Berita Bekasi Nomor Satu

Arena Skateboarb di Kawasan Creative Center Terbengkalai, Komunitas: Sejak Awal Tidak Layak

RUMPUT LIAR: Seorang warga melintas di area skatepark dan BMX dipenuhi rumput liar di kawasan Gedung Creative Center, Bekasi Timur, Kota Bekasi, belum lama ini. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Arena skateboard dan BMX di kawasan Creative Center, Jalan Lapangan Serbaguna, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi memprihatinkan.

Fasilitas olahraga ekstrem yang diresmikan pada 2022 itu tampak terbengkalai, rusak, dan nyaris tanpa aktivitas pengunjung.

Pantauan di lokasi menunjukkan permukaan lintasan skateboard dipenuhi noda kusam, genangan air, cat mengelupas, serta coretan vandalisme di sejumlah titik.

Beberapa bagian beton lintasan juga terlihat retak dan dipenuhi tanah maupun daun kering akibat minimnya perawatan.

Kondisi yang lebih parah terlihat di arena BMX. Sejumlah cekungan lintasan dipenuhi genangan air hujan hingga menyerupai kolam. Lumut dan rumput liar juga mulai tumbuh di beberapa sisi arena, menambah kesan kumuh dan tidak terawat.

Padahal, kawasan Creative Center sebelumnya digadang-gadang menjadi ruang kreatif sekaligus fasilitas olahraga bagi anak muda di Kota Bekasi. Namun, seiring berjalannya waktu, fasilitas tersebut justru semakin jarang digunakan.

Founder Patriot Skate Club 95 Bekasi, Ade Tri Utama atau yang akrab disapa Odeng, menilai skatepark tersebut sejak awal tidak dibangun sesuai standar arena skateboard profesional.

“Sejak hari pertama beroperasi memang skatepark ini tidak layak dari sisi teknik pengerjaan maupun material yang digunakan,” ujar Odeng.

Menurutnya, komunitas skateboard Bekasi hanya sempat menggunakan arena tersebut dalam dua kegiatan, yakni perayaan Hari Skateboard Dunia dan FDR Skateboard League. Itu pun harus didahului dengan perbaikan dan perawatan secara mandiri oleh komunitas.

Odeng mengungkapkan kerusakan sudah mulai terlihat tidak lama setelah fasilitas diresmikan.

“Enggak sampai sebulan setelah peresmian sudah banyak yang rusak. Bahkan area bowl sejak awal tidak bisa digunakan,” katanya.

Ia menilai konsep pembangunan kawasan Creative Center sebenarnya cukup baik karena menggabungkan arena skateboard, BMX cross, taman, lapangan multiguna, dan gedung serbaguna dalam satu kawasan. Namun, kualitas pengerjaan di lapangan dinilai tidak sesuai dengan perencanaan awal.

Menurut Odeng, persoalan utama bukan terletak pada konsep, melainkan pelaksanaan pembangunan yang tidak mengikuti standar konstruksi skatepark.

“Harusnya untuk ukuran skatepark sebesar itu bisa digunakan untuk kompetisi dan bertahan tiga sampai lima tahun dengan perawatan minimal,” ujarnya.

Karena kondisi arena yang dinilai membahayakan, komunitas skateboard Bekasi kini lebih memilih berlatih di sejumlah skatepark yang berada di bawah kolong flyover di berbagai wilayah Kota Bekasi.

“Sudah setahun terakhir kami jarang ke sana karena banyak serpihan semen, beberapa bagian rusak, dan pencahayaan juga kurang,” kata Odeng.

Kondisi tersebut turut disayangkan warga sekitar. Salma (27), salah seorang warga, menilai fasilitas publik yang dibangun menggunakan anggaran besar seharusnya mendapat perhatian dan perawatan rutin.

“Sayang sekali karena ini fasilitas pemerintah. Kalau tidak dirawat, anggaran yang sudah dikeluarkan jadi sia-sia,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus membangun fasilitas baru, tetapi juga memastikan sarana yang sudah ada tetap terawat dan dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Terkadang yang dibangun banyak, tapi perawatannya kurang. Akhirnya terbengkalai dan tidak digunakan lagi,” katanya.

Hingga kini, kondisi skatepark yang pernah menjadi salah satu ikon Creative Center Kota Bekasi itu masih menunggu perhatian dan langkah perbaikan dari pemerintah daerah. (rez)