RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Wakil Ketua Umum (Waketum) PBSI, Taufik Hidayat, membuka peluang melakukan perombakan di sektor kepelatihan usai mendapat hasil mengecewakan pada Thomas Cup 2026 dan Uber Cup 2026. Evaluasi terutama difokuskan pada sektor putra yang gagal memenuhi ekspektasi untuk melanggeng ke partai final.
Prestasi bulutangkis Indonesia pada edisi tahun ini mengalami penurunan cukup tajam. Pasalnya Tim putra Merah Putih bahkan gagal lolos dari fase grup untuk pertama kalinya sepanjang sejarah keikutsertaan di Thomas Cup. Padahal, Indonesia berstatus sebagai negara tersukses dengan koleksi 14 gelar juara.
Sementara itu, tim putri Indonesia juga gagal mengulangi pencapaian sebelumnya setelah langkah mereka terhenti di semifinal Uber Cup 2026. Pada edisi 2024 lalu, skuad Merah Putih berhasil menembus final sebelum dikalahkan Tiongkok.
Menanggapi hasil tersebut, Taufik menegaskan PBSI telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa tim nasional. Ia menyebut kemungkinan perombakan tidak hanya menyasar pemain, tetapi juga jajaran pelatih.
BACA JUGA: PBSI Minta Maaf Usai Indonesia Tuai Hasil Terburuk di Ajang Piala Thomas 2026
“Ya sangat mungkin (adanya perombakan pelatih). Kenapa nggak? Apakah ada perubahan di sektor pemain tunggal putra, di pemain yang lain? Sangat mungkin juga. Karena contoh misalkan buat pemain, kita nggak melulu yang setahun sekali ada promosi degradasi, kita bisa kapan aja sekarang,” kata Taufik dalam konferensi pers di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (8/5/2026).
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga itu menilai dunia olahraga, khususnya bulutangkis, tidak bisa menunggu terlalu lama untuk melakukan perubahan apabila performa tim terus menurun.
“Untuk pelatih pun sama. Kalau kita kasih kesempatan nggak ada perform-nya, kenapa enggak? Kita di sini cari solusi yang pengen yang terbaik kan. Bahwa olahraga ini nggak bisa ditunggu lagi, tiap hari latihan, tiap minggu, tiap bulan ada pertandingan, nggak bisa. Kita cari formula yang terbaik gimana,” sambungnya.
Taufik menegaskan seluruh elemen di PBSI harus bertanggung jawab atas hasil minor yang diraih Indonesia pada Thomas dan Uber Cup 2026. Ia berharap seluruh pihak memiliki visi yang sama untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis Tanah Air.
“Kita cari yang terbaik lah. Nggak hanya pemain, pelatih, ini semua kita harus bertanggung jawab juga gitu lho. Kita semua harus bertanggung jawab juga di situ,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang merasa nyaman dengan situasi saat ini. Menurutnya, kerja sama tim menjadi faktor penting untuk membangkitkan kembali prestasi Indonesia di level internasional.
“Enggak ada yang memang pelatih, pemain juga ya zona nyaman ya enak-enakan aja di situ. Yang pasti kita di sini butuh kerja tim yang sama. Kalau memang kita bisa sama-sama, team work-nya berjalan, ya ayo kita sama-sama,” pungkas Taufik.
Kegagalan tim putra Indonesia di Thomas Cup 2026 menjadi sorotan tajam publik. Hasil tersebut bahkan mencatatkan rekor terburuk baru setelah sebelumnya pencapaian paling rendah hanya terjadi saat terhenti di babak perempat final pada edisi 2012.
Padahal, Indonesia dikenal sebagai raja Thomas Cup dengan torehan 14 gelar juara dari 30 kali partisipasi. Bahkan dalam tiga edisi terakhir, tim Merah Putih selalu berhasil mencapai partai final, termasuk menjadi juara pada edisi 2020. (zak)











