungi sejumlah tempat, rumah korban, RS, dan sekolah. Hasilnya, ditemukan siswa trauma, terutama oleh siswa yang melihat langsung peristiwa kecelakaan.

“Ada beberapa anak juga yang sempat melihat, kita wawancarai mereka, ada bayang-bayang kengerian di kejadian tersebut,” ungkap Komisioner KPAD Bidang Hukum, Novrian.

Ridwan Kamil yang kemarin datang langsung ke sekolah juga mengucapkan duka cita mendalam. Sebelum ke sekolah, ia sempat mendatangi korban di RS Ananda dan salah satu rumah korban meninggal.

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini mengatakan bahwa setiap manusia pernah berada dalam situasi dukacita. Bagi setiap orang, apalagi orang tua, akan merasa sangat kehilangan.

“Jadi saya sangat paham kehilangan anak-anak sebagai harapan keluarga itu ujian besar bagi orang tuanya,” ungkapnya.

Peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi. Pasalnya, peristiwa kecelakaan merenggut banyak nyawa di Jalan Sultan Agung dewasa ini tidak berselang lama dengan peristiwa serupa di Jalan Alternatif Cibubur beberapa waktu yang lalu.

Seluruh guru memberanikan diri untuk melihat dari dekat dan secara langsung lokasi kejadian di depan sekolah, mereka memanjatkan doa dan menaburkan bunga tepat di bawah pohon dimana puing-puing bekas kecelakaan masih menumpuk.

“Jadi baru sekarang ini kami kuat, ingin mendoakan di tempat (kecelakaan)nya, walaupun kemarin kami sudah mendoakan. Tapi karena ingin melihat tempat bekas kejadian itu, maka kami memberanikan diri untuk tabur bunga,” kata kepala Sekolah SDN Kota Baru 3, Teti Taryati.

Data terkahir, ada 10 korban jiwa akibat kecelakaan ini, empat diantaranya adalah siswa SDN Kota Baru 3. Selain siswa, ada satu orang tua siswa dan satu pengantar siswa yang meninggal dunia.

Total keseluruhan korban dalam kecelakaan ini sebanyak 33 orang, korban luka diketahui berjumlah 23 orang, 16 diantaranya adalah siswa.

Seluruh warga sekolah trauma atas kejadian ini. Mengawali pembelajaran di awal pekan nanti, seluruh warga sekolah akan kembali menggelar doa bersama. Disamping itu, yang tidak boleh terlewat adalah memberikan semangat kepada siswa-siswi untuk tetap semangat bersekolah. “Kami akan memberikan semangat kepada anak-anak agar tetap semangat sekolah,” tukasnya.(sur)