RADARBEKASI.ID, BEKASI – Penjualan hewan kurban di Kabupaten Bekasi merosot pada momen Iduladha 1447 Hijriah. Kondisi itu dipicu melemahnya daya beli masyarakat serta kenaikan harga sapi.
Pemilik Ghita Farmer, Budiono, mengatakan hingga saat ini pihaknya baru menjual lebih dari 100 ekor sapi. Jumlah tersebut menurun dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Tahun lalu kita bisa menjual 350 sampai 400 ekor sapi. Kalau tahun sekarang paling di atas 150 sapi,” ujar Budiono di kandangnya wilayah Cikarang Timur, Kamis (7/5).
Ia menyebut, merosotnya penjualan dipengaruhi kenaikan harga sapi akibat berkurangnya populasi ternak setelah merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
BACA JUGA: Demam Tiga Hari Bikin Peternak Sapi di Kabupaten Bekasi Cemas
“Mungkin ada kelangkaan dari jenis sapinya karena imbas dari PMK pada tahun lalu yang membuat sapi dipotong paksa sehingga populasinya berkurang,” katanya.
Budiono menyebut harga sapi Bali di tingkat peternak saat ini mencapai Rp55 ribu hingga Rp58 ribu per kilogram. Angka tersebut naik dibanding tahun lalu yang masih berada di kisaran Rp48 ribu per kilogram.
Kenaikan harga itu berdampak pada harga jual di tingkat pedagang. Sapi dengan bobot favorit masyarakat sekitar 300-350 kilogram kini dijual rata-rata Rp22,5 juta per ekor atau naik sekitar Rp1,5 juta dibanding tahun lalu.
Selain faktor harga, Budiono menilai lesunya penjualan juga dipengaruhi kondisi ekonomi global. Maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri membuat masyarakat lebih selektif mengatur pengeluaran, termasuk untuk ibadah kurban secara kolektif.
“Biasanya di perumahan atau musala ada iuran kurban. Sekarang banyak yang menahan karena kondisi ekonomi. Kalau pesanan kambing ada juga tapi gak banyak,” tutur Budiono.
Di tengah kondisi tersebut, Budiono memilih membatasi stok sapi di kandang dan menyesuaikannya dengan permintaan pasar guna menghindari risiko kerugian. Tahun ini, ia hanya menyiapkan sekitar 150 ekor sapi, turun drastis dibanding tahun lalu yang mencapai 400 ekor.
“Kami tidak menyetok terlalu banyak. Sebagian besar sapi yang tersedia berdasarkan pesanan pelanggan,” katanya.
Meski demikian, Budiono memastikan kualitas dan kesehatan hewan tetap menjadi prioritas. Seluruh ternak yang dipasarkan telah memenuhi standar kesehatan dan menjalani vaksinasi, terutama untuk mencegah PMK dan penyakit kulit berbenjol atau lumpy skin disease (LSD).
“Ada vaksin dari pemerintah, tapi kami juga melakukan vaksin mandiri untuk sapi limosin dan simental. Jadi kesehatan sapi tetap kami jaga,” pungkasnya. (ris)











