Kasus Gagal Ginjal Akut di Bekasi, Ini Penjelasan Penasehat IDAI Perwil Bekasi

Ilustrasi. Data dari Agustus 2022 hingga hari ini, ada total 206 kasus ginjal akut pada anak. Dan 99 di antaranya dinyatakan meninggal. (just dial)

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN – Wakil Ketua IDAI Cabang Jabar dan Penasehat IDAI perwil Bekasi Dr. Triza Arif Santosa, SpA, mengatakan, temuan terkait dengan gagal ginjal akut ini memang sudah dari bulan kemarin.


Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah memantau. Kemudian makin kesini laporannya makin bertambah.

“Kita melihat ini kalau tidak ada didasari pencegahan yang cepat untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya yang lebih pasti itu akan lebih banyak lagi anak-anak yang menderita,” kata Triza saat dihubungi Radarbekasi.id, Rabu (19/10).


Mengingat juga kapasitas RS rujukan, lanjut dia, untuk kasus gagal ginjal akut ini juga masih terbatas.

Jadi untuk penyebabnya ini memang belum konklusif. Jadi kalau dari temuan ini ada berbagai kemungkinan penyebabnya. Salah satunya yang saat ini sedang fokus, seperti yang sedang terjadi di Afrika, di Gambia, ada cemaran yang terjadi di update virus

“Jadi ya sementara waktu ini kita anjurkan semua obat-obatan sirup, apapun jenisnya itu di stop dulu untuk sementara sampai ada rilis resmi dari Kemenkes,” ujarnya.

Lebih lanjut, Karena itu semua akan diteliti apakah ada cemaran-cemaran. Lalu bagaimana untuk penggantinya, itu bisa dalam bentuk puyer atau tablet, atau yang bisa lewat dubur, semacam obat turun panas, obat kejang.

Dan intinya konsultasikan ke dokter, jadi jangan minum obat sendiri ke apotik, tanpa resep dokter, tanpa konsultasi ke dokter.

“Kemudian yang penting juga pencegahan, seperti kalau misalkan anak demam, apapun penyebabnya, apalagi kalau demamnya tinggi, itu kebutuhan cairan kan meningkat ya. Jadi minum harus banyak, karena kalau panas, apalagi tinggi, itu kan kebutuhan cairan meningkat, minum harus banyak,” terangnya

Apalagi yang disertai muntah atau diare, minum harus banyak, sedia oralit di rumah sebagai pertolongan pertama apabila anak diare.

“Jadi kalau anak diare jangan dulu minum obat yang macam-macam, yang beli sendiri ke apotik, tapi yang utama adalah minum oralit,” imbuhnya.

Minum sebanyak-banyaknya supaya tidak dehidrasi yang itu bisa mengakibatkan kerusakan ginjal

“Itu selama ini juga terjadi pada anak yang dehidrasi berat itu bisa gagal ginjal akut. Apabila panas tidak turun-turun bawalah ke dokter, konsultasikan ke dokter. Di rumah bisa kompres hangat dulu untuk menurunkan demamnya, seperti minum obat-obatan yang tersedia di rumah selain sirup,” terangnya.

Ia juga menyampaikan, kemudian untuk deteksi dininya, bisa kelihatan dari urin, sudah berkurang atau warnanya gelap pekat itu berarti anak dehidrasi.

Atau anak sudah 6 sampai 8 jam itu sudah tanda-tanda awal, kalau sudah lebih dari 8 jam anak tidak kencing, harus segera bawa ke dokter.

“Intinya semua jenis obat, vitamin, pokoknya distop dulu ya. Selama ini jadi pembicaraan itu Paracetamol. Paracetamol tetap perlu lah, kalau anak-anak panas ya obatnya salah satunya ya Paracetamol, sementara bentuknya yang selain sirup. Jadi kalau anak panas tinggi ya jangan diem aja, tetap dikasih obat juga, Paracetamol,” jelasnya.

Saat ditanyakan apakah Jawa barat sudah ada laporan, termasuk Bekasi. Dirinya mengaku, belum ada laporan terbaru terkait kasus gagal ginjal akut ini.

“Saya belum baca lagi laporan terbaru, memang sedang dirapot, mungkin ada laporan yang belum masuk atau belum terdata. Jadi saya belum bisa ngomong, nanti mungkin ada pres rilis bersama dengan Pemda atau Dinkes,” ungkapnya. (pay)