Berita Bekasi Nomor Satu

Harga Kebutuhan Pokok Naik, Warga Bekasi Tekan Pengeluaran

HARGA MINYAK NAIK: Pedagang sembako melayani pembeli di Pasar Kranji Baru, Bekasi Barat. Kenaikan harga minyak goreng kemasan yang mencapai Rp5.000 hingga Rp7.000 per kemasan. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Melonjaknya harga kebutuhan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta gejolak ekonomi global, dirasa turut menurunkan daya beli masyarakat.

Kondisi itu juga dirasakan di salah satu pasar tradisional di Kota Bekasi. Pembeli mengaku harus menghemat pengeluaran, apalagi sejumlah kebutuhan merangkak naik.

Salah seorang pembeli, Ristiani (35), mengaku harus lebih berhemat sejak beberapa bulan terakhir karena harga kebutuhan sehari-hari terus meningkat sementara pendapatannya dari berjualan pakaian secara daring tidak mengalami kenaikan.

“Pendapatan jualan saya gitu-gitu aja, tapi kondisi bahan pokok naik terus. Jadi harus lebih irit keluarin uang,” katanya.

Ristiani berharap harga kebutuhan pokok dapat kembali stabil agar beban masyarakat tidak semakin berat. “Harapannya sih harga normal lagi ya, semua sektor. Tidak hanya sembako, oli kendaraan juga infonya naik harganya. Mudah-mudahan bisa turun lagi,”sambungnya.

Seorang pedagang sembako di Pasar Kranji Baru, Kecamatan Bekasi Barat, Ita turut merasakan imbas kenaikan harga. Selain untung semakin menipis, jumlah pembeli cenderung menurun.

Menurut Ita, kenaikan harga tidak diikuti peningkatan daya beli masyarakat. Bahkan menjelang Idul Adha lalu, banyak pedagang mengeluhkan pasar yang mulai sepi pembeli.

“Apalagi sekarang sudah mulai sepi. Sebelum Idul Adha juga pedagang banyak yang ngeluh,” katanya.

Terpisah, Analis Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi, Eko Wijatmiko menyampaikan beberapa komoditas yang terpantau mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir diantaranya cabai rawit merah, kedelai impor, serta MinyaKita.

“Untuk sementara harga Bapok yang tinggi cabe rawit merah dan kacang kedelai impor, selebihnya masih relatif stabil,” ungkapnya.

Harga MinyaKita di pasaran saat ini terpantau di atas Rp18 ribu. Kenaikan harga sejumlah komoditas tidak lepas dari gejolak ekonomi global, termasuk bahan baku plastik untuk kemasan yang harganya melonjak.

Lebih lanjut Eko menyampaikan Disdagperin secara rutin memantau perkembangan harga di pasar. Langkah intervensi seperti pasar murah akan dilakukan saat mayoritas komoditi mengalami lonjakan harga diatas lima persen.

“Untuk komoditas lain terpantau masih dalam kondisi stabil, pemantauan terus kita lakukan secara rutin,” tambahnya.

Sementara, fluktuasi harga komoditi terpantau di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) sepekan terakhir. Daging ayam ras segar terpantau mengalami dua kali penurunan harga dari Rp37.500 di awal bulan Juni menjadi Rp35.500 di tanggal 9 Juni.

Telur ayam ras segar, turun tipis ke harga Rp27 ribu di tanggal 9 Juni dari Rp27.500 di awal Juni. Sementara, meski terbilang masih tinggi, bawang merah sempat mengalami penurunan dari Rp63.750 di tanggal 1 Juni ke Rp58.750. Sedangkan bawang putih pada tanggal 9 Juni naik di Rp37.750 dari harga Rp33.250 di awal bulan.

Sementara cabai merah besar dan keriting masing-masing berada di harga Rp70 ribu dan 53.750. Cabai rawit hijau turun dari harga Rp61.250 ke 52.500. Sedangkan cabai rawit merah masih bertahan tinggi di harga Rp75 ribu meskipun turun dari harga Rp110 ribu di awal bulan Juni. (rez/sur)