Berita Bekasi Nomor Satu

Hewan Kurban Asal Garut Terpapar Iritasi Mata di Bekasi akibat Cuaca Panas

ILUSTRASI : Pekerja memberi pakan sapi di Cikarang Timur, belum lama ini. FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi menemukan sejumlah hewan kurban mengalami iritasi mata. Gangguan kesehatan tersebut diduga dipicu perbedaan suhu antara daerah asal ternak dengan kondisi Kabupaten Bekasi yang lebih panas.

Temuan itu didapat Tim Pengendalian Penyakit Hewan dan Penjamin Kesehatan Hewan (P2HPKH) saat melakukan inspeksi mendadak di lapak penjualan hewan kurban di wilayah Cikarang Barat menjelang Iduladha 1447 Hijriah.

“Penyakit mata kami temukan di Cikarang Barat. Ada iritasi dengan gejala mata merah dan berair,” ujar
Ketua Tim P2HPKH, Dewi Suryani, pekan kemarin.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kondisi tersebut diduga dipicu perbedaan cuaca antara daerah asal hewan ternak dan lingkungan di Kabupaten Bekasi.

“Misalnya dari Garut yang dingin, sedangkan di Bekasi panas. Itu berpengaruh,” kata Dewi.

Pihaknya telah meminta penjual untuk memisahkan hewan yang bergejala guna mencegah penularan. Dewi menegaskan, hewan yang terindikasi penyakit mulut dan kuku (PMK) tidak diperbolehkan untuk diperjualbelikan sebagai hewan kurban sebelum dinyatakan sembuh, meski dagingnya tetap aman dikonsumsi jika diolah dengan benar.

“Untuk kurban belum bisa karena kami minta untuk diobati dulu sampai sembuh,” katanya.

Selain mengantisipasi dampak stres cuaca, tim yang diperkuat 32 personel medis dan dokter hewan itu juga memperketat skrining terhadap penyakit menular.

Berdasarkan catatan, pergerakan pasokan ternak ke Kabupaten Bekasi cukup masif. Sedikitnya 19.000 ekor hewan kurban yang tersebar di 227 titik penjualan telah diperiksa secara klinis. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 9.000 sapi, 5.600 domba, dan 4.000 kambing. Namun, di lapangan jumlahnya disebut lebih tinggi dari data resmi tersebut.

“Data di lapangan yang sudah diperiksa saya pastikan lebih banyak, hanya laporannya saja memang yang belum masuk semua. Jadi datanya terus bergerak,” kata Dewi.

Untuk memastikan perlindungan konsumen, pengawasan tidak hanya dilakukan di tingkat pedagang atau peternak. Pemeriksaan kesehatan hewan kurban juga akan diperluas hingga ke lokasi penyembelihan pada hari pelaksanaan.

“Pemeriksaan terus kami lakukan hingga H-1 Iduladha. Nantinya tidak hanya di tingkat penjual tapi juga bergeser ke tempat-tempat atau masjid-masjid yang akan menyelenggarakan penyembelihan. Kami periksa juga kondisi kesehatannya,” tuturnya.

Masyarakat pun diimbau menjadi konsumen yang cerdas dalam memilih hewan kurban, dengan memperhatikan kondisi fisik secara saksama sebelum transaksi.

Ia memaparkan sejumlah indikator hewan yang sehat, mulai dari gerak yang aktif, nafsu makan tinggi, mata jernih, hidung bersih, hingga bulu yang tidak kusam. Kondisi fisik juga harus diperhatikan, seperti tidak kurus, tidak buta, tidak cacat, serta struktur tanduk dan kaki yang normal.

“Pada kondisi ini masyarakat bisa melihat langsung dan memeriksa tanda-tandanya dengan bertanya ke penjual. Tidak apa-apa detail agar pasti kondisinya sehat,” pungkasnya. (ris)