Pengurus Partai Republik Satu Tunggu Pinangan

DATA: Ketua DPC Partai Republik Satu Kabupaten Bekasi, Maman Abdurahman (kedua dari kiri) sedang menyerahkan SK kepengurusan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bekasi.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Republik Satu Kabupaten Bekasi masih menunggu pinangan dari partai politik yang lolos sebagai peserta pemilu 2024 mendatang. Pasalnya, partai besutan Hasnaeni alias ‘Wanita Emas’ ini, sudah dipastikan tidak lolos sebagai peserta pemilu 2024.

Terlebih saat ini, mantan pemain sinetron yang juga sebagai Ketua Umum Partai Republik Satu, sudah ditetapkan sebagai tersangka Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam korupsi pengadaan proyek di PT Waskita Beton Precast (WBP).


“Kalau memang ada yang mau merekrut monggo. Kalau nggak, yaudah bubar,” ujar Ketua DPC Partai Republik Satu Kabupaten Bekasi, Maman Abdurahman, kepada Radar Bekasi, Senin (24/10/2022).

Kata Maman, saat ini para pengurus yang ada ditingkat DPC maupun Pengurus Anak Cabang (PAC) masih terus kepada dirinya, untuk mempertanyakan mau berlabuh ke partai mana. Walaupun sampai sekarang belum ada komunikasi dengan partai politik lain, untuk membicarakan pemilu 2024.


“Kalau pengurus masih terus berkordinasi dengan saya. Takutnya ada partai lain yang kordinasi, kita masih menunggu pinangan dari partai lain,” ungkapnya.

Pria asal Tambelang ini mengklaim, struktur kepengurusan ditingkat DPC sudah hampir semuanya lengkap. Kemudian untuk PAC yang sudah terbentuk atau mendapatkan SK 16 kecamatan. Sayangnya, dia tidak bisa memastikan jumlah anggota dikepengurusan partai yang dipimpinnya ini.

“Sudah banyak juga, jumlahnya saya nggak tahu pasti. Kalau jumlah kepengurusan di DPC setiap bidangnya sebanyak dua orang dan kecamatan tiga orang,” ucapnya.

Dalam kondisi seperti sekarang dirinya mengaku, belum ada arahan dari DPP, karena memang sudab tidak ada komunikasi dengan ketua umum. Sementara untuk arahan dari DPD Jawa Barat, semua diserahkan ke masing-masing pengurus mau berlabuh ke partai mana. Hal itu mengingat Partai Republik Satu sudah dipastikan tidak lolos menjadi peserta pemilu 2024.

“Arahan dari DPD, kalau memang teman-teman (pengurus) mau bergabung ke partai lain ya silahkan,” katanya. (pra) bergantian berjaga di TPA Burangkeng, untuk mengantisipasi terjadinya longsor. Dan bisa mengambil tindakan,” ucap Kepala Bidang Kebersihan DLH Kabupaten Bekasi, Khoirul Hamid.

Ia menyampaikan, terkait pelayan sampah memang ada hambatan. Salah satunya keterlambatan dalam pengangkutan. Namun pihaknya tetap memberikan pelayanan secara maksimal, untuk menghindari tumpukan sampah di sumbernya.

”Kami juga berusaha menghindari adanya keterlambatan pengangkutan yang membuat tumpukan sampah terjadi di sumbernya,” terang Hamid.

Diberitakan sebelumnya, antrean truk sampah menuju TPA Burangkeng, membuat para sopir harus menginap di truk sampah untuk menunggu giliran.

Hal ini merupakan kesekian kali proses pembuangan sampah ke TPA Burangkeng bermasalah. Meski sudah bertahun-tahun lokasi tersebut dinyatakan sudah overload, namun Kabupaten Bekasi tidak memiliki tempat pembuangan sampah selain TPA Burangkeng.

Penyebab utama antrean truk hingga berjam-jam menuju TPA Burangkeng, karena lahannya tidak lagi memadai untuk menampung sampah, dan kurangnya alat berat.

Salah seorang supir truk sampah, Andi (43), mengaku sudah sampai ke TPA Burangkeng sejak pukul 09.00 WIB. Namun, hingga sore hari, truk yang dikemudikannya tak kunjung beranjak dari antrian.

“Ngantri dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB, masih antre dan belum bisa masuk.

Badan rasanya sudah nggak enak, pada bau. Tapi mau balik lagi tidak bisa, karena di belakang sudah banyak yang ngantri,” bebernya.

Sopir yang mengangkut sampah dari Kecamatan Karangbahagia ini menuturkan, proses bongkar muat biasanya tidak butuh waktu lama. Ketika datang, sampah lebih dulu ditimbang sebelum dibuang. Kini, dia terpaksa harus mengantri sepanjang hari demi menjalankan tugas.

“Biasanya cuma ditimbang, buang, abis itu pulang lagi, angkut lagi. Sekarang dapat satu rit saja bisa seharian. Malah teman saya ada yang nginap di TPA Burangkeng,” terang Andi.

Pria yang sudah puluhan tahun mengemudikan truk sampah ini, tidak mengetahui secara pasti apa penyebab antrean panjang di TPA Burangkeng. Tapi, ini bukan kali pertama terjadi.

Dia berharap bisa segera dibenahi, karena berkaitan dengan pelayanan sampah masyarakat.

“Kabarnya sih, ini antre karena alat beratnya kurang, terus ada longsor juga. Harapan saya, semoga kembali normal lagi biar para sopir truk tidak antri seharian. Soalnya kan banyak sampah yang harus diangkut,” katanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat lebih dari 30 truk sampah yang mengantri untuk masuk ke TPA Burangkeng. Hampir seluruh truk sudah ditinggal sopirnya yang memilih keluar, akibat kendaraan yang tidak bisa bergerak sama sekali.

Sementara itu, beberapa ekskavator terlihat bekerja di atas sampah yang menggunung. Petugas memindahkan berton-ton sampah dari satu gundukan ke lokasi lainnya, agar bisa menampung sampah lainnya. Bahkan terdapat beberapa sisi gunung yang longsor dan membuat sampah meluber hingga menutupi akses jalan masuk truk.

Dalam sebulan terakhir, sedikitnya tiga kali longsor sampah terjadi di TPA Burangkeng. Akibatnya, proses pembuangan sampah ke lokasi tersebut terhambat, sehingga terjadi penumpukan di sejumlah lokasi penampungan. (and)