Berita Bekasi Nomor Satu

Ruang Redaksi Dituntut Menjaga Akurasi dan Beradaptasi

Penanggung Jawab Tribunnews.com sekaligus Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network, Domu D. Ambarita, saat menjadi narasumber dalam Workshop Literasi Keuangan Forum Pimred Indo Satu Media Grup di Vue Palace, Kota Bandung, Sabtu (18/7/2026). FOTO:  TAOFIK ACHMAD/RADAR BANDUNG

RADARBEKASI.ID, BANDUNG – Menjaga akurasi dan kemampuan beradaptasi dinilai menjadi kunci bertahannya industri media di tengah penurunan page views dan perubahan perilaku pembaca. Disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), fenomena zero click, hingga bergesernya cara masyarakat mengonsumsi informasi menjadi tantangan terbesar yang kini dihadapi industri media arus utama.

Kondisi tersebut menuntut perusahaan pers meninggalkan pola lama yang mengutamakan kecepatan semata dan beralih pada jurnalisme yang lebih akurat, berkualitas, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.

Penanggung Jawab Tribunnews.com sekaligus Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network, Domu D. Ambarita, mengatakan perubahan lanskap digital tidak hanya mengubah cara masyarakat mengakses informasi, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan bisnis media.

Menurut Domu, salah satu persoalan yang kini semakin sering dihadapi ruang redaksi adalah meningkatnya permintaan take down berita. Berdasarkan pengalamannya selama lebih dari dua dekade di dunia jurnalistik, permintaan pencabutan berita umumnya dipicu oleh tiga faktor, yakni kepentingan penguasa, kepentingan bisnis internal perusahaan, atau kesalahan redaksi yang memicu tekanan publik.

Domu mengaku telah menghadapi berbagai dinamika pemberitaan sejak memulai karier sebagai jurnalis tahun 1999. Pengalaman meliput konflik Sampit selama 12 hari dengan fasilitas terbatas hingga bertugas di Metro Bandung periode 2001-2005 menjadi bekal penting dalam memahami akurasi merupakan fondasi utama sebuah produk jurnalistik.

“Tantangan terbesar ruang redaksi saat ini bukan hanya kecepatan, tetapi bagaimana menjaga akurasi di tengah derasnya arus informasi digital. Kesalahan kecil bisa berujung pada permintaan take down, ajudikasi, bahkan sengketa di Dewan Pers,” ujar Domu saat menjadi narasumber dalam Workshop Literasi Keuangan Forum Pimred Indo Satu Media Grup di Vue Palace, Kota Bandung, Sabtu (18/7/2026).

Domu menjelaskan Tribun Network melakukan perubahan besar terhadap sistem kerja redaksi setelah mengevaluasi dampak algoritma Google yang pada masa lalu lebih mengutamakan kecepatan publikasi dibanding kualitas informasi. Sejak portal regional dikembangkan tahun 2014, setiap jurnalis memang ditargetkan menghasilkan sedikitnya 15 berita per hari sehingga proses verifikasi kerap menjadi tantangan tersendiri.

Domu pun mengatakan kondisi mendorong lahirnya Deklarasi Bogor 2023, sebuah kebijakan internal yang melarang wartawan Tribun mengutip langsung informasi dari media sosial sebagai sumber berita. Seluruh informasi yang beredar di platform digital kini hanya boleh dijadikan petunjuk awal dan wajib diverifikasi melalui konfirmasi kepada pemilik akun maupun pihak yang diberitakan.

“Media sosial hanya menjadi titik awal pencarian informasi. Sebelum dipublikasikan, seluruh data harus dikonfirmasi kepada pihak terkait agar produk jurnalistik tetap memenuhi kaidah kode etik,” katanya.

Domu menjelaskan perubahan kebijakan memberikan hasil positif. Jika tahun 2023 pihaknya hampir setiap bulan menghadapi proses klarifikasi maupun ajudikasi di Dewan Pers, sepanjang 2026 kasus yang ditanganinya hanya satu, terkait klaim hak cipta foto dari seorang fotografer Inggris pada pemberitaan peristiwa Rempang.

Selain persoalan etika, Domu mengungkapkan industri media juga menghadapi tekanan bisnis yang semakin berat. Penurunan page views terjadi hampir di seluruh perusahaan media digital setelah perubahan algoritma mesin pencari dan meningkatnya penggunaan AI dalam pencarian informasi.

Domu mencontohkan sejumlah media nasional mengalami penurunan trafik antara 30 hingga 50 persen. Bahkan, page views Tribun Network yang pernah mencapai sekitar 33 juta per bulan pada masa puncaknya kini hanya bertahan sekitar 50 hingga 60 persen dibanding capaian sebelumnya. Kondisi serupa juga dialami berbagai perusahaan media lain yang akhirnya melakukan efisiensi, pengurangan karyawan, hingga menghentikan penerbitan media cetak.

“Sekarang tantangannya bukan hanya AI, tetapi juga zero click. Orang mendapatkan jawaban langsung dari mesin pencari tanpa harus membuka website media. Karena itu kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada page views,” ungkapnya.

Domu menilai perubahan merupakan bagian dari siklus disrupsi teknologi sebagaimana teori Clayton Christensen, inovasi baru akan menggantikan teknologi sebelumnya. Ia mencontohkan hilangnya pager, meredupnya BlackBerry, hingga berubahnya model bisnis media sosial setelah Facebook menghentikan fitur Instant Articles yang sebelumnya menjadi salah satu sumber pendapatan media.

Meski demikian, Domu optimistis media arus utama tetap memiliki masa depan selama mampu beradaptasi. Perusahaan pers harus membangun paradigma baru yang tidak hanya mengejar jumlah pembaca, tetapi juga memperkuat kualitas konten, mengembangkan format video, media sosial, serta sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.

“Pers harus tetap eksis sebagai penerang kehidupan demokrasi. Tanpa pers yang bebas dan bertanggung jawab, masyarakat akan kehilangan referensi yang benar dalam memperoleh informasi,” tegas Domu.

Workshop Literasi Keuangan Forum Pimred Indo Satu Media Grup diikuti jajaran direksi, general manager, divisi redaksi, pemasaran, iklan, dan keuangan dari seluruh unit usaha Indo Satu Media Grup. Kegiatan yang berlangsung di Kota Bandung itu mendapat dukungan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), BRI, bank bjb, bank bjb syariah, PLN Indonesia Power, PLN UIP3B Jawa Bali UP2B Jabar, Sierra, Yamaha Jabar, dan Telkomsel.(dsn)