Berita Bekasi Nomor Satu

Gurun Digital

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Langkah pertama saya menapaki Kota Makkah bukan hanya menghadirkan rasa haru sebagai tamu Allah. Ada hal lain yang diam-diam membuat saya terus terpukau selama beberapa hari berada di Tanah Suci, yakni kecanggihan teknologi yang dimiliki Arab Saudi.

Terus terang, sebelum berangkat haji saya masih sering mendengar candaan yang menyebut orang Arab sebagai “kadal gurun” atau kadrun. Gambaran yang muncul di kepala saya pun sederhana: negara tandus, panas, dan serba tradisional. Namun sesampainya di sini, anggapan itu perlahan runtuh. Di tengah hamparan gurun yang kering, justru berdiri negeri dengan sistem teknologi modern yang tertata rapi.

Hal pertama yang membuat saya terkejut adalah suasana kotanya. Hampir tidak terlihat kabel listrik menjuntai semrawut seperti yang biasa saya lihat di beberapa sudut kota di Indonesia, termasuk di Bekasi. Jaringan listrik dan utilitas di banyak kawasan ternyata ditanam di bawah tanah. Jalanan terlihat bersih dan rapi. Tidak ada tiang penuh kabel kusut yang mengganggu pemandangan.

Di perjalanan menuju beberapa lokasi ibadah, saya juga dibuat kagum dengan jalan tol di Saudi. Jalanannya lebar, mulus, dan panjang membelah gurun. Yang paling mengejutkan, seluruh jalan tol di sana gratis. Tidak ada gerbang pembayaran seperti di Indonesia.

Mobil tinggal masuk dan keluar begitu saja tanpa harus berhenti mengambil kartu atau menyiapkan uang elektronik. Semuanya terasa cepat dan efisien. Sopir bus yang membawa rombongan kami bahkan bisa melaju sangat stabil di kecepatan tinggi.

Di Saudi, batas kecepatan di jalan tol antar kota umumnya mencapai 120 kilometer per jam, bahkan ada yang hingga 140 kilometer per jam seperti jalur Madinah menuju Jeddah. Namun meski kendaraan melaju cepat, pengemudi terlihat sangat tertib.

Saya kemudian mengetahui penyebabnya. Hampir di setiap ruas jalan terdapat kamera pengawas lalu lintas bernama Sahir. Kamera ini bekerja otomatis merekam berbagai pelanggaran, mulai dari kelebihan kecepatan, menerobos lampu merah, hingga tidak memakai sabuk pengaman.

Tak ada cerita pengawasan longgar. Semua terekam otomatis. Jika melanggar, denda langsung menanti. Nominalnya pun tidak main-main. Pelanggaran lampu merah misalnya bisa dikenai denda hingga ribuan riyal.

Saya jadi teringat suasana jalanan di Indonesia. Banyak pengendara masih berani memacu kendaraan melebihi batas kecepatan karena merasa tidak diawasi. Akibatnya, kecelakaan di jalan tol pun masih sering terjadi.

“Kalau di sini mah orang takut melanggar. Kameranya ada terus,” ujar seorang sopir lokal yang sempat berbincang dengan saya di sela perjalanan.

Bukan hanya soal jalan dan lalu lintas, hal lain yang membuat kami para jemaah tercengang adalah ketersediaan air. Padahal Saudi dikenal sebagai negara gurun yang gersang. Namun selama kami menginap di hotel di Makkah, air mengalir deras tanpa hambatan.

Salah seorang calon jemaah haji asal Bekasi Utara bahkan sempat berseloroh dengan logat Betawinya yang kental.

“Padahal gurun, tapi air banyak. Lah di Bekasi, banyak kali tapi air PDAM macet mulu, butek lagi,” katanya sambil tertawa kecil. Jemaah lain ikut menimpali.

“Kemarin di asrama haji Bekasi air kamar mati. Lah ini jauh di tengah gurun malah air melimpah.”

Belakangan saya baru memahami bahwa Saudi memang memiliki teknologi pengolahan air laut yang sangat maju. Negara itu mengembangkan sistem desalinasi, yakni proses mengubah air laut menjadi air bersih siap pakai.

Sebagian besar kebutuhan air minum di Saudi berasal dari hasil desalinasi. Salah satu perusahaan pengolahan air terbesar berada di Al Jubail yang mampu memproduksi ratusan ribu meter kubik air bersih setiap hari.

Teknologi yang digunakan bernama reverse osmosis atau RO. Air laut diberi tekanan tinggi agar air tawarnya dapat dipisahkan dari garam melalui membran khusus. Dari proses itu, Saudi bukan hanya menghasilkan air bersih, tetapi juga mengekstrak mineral bermanfaat dari laut.

Sebagai orang yang tinggal di negara kaya sungai dan hujan, saya justru merasa malu. Di negeri gurun, air bisa begitu melimpah karena teknologi dikelola dengan serius.

Kecanggihan Saudi ternyata tidak berhenti sampai di situ. Di kawasan Masjidil Haram, teknologi kecerdasan buatan atau AI mulai digunakan untuk mengatur jutaan jemaah.

Sistem bernama Baseer dipakai untuk memantau pergerakan manusia dan membaca kepadatan kerumunan secara real-time. Dengan sistem itu, petugas dapat mengurai kepadatan lebih cepat demi menjaga keselamatan jemaah.

Sementara itu, kamera CCTV berkualitas tinggi tersebar hampir di seluruh sudut Masjidil Haram. Ribuan kamera bekerja tanpa henti memantau situasi agar tidak ada titik buta pengawasan.

Di tengah suhu panas ekstrem, Saudi pun memiliki sistem pendingin berskala besar di area Arafah dan Mina. Semprotan kabut air halus dan menara pendingin dipasang untuk membantu menurunkan suhu udara yang menyengat.

Semua itu membuat saya sadar bahwa Saudi hari ini bukan hanya pusat ibadah umat Islam dunia, tetapi juga salah satu negara yang serius membangun masa depan teknologi.

Bahkan mereka sedang membangun proyek kota pintar bernama NEOM melalui konsep The Line, kota modern sepanjang 170 kilometer tanpa mobil dan tanpa jalan raya yang akan ditenagai energi terbarukan serta kecerdasan buatan.

Di sela ibadah haji yang menguras tenaga dan emosi, saya justru belajar satu hal penting di negeri ini: kemajuan tidak lahir karena alam yang subur, melainkan karena kesungguhan manusia mengelola ilmu pengetahuan.

Di tengah gurun yang tandus itu, Arab Saudi menunjukkan kepada dunia bahwa teknologi bisa tumbuh sangat maju, bahkan di tempat yang dulu dianggap mustahil. Saya yakin, masih banyak teknologi lain di Arab Saudi yang belum saya ketahui. (*)