Berita Bekasi Nomor Satu

Bencana Hidrometeorologi Masih Mengancam Bekasi

ILUSTRASI: Sejumlah anak-anak bermain di saluran irigasi persawahan di Cikarang Timur, Selasa (14/4). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Masyarakat Kabupaten Bekasi diimbau meningkatkan kewaspadaan seiring masuknya masa peralihan musim atau pancaroba.

Meski diperkirakan memasuki musim kemarau pada April hingga Juni 2026, potensi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi. Kondisi anomali cuaca juga terjadi dengan suhu siang hari mencapai 33 derajat Celcius sementara pada sore hari hujan kerap turun.

Pemerintah Kabupaten Bekasi masih menetapkan status siaga darurat bencana banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, abrasi, dan tanah longsor. Status tersebut berlaku sejak 22 September 2025 hingga 30 April 2026.

Status itu dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai kebutuhan penanganan di lapangan. Ketetapan ini tertuang dalam Keputusan Bupati Bekasi Nomor 100.3.3.2/Kep.508-BPBD/2025.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengatakan hujan masih terjadi di sejumlah titik meski mulai menuju musim kemarau. Kondisi itu menunjukkan risiko bencana hidrometeorologi belum berakhir.

Dodi menilai sektor pertanian menjadi yang paling rentan terhadap perubahan pola cuaca. Karena itu, petani diminta segera beradaptasi agar produktivitas lahan tetap terjaga di tengah menurunnya pasokan air.

“Petani diimbau menggunakan varietas padi atau tanaman yang tahan kekeringan, mengatur jadwal tanam, dan mengoptimalkan pengolahan air,” ucap Dodi, Selasa (14/4).

Menurutnya, peralihan musim juga meningkatkan risiko kebakaran serta gangguan kesehatan. Debu yang mulai muncul pada awal kemarau dan lahan yang mengering dapat menjadi pemicu kebakaran.

Dodi mengingatkan warga untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api. Di antaranya membakar sampah, membakar lahan pascapanen, serta membuang puntung rokok sembarangan.

“Dari sisi kesehatan, masyarakat juga perlu menjaga kebersihan lingkungan untuk mengantisipasi penyakit akibat debu, sekaligus memastikan ketersediaan air bersih tetap terjaga,” pungkasnya. (ris)