RADARBEKASI.ID, BEKASI – Rumah Sakit (RS) Budi Lestari menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi ultrasonografi (USG) berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Inovasi rumah sakit yang berlokasi di Jalan Kh Noer Ali, Bekasi Selatan, Kota Bekasi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pemeriksaan kehamilan melalui hasil diagnosis yang lebih cepat, akurat, dan presisi.
Consultant in Reproductive Endocrinology, Fertility & Assisted Reproductive Technology (ART), dr. Binarwan Halim, mengatakan perkembangan AI kini telah merambah dunia kedokteran, termasuk teknologi USG. Kehadiran AI tidak hanya mempermudah dokter saat melakukan pemeriksaan, tetapi juga meningkatkan kualitas hasil diagnostik.
Reproductive Endocrinology, Fertility & Assisted Reproductive Technology (ART), dr. Binarwan Halim, mengatakan perkembangan AI kini telah merambah dunia kedokteran, termasuk teknologi USG.
Kehadiran AI tidak hanya mempermudah dokter saat melakukan pemeriksaan, tetapi juga meningkatkan kualitas hasil diagnostik.
“Gunanya untuk apa? Pertama mempermudah dokternya, yang kedua meningkatkan presisi, ketepatan dalam diagnostik, ketiga meningkatkan akurasi daripada diagnostik, dan keempat efisiensi waktu,” ujar Binarwan, Minggu (19/7).
Menurutnya, AI juga mampu menghasilkan tampilan gambar janin yang lebih realistis dibandingkan USG konvensional.
Selama ini hasil USG, bahkan yang sudah menggunakan teknologi tiga dimensi, masih kerap terlihat abstrak bagi masyarakat awam.
“Jadi dengan AI ini segala sesuatunya itu bisa dimunculkan dalam bentuk yang nyata sampai muka seorang bayi itu menjadi kelihatan seperti nyata,” katanya.
Visualisasi yang lebih nyata itu, lanjut Binarwan, turut membantu membangun ikatan emosional (bonding) antara ibu dan janin.
Calon ibu dapat melihat gambaran bayinya dengan lebih jelas sehingga proses pemeriksaan menjadi pengalaman yang lebih bermakna.
“Selain meningkatkan presisi, AI juga meningkatkan bonding antara ibu dan janin. Ibu bisa melihat anaknya dalam bentuk yang lebih nyata sehingga rasa kasih sayangnya juga akan lebih tinggi,” ucapnya.
Tak hanya itu, AI juga mempercepat proses pemeriksaan. Sistem secara otomatis menangkap gambar organ-organ penting janin, seperti kepala, otak, mata, hingga jantung saat proses pemindaian berlangsung.
Dengan demikian, dokter tidak lagi memerlukan waktu lebih lama untuk mencari posisi organ secara manual.
“Jadi waktu yang kita lakukan untuk melakukan USG itu lebih pendek. Dia menangkap gambar sendirinya, kepala langsung ditangkap, otak langsung ditangkap, mata langsung ditangkap, jantung langsung ditangkap. Itu akan sangat mempermudah dokter,” jelasnya.
Binarwan memastikan teknologi tersebut tetap aman digunakan karena USG memanfaatkan gelombang suara, bukan radiasi seperti pemeriksaan sinar-X.
“USG itu energinya adalah suara. Jadi tingkat risikonya sangat rendah. Dengan AI malah lebih bagus karena paparannya akan lebih cepat,” katanya.
Sementara itu, dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Budi Lestari, dr. Allan Taufiq Rivai, menegaskan teknologi AI bukan untuk menggantikan pemeriksaan USG konvensional, melainkan membantu meningkatkan efisiensi dan ketepatan diagnosis.
“Sebenarnya kalau suatu kemajuan itu bukan berarti akan menggantikan yang sebelumnya sama sekali. Justru ini sebenarnya efisiensi. Kita bisa kerja lebih cepat, kemudian lebih precise,” ujarnya.
Menurut Allan, teknologi AI juga membuat pasien lebih terlibat selama proses pemeriksaan. Jika sebelumnya hasil USG lebih mudah dipahami oleh dokter, kini calon ibu dapat melihat kondisi janinnya dengan visual yang lebih jelas sehingga lebih memahami setiap tahapan pemeriksaan.
“Pasien jadi seperti melihat ikut proses pemeriksaan itu. Dia jadi ikut merasakan atau ikut melihat dengan lebih detail bayinya seperti apa. Kalau dulu melihat USG hanya hitam putih dan tidak terlalu jelas, sekarang dengan bantuan AI jauh lebih memudahkan pasien dan tentunya juga dokter,” pungkasnya. (rez/adv).











