RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di tengah kepungan kawasan industri yang terus berkembang di Kabupaten Bekasi, sekelompok anak muda di Desa Muara Bhakti memilih mengambil peran yang berbeda. Mereka tidak sekadar menjadi penonton atas perubahan yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya, tetapi berusaha memahami, mengkritisi, sekaligus mencari solusi bagi persoalan sosial dan lingkungan yang mereka hadapi.
Semangat itu terlihat dalam workshop dan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Tim Riset JT Pro, LPPM Universitas Muhammadiyah Indonesia, bersama pengurus dan anggota Karang Taruna Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, belum lama ini. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proyek riset transisi berkeadilan di kawasan industri captive yang telah berlangsung sejak April 2026.
Namun, kegiatan itu bukan sekadar forum diskusi akademik. Selama satu hari penuh, puluhan pemuda diajak membangun karakter melalui outbound, sesi brainstorming, pemetaan partisipatif, hingga refleksi organisasi. Suasana berlangsung cair.
Gelak tawa saat permainan berpadu dengan diskusi serius mengenai banjir, kualitas udara, akses air bersih, hingga masa depan desa mereka.
Di balik aktivitas itu, tersimpan tujuan yang lebih besar: membangun generasi muda yang memiliki kapasitas organisasi kuat sekaligus kesadaran sosial dan lingkungan yang kritis.
Ketua Tim Riset JT Pro, Endang Suryana Priyatna, mengatakan proses tersebut sengaja dirancang agar masyarakat tidak hanya menjadi objek penelitian, melainkan aktor utama yang mampu membaca kondisi wilayahnya sendiri.
“Melalui latihan pemetaan partisipatif, peserta bersama-sama menandai bagaimana pengalaman warga terhadap lingkungan sekitar berbeda di setiap wilayah desa. Mereka mendiskusikan persoalan banjir, akses air bersih, kualitas udara, hingga sejauh mana program CSR perusahaan benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Diskusi berlangsung dinamis. Setiap kelompok saling bertukar pengalaman mengenai perubahan yang mereka rasakan sejak kawasan industri berkembang di sekitar desa. Menariknya, para peserta tidak hanya menyampaikan keluhan.
Mereka mampu membedakan persoalan yang memang muncul akibat aktivitas industri dengan masalah lingkungan yang telah berlangsung sejak lama atau dipengaruhi faktor lain. Kemampuan membaca persoalan secara objektif itu dinilai menjadi indikator tumbuhnya kesadaran lingkungan yang matang.
“Dari diskusi terlihat bahwa warga tidak berhenti pada kritik. Mereka juga menawarkan berbagai solusi, mulai dari pembenahan drainase, pengelolaan saluran air, hingga penguatan kolaborasi antarwarga. Itu menunjukkan orientasi mereka sudah mengarah pada penyelesaian masalah,” kata Endang.
Selain membahas isu lingkungan, para peserta juga diajak menilai kondisi organisasi Karang Taruna secara terbuka. Mereka mengevaluasi sistem dokumentasi kegiatan, transparansi keuangan, regenerasi kepengurusan, pemerataan keterwakilan wilayah, hingga partisipasi perempuan dalam organisasi.
Hasilnya cukup menggembirakan. Karang Taruna Muara Bakti dinilai memiliki fondasi kelembagaan yang kuat, terutama dalam pencatatan kegiatan dan pelaporan keuangan. Meski demikian, peserta juga mengakui masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama menjaga keberlanjutan program tanpa terlalu bergantung pada dukungan pihak luar.
Keterbukaan tersebut justru dipandang sebagai kekuatan organisasi.”Yang paling berharga dari kegiatan ini bukan hanya data yang terkumpul, tetapi proses ketika warga mampu menamai kondisi mereka sendiri, mengevaluasi organisasinya secara jujur, lalu mengusulkan langkah-langkah perbaikan atas inisiatif mereka sendiri,” ujar salah seorang anggota Tim Riset JT Pro lainnya, Fakhran Al Ramadhan.
Baca Juga: Ketua DPRD Berang SMPN 6 Tambun Selatan Batal Dibangun
Menurutnya, Karang Taruna Muara Bakti telah menunjukkan kapasitas organisasi yang cukup matang sekaligus memiliki kesadaran sosial-lingkungan yang kuat terhadap wilayahnya sendiri.
“Itu merupakan modal penting untuk membangun langkah-langkah berikutnya menuju pembangunan desa yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, peserta juga diperkenalkan dengan perangkat dokumentasi sederhana yang dapat digunakan untuk mencatat seluruh aktivitas organisasi. Dokumentasi tersebut diharapkan memudahkan Karang Taruna menyampaikan capaian program kepada pemerintah desa, perusahaan, mitra CSR, maupun masyarakat.
Pada sesi diskusi penutup, setiap peserta diminta menyampaikan satu komitmen pribadi yang akan diwujudkan setelah kegiatan berakhir. Mulai dari menggerakkan aksi kebersihan lingkungan, memperkuat komunikasi antarwilayah, hingga membuka lebih banyak ruang bagi perempuan dan generasi muda untuk terlibat aktif dalam organisasi.
Salah satu peserta bahkan menyebut Karang Taruna sebagai “estafet peluang kerja”, yakni wadah yang menghubungkan informasi dan kesempatan kerja bagi sesama warga agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas.
Ketua Karang Taruna Desa Muara Bakti, Maryanto, mengaku memperoleh banyak pelajaran dari rangkaian workshop tersebut. Menurutnya, kegiatan itu membuka cara pandang baru tentang bagaimana organisasi kepemudaan dapat menjadi motor perubahan di tengah desa yang terus berkembang.
“Kami sangat senang mengikuti kegiatan ini. Banyak wawasan baru yang kami dapatkan, baik mengenai penguatan organisasi maupun bagaimana membangun kepedulian terhadap lingkungan. Ini menjadi bekal penting bagi Karang Taruna untuk ikut membangun Desa Muara Bakti,” ujar Maryanto.
Ke depan, seluruh hasil diskusi akan menjadi bagian dari laporan penelitian Tim Riset JT Pro sekaligus menjadi dasar penyusunan rekomendasi bagi pemerintah desa, perusahaan, serta para pelaksana program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Harapannya, setiap kebijakan yang lahir tidak lagi sekadar berbasis data statistik, tetapi benar-benar mendengar suara warga yang hidup berdampingan dengan kawasan industri.(mif)











