Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

Bekasi Juara Penghasil Sampah

Terbanyak di Jabar, ke Tiga se Nasional

Illustrasi Kondisi sampah yang menggunung di bantaran Kali Cikeas. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Volume timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 35,93 juta ton, Bekasi termasuk dalam 10 besar kota dan kabupaten dengan timbulan sampah terbanyak.Sementara di Jawa Barat, Bekasi menjadi juara. Kondisi ini mesti disikapi dengan serius oleh seluruh pihak.

Setiap jiwa manusia diperkirakan memproduksi 0,7 kg sampah setiap hari. Timbunan sampah menjadi besar melihat jumlah warga Kabupaten Bekasi saat ini sebanyak 3 juta jiwa, dan Kota Bekasi sebanyak 2,4 juta jiwa.

Jumlah ini berpotensi terus bergerak seiring dengan pertumbuhan penduduk setiap tahun nya. Belum lagi, ada sampah yang dihasilkan dari sektor bisnis. Nampaknya, pemerintah dan masyarakat harus benar-benar serius bekerja sama untuk mengurai permasalahan sampah ini.

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2022, Kabupaten Bekasi berada di nomor tiga dengan timbulan sampah mencapai 821.379 ton, sementara Kota Bekasi berada tiga tingkat di bawahnya dengan timbulan sampah mencapai 668.179 ton dalam setahun.

Beberapa permasalahan sampah dihadapi oleh Bekasi, diantaranya masih adanya titik pembuangan sampah liar, pemilahan sampah yang belum berjalan maksimal, hingga tidak semua sampah bisa terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah persampahan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kesulitan menyelesaikan masalah persampahan ini. Mengingat pelayanan yang diberikan oleh Pemkab Bekasi setiap harinya hanya 40 persen, dari volume di Kabupaten Bekasi.

“Sampah kalau diukur 0,7 kilo per jiwa dikalikan tiga juta jiwa. Jumlahnya sekitar 1000 sampai 2000 ton perhari, kemampuan pelayanan yang ada hanya sekitar 800 ton per hari, atau hanya 40 persen dari volume sampah yang dihasilkan,” ujar Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup, Acung, kepada Radar Bekasi, Senin (9/10).

Memang kata Acung, dalam penanganan sampah ini Pemkab Bekasi dibantu oleh para penggiat pengelolaan sampah. Namun demikian, sampah yang dikelola setiap harinya masih sangat minim, sehingga tak banyak mengurangi volume sampah. “Ditambah dengan yang dikelola oleh penggiat pengelolaan sampah melalui TPS3R dan Bank Sampah. Tapi yang dikelola setiap hari hanya sekitar di angka lima persen,” jelasnya.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Bupati Bekasi, Dani Ramdan mengatakan, perluasan lahan TPA Burangkeng ini merupakan salah satu solusi jangka pendek untuk menangani persoalan sampah di Kabupaten Bekasi. Daerah dengan nilai investasi tertinggi di tanah air ini hanya memiliki satu tempat pembuangan sampah, yakni di Burangkeng. Setiap hari tercatat sebanyak 750 ton sampah yang dibuang ke TPA Burangkeng.

Menurutnya, perluasan lahan TPA Burangkeng bukan satu-satunya solusi Pemkab Bekasi. Kedepan, pihaknya akan membangun tempat pembuangan terpadu di berbagai titik untuk produksi sampah. “Intinya, sampah yang akan dibuang ke TPA Burangkeng, hanya sebagian kecil, sisanya habis diproses melalui teknologi yang akan dibangun ke depan,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pertanahan pada Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bekasi, Danial Firdaus menjelaskan, saat ini TPA Burangkeng memiliki luas 11,6 hektar. Rencananya, lahan akan ditambah 2,1 hektar. Perluasan mengharuskan pembebasan sejumlah lahan milik warga.

Danial mengatakan, terdapat 21 bidang tanah warga yang harus dibebaskan. Ada beberapa tanah lapang, sedangkan sisanya terdapat bangunan, tanaman hingga berbagai aset lainnya. Berdasarkan ketentuan, segala sesuatu yang terdapat di atas permukaan dan di bawah tanah, akan dihitung untuk turut dibebaskan. Setelah dilakukan sosialisasi, maka proses penghitungan nilai menjadi ranah Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP).

“Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir, segala sesuatu yang ada di atas dan dalam tanah akan dihitung, termasuk bangunan, pagar atau bila ada bunker di bawah tanah juga dihitung. Sama seperti proses pembebasan lahan oleh pemerintah pusat. Nilainya berapa, menunggu penghitungan dari KJPP,” bebernya.

Sementara itu di Kota Bekasi, dengan jumlah 2,4 juta lebih penduduk, total timbulan sampah yang dihasilkan per hari mencapai 1.800 ton.

“Kalau dilihat dari kondisi yang ada, pertumbuhan penduduknya memang ada. Hitungannya masih di 1.800, jadi tidak naik terlalu signifikan,” kata Kepala DLH Kota Bekasi, Yudianto.

Meskipun demikian, menurutnya kondisi persampahan di Kota Bekasi harus jadi perhatian bersama. Pihaknya mengakui bahwa ada beberapa kendala terkait dengan penanganan sampah, diantaranya adalah kemampuan yang terbatas dari sisi armada kendaraan pengangkut sampah hingga Sumber Daya Manusia (SDM).

Belum lagi, lahan di sekitar TPA Sumur Batu semakin menyempit, hal ini membuat DLH Kota Bekasi harus menghitung daya dukung dan daya tampung TPA. Saat ini, terdapat dua zona yang masih aktif di TPA Sumur Batu.

“Itu yang harus menjadi pemikiran kita bersama, bagaimana cara mengurangi sampah. Memang kita akui kemampuan kita sangat terbatas sekali, baik dari segi armada maupun SDM,” ungkapnya.

Tentu tidak bisa diselesaikan secara menyeluruh dalam waktu singkat, setidaknya untuk mereduksi sampah ini diperlukan upaya mulai dari hulu atau rumah tangga, sampai ke hilir atau di TPA. Mesti dimulai dengan membangun kesadaran di tengah masyarakat untuk membudayakan pemilahan sampah.

Upaya ini kaya Yudianto, dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat lewat beberapa program, dimulai dari Program Kampung Iklim (Proklim), program Adiwiyata di sekolah, serta upaya lainnya terhadap dunia usaha. Usaha yang lain, yakni melalui bank sampah dan TPS3R, hingga bekerjasama dengan pengolahan sampah milik swasta yang saat ini masih dalam penyusunan Studi Kelayakan atau Feasibility Study (FS).

Sementara untuk sampah organik, sejauh ini ia menyebut telah bekerjasama dengan komunitas di lingkungan masyarakat, seperti budidaya maggot. Sedangkan untuk jangka panjang, pengolahan sampah akan dilakukan berbasis teknologi, saat ini masih dalam proses.

“Terkait dengan pengolahan sampah, kita menggunakan teknologi, PLTSa yang saat sekarang sedang dalam proses. Untuk jangka panjangnya,” tambahnya.

Sekedar diketahui, timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2022 meningkat 22.04 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Volume timbulan sampah ini terbanyak berada di Pulau Jawa. (pra/and/sur)