Berita Bekasi Nomor Satu

Pabrik Al-Qur’an Dunia

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Rasa penasaran sekaligus takjub menyelimuti rombongan kami saat memasuki Kompleks Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd di Madinah. Pagi itu, para jemaah tampak antusias berjalan beriringan menuju gerbang kompleks percetakan Al-Qur’an terbesar di dunia. Sebelum masuk, kami terlebih dahulu mengantre untuk mencuci tangan, sebuah prosedur sederhana yang mencerminkan penghormatan terhadap mushaf suci yang diproduksi di tempat tersebut.

Dari pintu masuk, petunjuk arah bagi pengunjung terlihat sangat jelas. Tulisan “Jalur untuk Pengunjung” dan “Masuk” terpampang dalam beberapa bahasa, termasuk Indonesia dan Inggris. Begitu pula ketika hendak keluar, tersedia petunjuk dalam bahasa Arab, Indonesia, dan Inggris yang memudahkan para tamu dari berbagai negara.

Kompleks yang berlokasi sekitar 11 kilometer dari Masjid Nabawi ini berdiri di atas lahan seluas 250 ribu meter persegi. Di dalamnya terdapat gedung percetakan, kantor administrasi, gudang, perpustakaan, masjid, restoran, pusat ilmiah, hingga fasilitas pendukung lainnya. Tempat ini didirikan sebagai jawaban atas kebutuhan umat Islam dunia terhadap mushaf Al-Qur’an yang berkualitas dan terstandar.

Saat memasuki area kunjungan, kami diarahkan menuju lantai dua gedung percetakan. Dari sinilah para pengunjung dapat menyaksikan langsung proses produksi mushaf Al-Qur’an. Namun, akses ke area produksi hanya diperbolehkan bagi pengunjung pria. Sementara itu, pengunjung wanita diarahkan ke area workshop dan pusat penjualan yang berada di dekat gerbang kompleks.

Dari balik kaca pengamatan, tampak deretan mesin cetak berukuran besar bekerja tanpa henti. Suara mesin terdengar berirama, mengiringi lembar demi lembar Al-Qur’an yang dicetak dengan tingkat presisi sangat tinggi. Bentuk bangunan ini lebih menyerupai gudang raksasa yang dipenuhi teknologi modern.

Di lantai dasar, terlihat tumpukan lembaran mushaf yang telah dicetak namun belum dipotong. Tingginya mencapai tiga hingga empat meter. Pemandangan itu membuat saya terdiam beberapa saat. Sulit membayangkan jutaan mushaf yang nantinya akan tersebar ke berbagai penjuru dunia berawal dari lembaran-lembaran kertas yang tersusun rapi di hadapan kami.

Setiap proses produksi dilakukan dengan pengawasan ketat. Ribuan pekerja terlibat di dalamnya, termasuk para ulama dan penghafal Al-Qur’an yang bertugas memastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun dalam setiap halaman yang dicetak. Jika ditemukan kekeliruan meski hanya satu huruf, hasil cetakan tersebut langsung dipisahkan dan tidak akan didistribusikan.

Kompleks yang mulai beroperasi pada 1984 ini berada di bawah koordinasi Kementerian Urusan Agama, Wakaf, Dakwah, dan Penyuluhan Kerajaan Arab Saudi. Dalam operasionalnya, percetakan mampu memproduksi jutaan mushaf setiap tahun. Bahkan, dengan sistem kerja 24 jam dan dukungan mesin berkapasitas besar, produksi dapat mencapai puluhan juta eksemplar setiap tahunnya.

Tidak hanya mencetak mushaf berbahasa Arab, percetakan ini juga menghasilkan Al-Qur’an terjemahan dalam puluhan bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia. Selain itu tersedia pula versi braille untuk tunanetra, rekaman audio, hingga format digital yang dapat diakses lebih luas oleh umat Islam.

Kunjungan kami berlangsung sekitar 15 menit. Meski singkat, pengalaman itu meninggalkan kesan yang mendalam. Setiap rombongan memang dibatasi sekitar 15 hingga 20 orang demi menjaga ketertiban dan kesucian proses produksi. Pengunjung diperbolehkan melihat langsung proses pencetakan, tetapi tidak diperkenankan menyentuh mushaf yang sedang diproduksi.

Ada satu hal yang paling ditunggu para jemaah di akhir kunjungan. Setiap pengunjung memperoleh satu mushaf Al-Qur’an secara gratis sebagai kenang-kenangan.

Di area workshop, berbagai jenis mushaf juga dijual dengan harga yang relatif terjangkau. Salah seorang jemaah mengaku harga di kompleks ini jauh lebih murah dibandingkan toko-toko di sekitar Masjid Nabawi.

“Di sini harganya lebih murah. Di toko-toko dekat Haram rata-rata menjual sekitar 60 riyal,” katanya.

Saat meninggalkan kompleks, saya membawa lebih dari sekadar sebuah mushaf. Saya membawa pengalaman berharga tentang bagaimana Al-Qur’an diproduksi dengan penuh kehati-hatian, ketelitian, dan penghormatan. Di tempat inilah saya menyaksikan bahwa setiap lembar mushaf yang sampai ke tangan umat Islam di berbagai belahan dunia lahir dari proses panjang yang dijaga dengan amanah dan kecintaan terhadap Kalamullah.(*)